Nama lengkapnya adalah
Abul Qasim al Junaid ibnu Muhammad al Khazzaz al Nihawandi, atau dia lebih
popular dengan sebutan Junaid al Baghdadi.
Bapaknya
sih, seorang pedagang barang pecah belah, tapi saat yang sama, Junaid juga
keponakan dari Sarri as Saqathi, yang juga kondang sebagai sufi besar.
Belakangan, Junaid juga memimpin sebuah mazhab sufi yang besar dan berpengaruh.
Ia wafat di Baghdad
pada tahun 298 H/ 910 M. salah satu keistimewaan Junaid, dia dikenal mempunyai
keikhlasan yang luar biasa banget. Kisah ini adalah contohnya.
Ceritanya,
suatu malam seorang pencuri memasuki kamar Junaid. Setelah longok sana longok sini, itu
maling ngeliat nggak ada apa-apa di dalam kamar Junaid kecuali sehelai pakaian.
Dasar maling, pakaian cuma segitu-gitunya disikat juga! Maka, saat Junaid
terbangun besok paginya, dia juga langsung sadar alo pakaian kesayangannya itu
udah raib dicuri orang.
Tapi Junaid
santai aja. Tak lama kemudian dia keluar untuk satu keperluan, dan lewat di
sebuah pasar. Eh, Junaid lantas melihat, pakaiannya ada di tangan seorang
pedagang, yang tengah menawarkannya pada seorang lelaki. Junaid mendekat untuk
memastikan. Wah, ternyata bener! Nah, saat dia mendekat itulah, Junaid denger
si calon pembeli ngomong gini:
“Sebelum
membelinya, saya pengen kamu menghadirkan seorang untuk bersaksi, kalo pakaian
ini emang bener-bener milik kamu.”
Nah lho! Si
pedagang langsung garuk-garuk kepala. Terang aja dia bingung, wong itu baju
juga dia dapat dari maling! Istilah sekarang sih, dia emang tukang tadah. Tapi,
gimana mau ngaku, coba? Nah, mendengar itu, Junaid langsung mendekat dan
berkata,
“saya siap
untuk bersaksi kalo pakaian ini emang bener-bener miliknya.”
Wah, lelaki
itu seneng banget. Apalagi yang bersaksi itu orang soleh macem Junaid! Akhirnya
dia jadi membeli pakaian itu. Junaid tersenyum, dan dengan entengnya, diapun
pergi.
Nah, kisah
ini Cuma sekedar gambaran kalo diantara ciri-ciri yang sangat kental dari para
sufi adalah keikhlasannya dalam berbuat kebajikan. Mungkin contoh Junaid ini
rada ekstrim kali ya, kok baju sendiri aja rela dilepas? Tapi hemat saya,
esensi perbuatan Junaid adalah keikhlasannya berbuat baik pada orang lain,
meski kelihatannya itu merugikan diri sendiri.
Dan, kalo
aja diantara kita udah punya sifat kayak gini, seneng berbuat baik dengan
ikhlasan karena Allah, ya jangan heran kalo Allah SWT akhirnya jadi sayang sama
yang bersangkutan, karena: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
berbuat kebajikan….” Gitu berulang-ulang dibilang dalam Al-Qur’an.
Dan, ini
janji Al Qur’an juga nih: “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah
(maksudnya kebaikan), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri;
dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi dirinya
sendiri…” (17:15)
Bahkan,
“Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh yang lebih baik dari
padanya,” (27:89)
Guys, yakin
deh, meski nggak ada yang tahu kita lagi berbuat baik, Allah SWT pasti tahu,
dan pasti Allah SWT bakal bales. Kalo nggak yakin, jalanin aja dan nantinya
kejutan demi kejutan dalam hidup kamu!
Kisah
ini juga lagi-lagi menunjukkan kerendahhatian yang justru jadi cirri yang
kental dari seorang sufi yang soleh.
Oya,
sebelum kamu bingung, kisah ini kayaknya lebih merupakan perlambangan, karena
lucu juga kalo tiba-tiba anjing bisa ngomong. Kayak di film Hollywood
aja.
Maksud saya
gini. Konon, suatu hari, Abu Yazid lagi jalan-jalan ketika seekor anjing
berlari di sampingnya. Abu Yazid spontan mengangkat jubahnya, karena takut kena
najis. Sebetulnya sih, mungkin tindakan itu wajar aja, kan? Melihat hal itu, eh, nggak
disangka-sangka, si anjing tiba-tiba ngomong,
“Kalo saya
kering, saya sama sekali nggak merugikan kamu. Kalo saya basah, tujuh air dan
tanah akan mendamaikan kita. Tapi kalo kamu mengangkat jubahmu seperti orang
yang sok suci dan munafik, kamu nggak bakal pernah jadi bersih, nggak bakal
pernah, walaupun kamu mandi di tujuh samudera.”
Abu Yazid
kaget, tapi beliau buru-buru sadar kalo ini bukan adegan film ‘dr. Doolittle’
nya Eddy Murphy. Eh , maksud saya, Abu Yazid sadar, ini anjing ngomong gini,
pasti ada yang nyuruh. Jadi, dengan menahan malu, beliau bilang, “ Kamu nggak
suci di luar, sedangkan saya nggak suci di dalam. Mari kita bekerja sama.
Semoga usaha bersama kita berdua menjadikan kita berdua suci.”
“Kamu nggak
patut jadi rekanku dan berkelana bareng aku, “ jawab anjing itu, “karena aku
ditolak oleh seluruh manusia, sedangkan kamu diterima dikalangan manusia. Setiap
orang yang berpapasan denganku bakal melempar batu ke arahku; mereka itulah
yang menjulukimu raja para sufi. Tapi, aku nggak pernah menyimpan sepotong
tulangpun untuk esok hari. Sedangkan kamu, menimbun satu tong penuh gandum buat
esok hari.”
Bisa aja
ya, anjing itu ngomong? Seolah-olah dia mau bilang, meski dia (anjing) di
pandang hina di mata manusia, kalo soal yakin sama rejeki Allah, dia (anjing)
lebih yakin ketimbang Abu Yazid, gitu kira-kira maksudnya.
Sebetulnya,
soal kepasrahan diri terhadap Allah ini merupakan tema favorit kaum sufi,
sehingga diantara mereka kadang-kadang suka rada-rada ekstrim dalam bersikap. Maksudnya,
kalo emang pasrah dan yakin bakal sama rejeki Allah, jangan sampai nimbun
makanan, dong! Kayak nggak yakin aja kalo besok Allah bakal ngasih elo rejeki!
Gitu maksudnya.
Tapi hemat
saya, nggak perlu seekstrim itu, karena biar bagaimanapun, Allah juga nyuruh
kita mempersiapkan diri buat hari esok, kok! (QS. Al Hasyr (59) : 18)
Tapi
okelah, kembali ke kisah Abu Yazid dan anjing itu. Konon jawaban seekor anjing
itu bikin Abu Yazid rada-rada syok juga.
“Aduh saya
nggak pantes untuk beperjalanan bersama seekor anjing”, ujar Abu Yazid, saking
merasa malunya udah bersikap rada sombong, “lalu bagaimana mungkin saya
berjalan sama Sang Abadi dan Kekal? Maha Suci Allah, yang mendidik makhluk
terbaik dengan perantara makhluk terburuk”.
Hati Abu
Yazid begitu sedihnya, sampe dia merasa kehilangan harapan untuk menjadi hamba
Allah yang patuh juga sampai-sampai dia bilang sama dirinya sendiri,
“Saya akan
pergi ke pasar dan membeli sebuah korset (biasa dikenakan sebagai cirri
orang-orang non-muslim pada saat itu), saya akan ikat pinggang saya dengannya,
agar reputasi saya pudar dimata manusia”. Maksudnya apa, Abu Yazid sampe begitu
kerasnya pengen menghukum diri, gara-gara malu bersikap sombong kayak gitu!
Maka Abu
Yazid pun pergi mencari korset. Dan di sebuah took di pasar, dia lihat orang
yang menjual korset. Abu Yazid pikir, “paling-paling harga korset ini Cuma satu
dirham.
“Berapa
harga korset ini?”Tanyanya pada si penjual.
“Sribu
dinar, “ jawab si penjual.
“Terang aja
Abu Yazid kaget. MAHAL BENER! Sampai-sampai dia menundukkan kepala saking
kagetnya, kok jadi gini? Nah, di saat itulah Abu Yazid mendengar bisikan,
“Abu Yazid,
kamu sadar nggak?mereka nggak akan menjual korset untuk mengikat punggung
orang-orang seperti kamu seharga kurang dari seribu dinar!”
Mendengar
hal itu, hati Abu Yazid gembira, karena akhirnya dia sadar, kalo Allah peduli
sama hamba-Nya. Jadi, intinya jangan cepat dan gampang putus asa, kalo ngerasa
pernah berbuat salah.
Inget lho,
kasih sayang dan ampunan Allah, lebih dari yang kita bayangkan, kok!
Kisah ini tentang
Abu Yazid Busthami, (yang sama sekali nggak ada hubungannya sama Iyet Bustami,
penyanyi dangdut pelantun “Laksamana diraja”itu).karena ketaatannya dan
ibadahnya yang luar biasa, sampai-sampai beliau dijuluki ‘Raja Sufi’.
Nah,
meski begitu, namanya ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Nah, beliau tuh terkenal
sering pergi berziarah ke berbagai perkuburan. Tujuannya, apalagi kalo bukan
inget mati, nyadar diri, etc.
Suatu
malam, waktu beliau dalam perjalanan kembali dari ziarah, seorang pemuda
bangsawan mendekat sambil main gambus. Ini anak muda, anak orang kaya alias
bangsawan, dan lagi mabok berat.
Spontan,
Abu Yazid ngomong, “Ya Allah, selamatkan kami.”
Eh,
namanya juga orang lagi mabok, mendengar kata-kata Abu Yazid itu, sang anak
muda itu kontan meradang. Tanpa ba-bi-bu, dia pukul tuh gambusnya ke kepala Abu
Yazid.
Prakkkk!
Saking
kerasnya, pukulan itu melukai kepala Abu Yazid sampai berdarah. Dan saking
kerasnya, gambus itu sendiri sampai patah. Tapi, boro-boro minta maaf. Yah,
namanya juga orang mabok, anak muda itu langsung ngeloyor, dan nggak sadar,
siapa yang dipukulnya.
Marahkah
Abu Yazid, sang raja sufi itu? Wah, mungkin kalo kita udah manggil orang
sekampung buat membalas itu anak muda. Abu Yazid? Boro-boro. Beliau malah usap
kepalanya, membersihkan darah yang mengucur, lalu kembali kepada para
sahabatnya dan menunggu hingga pagi hari. Waktu pagi, beliau Tanya pada salah seorang
sahabatnya.
“Eh,
berapa sih, harga sebuah gambus?”
“Buat
apa? Apa kamu mau jadi musikus?” Tanya sahabatnya keheranan
“Ada aja,” ujar Abu Yazid
sambil tersenyum.
Tapi
akhirnya, sahabatnya itu kasih tahu juga, harganya sekian. AbuYazid
manggut-manggut, lalu ia membungkus uang sejumlah itu dengan sehelai pakaian,
menambahkan sepotong manisan, dan mengirim kurir pada si pemuda yang mabok dan
memukulnya tadi malam!
Pada
kurirnya, Abu Yazid berpesan,
“Tolong
bilang sama anak muda itu, kalo Abui Yazid memohon maaf. Katakana pesan saya
seperti ini, ‘ semalam kamu memukul kepalaku dengan gambusmu sampai patah. Terimalah
uang ini sebagai ganti rugi, dan belilah gambus baru. Sementara, manisan ini,
buat menhibur hati kamu, karena kamu pasti sedih banget, gara-gara gambus kamu
patah.”
Si
kuri berangkat, dan ketemulah sama anak muda tajir itu. Pesan Abu Yazidpun
disampaikan, dan terang aja si pemuda itu terkaget-kaget dapet balesan kaya’ gitu.
Saking
malunya, buru-buru anak muda itu dateng ke Abu Yazid, buat minta maaf. Abu
Yazid menerima anak muda itu dengan ramah, dan Karena sikap Abu Yazid yang
mengesankan, anak muda itu sampai bertobat, dan banyak anak muda lain yang ikut
bertobat bareng-bareng sama dia.
Kisah
ini mengesankan banget buat saya. Pertama, meski udah jadi orang alim, nggak
ada tuh, sikap Abu Yazid yang merendahkan pemuda itu. Perhatiin deh, do’anya
saat ngelihat anak muda itu lagi mabok, “Ya Allah, selamatkanlah kami,” bukannya,
“ Selamatkanlah dia,” ini bener-bener sikap yang rendah hati, yang emang
seperti itulah perintah Al-Qur’an:
“Orang-orang
yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari
kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan dia
lebih mengetahuimu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih
janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah
yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
Kedua,
kisah ini juga makin menyadarkan saya, kalo kita mau ngajak orang ke jalan
kebaikan, tetep aja mesti dengan cara-cara yang manis dan menyenangkan. Nggak
ada ceritanya, orang lagi asyik berdosa mau insaf justru di maki-maki, apalagi
dicela-cela pribadinya yang sedang berkubang dosa itu.
Sikap
Abu Yazid sebetulnya juga mencontoh sikap Nabi Muhammad SAW, yang akhirnya
banyak mengislamkan orang lain lewat perilakunya yang mengesankan, terhadap
orang –orang yang semula memusuhinya. Begitchu…….
Pada masa kejayaan
kekhalifahan Islam Abbasiyah, ada seorang pemuda bernama Basyir. Ia tinggal di
sebuah desa di kaki pegunungan, yang letaknya dua hari perjalanan unta dari kotaBaghdad.
Basyir ini
dikenal sebagai pemuda yang tampan, saleh, rajin, dan ringan tangan. Ups, ini
bukanya suka memukul, tapi maksudnya suka menolong, gitu. Kalo ngeliat ada
orang tua yang kepayahan membawa barang bawaan dari pasar, Basyir buru-=buru
nawarin bantuan. Zaman itu, bawa air biasanya buat minum biasanya pakai
gerabah. Nah, kalo ada orang tua yang keberatan memanggulnya di kepala, Basyir
juga nggak segan-segan ngebantuin.
Kalo
selesai shalat Ashar sampe waktu masuk maghrib, ia belajar di madrasah
ulama-ulama terkemuka di desanya. Ia juga dikenal cerdas, sehingga nggak heran
kalo diantara teman-temannya, Basyir jadi tempat bertanya perihal Ilmu-ilmu
agama.
Sama
anak-anak kecil, ia juga tekenal sayang, tak jarang, ia sengaja membeli
kue-kue, gula-gula atau kismis untuk dibagi-bagikan. Wah, pokoknya dia ini
pemuda ideal banget, deh.
Basyir
sendiri hidup sama kedua orang tuanya yang sudah tua. Usai shalat shubuh, dia
udah sibuk melakukan berbagai pekerjaan rumah: mulai dari nimba air dari sumur
ke penampungan, sampai menggiling gandum buat keperluan makan sehari-hari. Setelah
itu, ia bakal siap-siap menuju lading gandum milik keluarganya. Lading itu
adanya di kaki bukit, yang di tengah-tengahnya mengalir sungai dangkal namun
cukup deras. Pohon-pohon sitrun dan zaitun tumbuh berderet-deret rapi di
sisi-sisi lading, menjadi tempat yang nyaman bagi burung-burung untuk membuat
sarang. Menjelang tengah hari, biasanya sang ibu bakal mengutus seorang anak
kecil untuk membawa makan siang untuk Basyir.
Suatu hari,
matahari baru saja tergelincir dari atas kepala, shalat dzuhur juga baru kelar
ia tunaikan. Basyir duduk di bawah sebatang pohon yang rindang, di sisi sungai.
Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Kakinya menjuntai, masuk ke dalam air
sehingga air mengalir sejuk di sela-selanya. Uh, segar. Apalagi, jam-jam
segini, mustinyasi Ali, anak kecil yang biasanya nganterin makanan siangnya,
udah nongol. Perutnya sendiri udah mulai kriuk-kriuk.
Lama dia
menunggu, mana nih, si Ali kecil? Zaman itu belum ada HP, jadi boro-boro dia
bisa kirim SMS. Basyir Cuma bisa melotot ke kejahuan, berharap si Ali kecil
nongol.
Namun,
sia-sia. Ya, dia nggak tahu kalo hari itu si Ali mendadak sakit, sehingga dia
emang nggak bisa jalan ke luar rumah. Saat itulah, ia memandang permukaan
sungai. Matanya tertumpu pada sebuah benda bulat kemerahan yang timbul
tenggelam terbawa arus.
“ Subhanallah, apaan tuh? Keliahatannya kayak
buah apel!” pikirnya.
Tanpa pikir
panjang, Basyir melompat ke sungai yang airnya Cuma setinggi lutut. Allah Maha
Pmurah. Benda itu ternyata emang benar sebuah apel merah sebesar kepalan
tangan. Segar.
“Waduh,
rejeki, nih!” serunya girang pula. Karena lapar, bismillaah, ia cepat-cepat
melahapnya. Nikmat…….
Eh, baru
juga beberapa gigitan, Basyir ingat sesuatu.
“Astaghfurullah,
siapa pemilik apel ini? Sayakan belum minta izin sama yang punya.” Basyir
nyaris tersedak. Reflek, ia buang sisa apel yang masih ada di mulutnya. Tapi
kan, sebahagian sudah melengang masuk dalam perutnya. Ini yang membuat Basyir
pucat pasi. “ Ya Allah, ampuni saya! Saya udah makan makanan yang bukan hak
saya.”
Basyir
sadar, ia harus minta keikhlasan dari pemilik apel itu. Kalo nggak, apel itu
udah jadi barang haram baginya. Aduh! Basyir ingat pelajaran di madrasahnya.
Sabda Nabi, jika barang haram yang termakan, maka akan menjadi daging yang di
bakar oleh api neraka.
Cemas dan
khawatir, Basyir bangkit. Rasa laparnya sekonyong-konyong raib entah kemana.
Tekadnya udah bulat.
“saya mesti
temuin orang yang punya apel ini, minta keikhlasan dari pemiliknya, “ gumamnya.
Sisa apel yang belum dimakan di ambil lagi dan dia kantungi. Basyir lantas
pergi menyusuri tepi sungai, berjalan mendaki kea rah hulu sungai. Ia ingat
pada sebuah desa di perbukitan sana, yang emang banyak memiliki kebun apel.
Menjelang
matahari tergelincir dan masuk waktu Ashar, Basyir tiba disebuah kebun apel
yang luas pada desa yang dituju. Ia celingukan, dan emang kayaknya apel-apel
yang lebat di pohon-pohon itu, sama dengan yang baru ia kunyah sekian jam yang
lalu. Apalagi, kebun itu terletak persisi di tepi sungai. Masuk akal kan, kalo
ada sebutir yang jatuh, terus kebawa arus sungai ke tempat lading gandumnya?
Dengan
mantap, Basyir melangkah masuk ke dalam kebun, dan menjumpai seorang pria tua,
dengan wajah yang teduh dan tubuhnya yang subur, berpakaian bagus dan jubah
yang halus, sedang berkeliling diiringi beberapa tukang kebunnya. Janggut putih
yang tumbuh rapi di wajahnya bikin hati Basyir jadi lega. Orang tua itu tampak
sibuk member petunjuk pada tukang-tukang itu.
Melihat itu
semua, dalam hati Basyir berkata, “ Ah, orang tua ini pasti pemilik kebun apel
yang saya cari-cari. Kayaknya sdia juga orang alim dan baik, nih.”
Basyir
segera menghampirinya, memberi salam dengan ta’zim sambil berkata, “ Wahai tuan
pemilik kebun yang mulia, terimalah salamku. Saya mohon maaf atas kelancangan
saya mengganggu kesibukan tuan.”
Orang tua
itu terkejut rada kaget juga melihat kedatangan Basyir. Tapi rasa kaget itu
sekejap hilang, begitu didengarnya kalimat yang penuh sopan santun itu. Kini
giliran Sang Bapak yang tersenyum,
“Alaykum
salam, selamat datang anak muda. Kelihatannya kamu bukan penduduk desa kami,
ya? Apa keperluanmu?” ujarnya ramah.
Dapat
sambutan yang juga ramah, Basyir pun lega. Akhirnya dia langsung cerita tentang
dirinya, asal kediamannya, sampai dengan buah apel yang ditemuinya, dan
perjalanannya mencari pemilik buah apel itu.
“Jadi, pak.
Saya ma uterus terang. Apa benar ini apel milik bapak?” Tanya Basyir sambil
nunjukin sisa buah apel yang nggak jadi dimakannya.
Orang tua itu
tersenyum, dan menjawab, “Wah, emang bener tuh, apel itu emang hasil dari kebun
saya. Yah, ini kan apel jenis terbaik dari sini. Kalo apel Malang, tentu saja
kamu harus mencarinya di Indonesia. Eh, kok jadi ngelantur. Maaf, maaf. ‘tuh,
kamu lihat sendiri, kan?” sambil berkata, orang tua itu menunjuk pada buah-buah
apel yang bergelantungan di pepohonan.
“Nah,” kata
Basyir lega, “ sekarang, saya mohon keikhlasan dari bapak, karena saya udah
makan buah apel dari kebun bapak ini tanpa meminta izin sebelumnya. “ kata
Basyir lega,
Sang bapak
itu diam-diam kagum menyaksikan tekad si Basyir. Kalo mau, bisa aja dia diam.
Siapa sih, yang peduli dama apel satu biji diantara ribuan apelnya ini? Kok ada
ya, anak muda kayak gini?
Para tukang
kebun yang melihat kejadian ini pun diam-diam saling berbisik. Siapa sih actor
sinetron, eh, anak muda gagah dan tampan ini, yang tutur katanya begitu sopan
mempesona, yang akhlak dan sikap hati-hatinya begitu mulia, dan rela menempuh
jalan jauh Cuma untuk mendapatkan keikhlasan sebuah apel?
“Ehm, nama
kamu siapa, anak muda?”
“Saya? Oh,
saya Basyir, pak.”
“Oke,
Basyir. “ akhirnya bapak itu berkata setelah terdiam agak lama “ tapi saya Cuma
mau mengikhlaskan buah apel itu, dengan satu syarat.”
“Syarat apa
ya, pak?” Tanya Basyir. Dalam hati, ia udah siap mental, kalo emang sampai
diperintahkan melakukan apa saja. Ibaratnya, disuruh membersihkan kebun seluas
ini seharian juga, dia terima. Yang penting, si bapak itu ikhlas sama apelnya
yang udah dia makan.
“Syaratnya
gampang, Syir. Kamu mesti nikah sama putriku,” ujar bapak pemilik kebun itu
kalem.
Hah? Nggak
salah denger, nih?
Tapi,
sebelum Basyir sempat melompat teriak Yes! Yes! Yes! Karena bakal dikawinkan,
si bapak itu buru-buru melanjutkan,
“Tapi kamu
musti tahu, Basyir. Putriku itu adalah seorang gadis yang tuli, buta, bisu dan
pincang. Bagaimana?”
Basyir
tertegun. Niatnya histeris kegirangan langsung terbang, berganti dengan batin
yang diliputi rasa bimbang. Duh, syaratnya kok gini amat?apa-apaan nih? Tapi
dasar pemuda shaleh, Basyir sadar nggak mungkin dia menjilat ludah sendiri.
Akhirnya, dengan mantap iaberkata, “Baiklah, insya Allah saya bersedia menerima
syarat itu.”
Saat itu
juga, panggung terbuka, dan music ala royal
philharmonic orchestra berkumandang dengan megahnya. Eh, itu sih khayalan
saya. Bukan. Maksud saya, saat itu juga, bapak pemilik kebun menjabat tangan
kanan Basyir dan ijab Kabul singkatpun terjadi. Masih separo nggak percaya,
Basyir dan mertua barunya itu kini berjalan keluar kebun, menuju sebuah rumah
besar dengan pilar-pilar dan air mancur di tengah-tengah halamannya. Rumah yang
megah itu terletak di pusat desa. Bapak tua itu masuk lebih dahulu untuk member
tahu putrinya kalo kini, dia sudah bersuami.
Saambil
menunggu, Basyir termangu. Dalam hati ia berdo’a, “Ya Allah, tolong kuatkan
hati saya dalam menerima keputusan-Mu. Saya mohon petunjuk-Mu, karena semua
kulakukan demi mendapat keridhoan-Mu.”
Nggak lama
kemudian, sang ayah mertua keluar dari dalam rumah. Sambil menunjuk kea rah
sebuah kamar, ia berkata, “Basyir, sekarang kamu temui istrimu.”
Basyir
mengangguk. Sumpah! Hatinya deg-degan abis, membayangkan istri macem apa yang
bakal dijumpainya.
“Tapi, kamu
mesti tahu,Basyir. Putriku itu adalah seorang gadis yang tuli, buta, bisu, dan
pincang. Bagaimana?” kata-kata pemilik kebun, eh, papa mertuanya itu, kembali
terngiang di kepalanya.
Akhirnya
Basyir sampai juga di depan kamar yang dituju. Pelan-pelan, ia mengucap salam
dan lambat-lambat mengetuk pintu. Yah, dia toh nggak bakal denger juga, gumam Basyir.
Cuma, tahu-tahu terdengar sahutan lembut lagi merdu menjawab salam yang ia
ucapkan…”
“Wa’alaikumsalam,
selamat datang suamiku…”
Basyir
terkejut, darahnya serasa kering seketika. Lho, katanyua tuli? Tapi, ah,
pantang mundur, nih. Ia kuatkan hati, dan melangkah masuk meski dengan langkah
ragu. Usai empat langkah yang terasa berat, dihadapannya kini terlihat seorang
wanita dengan cadar menutupi mukanya, tengah duduk seperti sudah lama menantinya.
Nah, waktu melihat Basyir, perlahan dan anggun, wanita itu membuka cadarnya.
Basyir
nyaris pingsan. Gabungan wajah 10 miss universe itu kini tampak di hadapannya.
Bidadari! Aku melihat bidadari syurga! Basyir terperangah dan mencubit kulit
lengannya sendiri sakit!
“Ya Allah!
Aku nggak mimpikan, tapi, masya Allah, ia nggak buta. Dia menjawab salamku, itu
artinya dia nggak bisu dan tuli!” Basyir berteriak dalam hati. Apalagi, sang
dara jelita tiada tara itu kini melangkah menghampirinya, meraih tangan Basyir
dan menciumnya dengan takzim. Ia bergerak dan berjalan dengan sempurna. Tidak
pincang seperti yang digambarkan oleh ayahnya.
Tapi
seketika itu juga Basyir tersadar. Ia yakin ada sesuatu yang nggak beres.
Dengan meminta maaf, cepat-cepat ia keluar dan mencari-cari sang mertua.
Dilihatnya, sang papa mertua sedang duduk di teras rumah, buru-buru Basyir
menghampiri.
“Eh, kamu
nak Basyir. Ada apa?” tegurnya ramah, meski agak kaget melihat Basyir yang
muncul tiba-tiba.
“oh bapak.
Maafkan saya, saya….demi Allah, saya ikhlas dengan syarat yang bapak minta dari
saya. Tapi mungkin saya salah menerimanya. Putrid bapak, dia…..anu…..eh….”
“Ya,
anakku, ada apa dengan dia?”
“Pak, dia
nggak buta, dia nggak tuli, dia nggak bisu dan pincang seperti yang bapak
gambarkan, jadi bapak mungkin salah memberikan putrid yang bapak maksudkan…”
Sang papa
mertua tersenyum lebar. Lagi-lagi dia merasa bahagia. Aku nggak salah pilih!
Anak muda ini bener-bener punya integritas diri yang luar biasa, begitu
kira-kira dia membatin kalo dia hidup di jama sekarang. Dia tepuk pundak
Basyir, dan kemudia menyuruhnya duduk.
“Basyir,
anak saya emang buta, karena sepengetahuan saya, matanya senantiasa terjaga
dari hal-hal yang diharamkan Allah ta’aala. Begitu juga telinganya, ia selalu
gunakan untuk mendengarkan hal-hal terpuji, dan karenanya aku pikir dia tuli
dari hal-hal tak berguna.”
Sang papa
mertua diam sebentar, melihat reaksi Basyir. Lalu,
“Mulutnya,
ah, lebih sering dia gunakan untuk berdzikir menyebut nama-Nya, mengucapkan
kata-kata dengan sesama, dan jauh dari pembicaraan yang sia-sia dan nggak
berguna. Ia juga pincang, kalo musti pergi ke tempat-tempat dugem dan maksiat,
karena memang, sejauh sepengetahuanku, langkahnya selalu digunakan untuk
hal-hal yang bermanfaat dan pada keta’atan. Nah, sekarang kamu mengertikan,
Basyir?”
Basyir kembali
bengong. Oh, jadi init oh, maksudnya? Tapi cepat-cepat ia menukas, “lantas,
kenapa bapak memilih saya?sayakan baru bapak kenal, sementara putrid bapak,
mestinya dia dapet orang yang jauh lebih tajir dan sholeh daripada saya.”
Kini senyum
sang papa mertua semakin mengembang.
“Saya
yakin, tindakan kamu mencariku untuk meminta keikhlasan atas apel dari kebunku,
adalah petunjuk Allah tentang siapa diri kamu sebenarnya. Padahal, apalah
artinya sebuah apel diantara ribuan apel dari kebunku ini? Tapi, Basyir, demi
Allah, kamu sudah membuktikan keta’atanmu dan rasa takutmu kepada Allah SWT,
dengan cara yang begitu indah. Makanya, saya yakin saja, kamulah jodoh yang
disiapkan Allah SWT untuk menjadi suami dari putriku.”
Singkatnya,
Basyir hidup berbahagia dengan istrinya yang canti dan shaleha itu. Pernikahan
itu membuahkan seorang putra, yang oleh mereka diberi nama Nu’man.
Kelak di
kemudian hari, Nu’man bin Basyir dikenal sebagai seorang ulama besar yang
melimpah ilmunya, termasyur kehalusan budinya dan keuliaan akhlaknya, keteguha
sikapnya, arif dan bijaksana. Dan Nu’man bin Basyir, lebih dikenal dengan nama
Imam Abu Hanifah, pelopor madzhab Hanafi.
Kalo soal
ini, kita mesti baca kisahnya Abdullah bin Mubarak, seorang ulama yang kondang
banget keluasan ilmu dan akhlaknya. Ahli ibadah dan mencintai hidup yang
bersahaja, sehingga dia dikenal juga sebagai seorang sufi. Beliau hidup pada
masa khalifah al Mutawakkil di zaman kekhalifahan Abbasiyah.
Ibnul
Mubarak uga di kenal sebagai ahli hadits. Kita tahukan, kalau ilmu hadits adalah
ilmu yang membahas perihal berita-berita tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW,
sehingga nggak heran, kalo majelis ilmu yang dipimpinnya selalu diramaikan sama
jama’ah yang rindu mendengar kisah-kisah Rasulullah SAW.
Namanya
juga sufi, beliau terbiasa berhati-hati dalam menjaga diri. Konon, saking
hati-hatinya, Abdullah bin Mubarak pernah menempuh perjalanan jauh ke kota Damaskus selama
berhari-hari, Cuma untuk mengembalikan pena yang dia pinjem dari seorang teman.
Beliau juga
kondang karena kebaikan akhlaknya, sehingga dicintai para ttetangga.
Sampai-sampai, ada seorang yahudi tetangganya, sewaktu menjual rumahnya, ia
berani kasih harga dua kali lipat dari harga pasaran, yakni 2000 dinar.
“mahal
amat!” gerutu seorang calon pembeli.
Apa jawab
yahudi itu?
“harga
pasaran rumahku ini emang 1000 dinar. Nah, yang 1000 dinar itu harga karena
bertetangga sama Ibnul Mubarak.”
Karena
kemahalan, transaksi batal. Tapi, obrolan itu kedengeran sama Ibnul Mubarak.
Dia datangi tetangganya itu sambil member uang 1000 dinar dan menyuruhnya agar
jangan pindah.
Yah,
begitulah kemuliaan akhlak Abdullah bin Mubarak, sampai-sampai namanya jadi
ikut-ikutan menaikkan harga property eh, kok jadi ngaco begini?
Nah, suatu
hari, tiba saatnya musim haji. Badullah bin Mubarak menyambut saat itu denga
penuh suka cita dan segera bersiap-siap untuk berangkat dengan para muridnya.
Begitu siap, rombongan Abdullah bin Mubarak pun berangkat. Perjalanan bisa
memakan waktu sebulan, lho! Iya, kala itu belum ada pesawat terbang atau bus
malem, kan?
Apalagi busway dan becak way…..
Rombongan
Ibnul Mubarak tiba dan bergabung dengan ribuan jama’ah haji, yang datang dari
berbagai penjuru dunia. Mereka berbondong-bondong memasuki kota suci Mekkah. Wah, jalan-jalan Mekkah
penuh dengan debu dan orang ytang berlalu lalang. Ramai sekali.
Beberapa
hari kemudian, saat usai melakukan Thawaf atau berjalan mengelilingi ka’bah, karena
kelelahan, Ibnul Mubarak mengantuk luar biasa. Saking payahnya, beliau akhirnya
tertidur di bawah ka’bah. Waduh, kalo sekarang, beliau pasti sudah diseret sama
askar (penjaga) kerajaan. Untung waktu itu belum ada, ya?
Nah, dalam
tidurnya, beliau bermimpi, melihat dua malaikat turun dari langit, dan
mengamati para jama’ah yang jumlahnya ribuan orang itu. Mereka tentu bukan Cuma
jalan-jalan iseng, Karena ternyata karena ternyata mereka juga sibuk mencatat sana-sini.
Iyalah, namanya juga malaikat!
Malaikat
yang satunya bertanya
“Berapa
orang yang pergi haji tahun ini?”
“Wah,
seratus ribu orang lebih,” jawab malaikat kedua sambil memerhatikan catatannya
“ Lalu, berapa
orang yang diterima hajinya?”
Malaikat
kedua membolak-balikan catatannya.
“Tidak
seorang pun,” jawabnya tandas.
Ibnul
Mubarak terkejut mendengar percakapan itu.
Hah?
Bagaimana mungkin? Seratus ribu orang yang pergi haji dari berbagai tempat yang
jauh, dengan rambut yang kusut masai terkena debu gurun, dan onta-onta yagn
kurus kering, saking jauhnya berjalan. Masa’ iya, tak satupun yang diterima? Apakah
malaikat ini salah mencatat atau salah meneliti? Nggak mungkin.
Saat itulah
malaikat kedua berkata,
“Hei,
tunggu, tunggu dulu. Ada,
ada kok yang hajinya diterima. Tapi, Cuma satu orang, brother.”
“siapakah
dia?” Tanya malaikat pertama.
“Namanya…..ah,
ini dia. Namanya Ali bin al Muwaffaq.
Dia orang Damaskus. Cuma dia nih, yang ibadah hajinya diterima.
Tapi, eh, ini aneh…”
“Apanya
yang aneh?”
“Maha suci
Allah dengan segala karunia-Nya. Hanya dia yang diterima, padahal ia tidak
berangkat dan hadir di tanah suci ini.”
How come?
Saking kagetnya, Ibnul Mubarak terjaga dari tidurnya. Sambil menenangkan diri,
beliau tercenung. Ia yakin, mimpi itu bukanlah mimpi sembarangan.
Jadi,
diantara ribuan orang ini, hanya satu orang yang diterima? Padahal ia nggak
pergi dan hadir di tempat ini? Bagaimana mungkin? Ali bin al Muwaffaq. Siapa
dia? Hebat bener nih, orang! Aneka pertanyaan spontan bergelayutan di benaknya.
Abdullah
bin Mubarak jelas penasaran sama mimpinya itu. Makanya, usai musim haji, Ibnul
Mubarak memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Damaskus. Ia bertekad akan mencari tahu,
siapa sih Ibnul Muwaffaq? Kok, bisa-bisanya dia nggak masuk daftar eliminasi
sendirian? Pastilah ia seseorang yang amat istimewa, sehingga Allah SWT
menghadirkan namanya dalam mimpinya.
Kita
mengerti kenapa Ibnul Mubarak berfikir kayak gitu, karena mimpi seorang mukmin,
menurut sabda Nabi Muhammad SAW, adalah 1/46 dari wahyu kenabian.
Kota
Damaskus masih ada sampai sekarang, lho! Yaitu, ibukota Negara Syria.
Jaraknya, ribuan kilometer dari kota
Mekkah. Jadi, wajar jika sebulan penuh kemudian, Ibnul Mubarak baru tiba di kota Damaskus. Setelah
bertanya kesana kemari, akhirnya Ibnul Mubarak tiba di rumah Ali bin al
Muwafffaq, yang ternyata adalah seorang tukang sepatu.
Tok, tok,
tok!
Pintu
terbuka dan seraut wajah ramah dengan air muka berseri-seri, menyambut
kedatangannya. Rupanya, Ali bin al Muwaffaq sendirilah yang membuka pintu.
Abdullah bin Mubarak lantas memperkenalkan diri, dan ternyata Ali bin al
Muwaffaq telah mendengar nama Abdullah bin Mubarak. Wah, jelas dia bahagia banget
karena seorang ulama kondang telah datang. Ibnul Muwaffaq memeluknya, dan
dengan hangat segera mempersilahkan masuk.
Usai saling
bertegur sapa, akhirnya Ibnul Mubarak menceritakan maksud kedatanganya, tentang
mimpinya dan bagaimana malaikat menyebut-nyebut nama Ali bin al Muwaffaq.
“Padahal
mad Ali ndak pergi hajikan, tahun ini?” tegas Ibnul Mubarak.
“Nggak sama
sekali,” jawab Ali bin al Muwaffaq dengan kagetnya. Kalo bukan Abdullah bin
Mubarak yang ngomong, mana dia percaya.
“Nah, mas
Ali,” lanjut Ibnul Mubarak dengan penasaran, “kalo gitu, tolong beri tahu saya,
apa kira-kira amal perbuatanmu, sehingga kamu bisa begitu beruntung, padahal
kamu sendiri nggak pergi haji?”Ali bin al Muwaffaq diam sejenak. Perasaannya
campur aduk. Bingung, kaget campur haru, pria separuh baya ini mati-matian
menenangkan diri. Akhirnya, lamat-lamat ia berkata,
“Pak
Mubarak, siapa sih yang nggak pengen pergi haji” terus terang aja,
bertahun-tahun lamanya saya menabung agar bisa pergi ibadah haji. Semua itu
saya kumpulkan dari hasil keringat bikin dan reparasi sepatu, agar ia
betul-betul halal. Tahu ini, sebetulnya saya sudah menghitung-hitung, dan saya
girang, karena tabungan saya telah mencapai 300 dinar. Pikir saya, h, udah
cukup nih, buat bekal menunaikan haji.
Eh, tepat
di hari saya mau berangkat, tiba-tiba bau masakan yang gurih dan lezat, mampir
ke rumah kami. Selidik punya selidik, bau itu kayak sop daging, datang dari
tetangga sebelah. Asal tau aja. Wahai Ibnul Mubarak, tetangga kami itu janda
dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Jadi, istri saya bilang; papah,
kayaknya mamah ingin nyobain masakan tetangga kita itu. Minta dong, barang
semangkok. Jadi, saya pergi dan minta barang semangkok sup.
Ya Allah, saya
kaget banget!
Saya pikir, aduh,
saya bisa dosa,
Nih! Padahal,
saya pernah denger sabda Rasulullah SAW
Nggak Beriman
seseorang, kalo kita
Kenyang,
sementara tetangga kita
kelaparan
Eh bukannya
ngasih, sambil menangis ibu janda itu bilang, makanan itu nggak halal buat kamu.
Saya heran,
Dan bertanya pada si ibu tadi kenapa bisa begitu. Akhirya,
dia ngaku kalo yang dia masak itu bangkai keledai. Dia bercerita kalo mereka
udah nggak makan selama beberapa hari. Jadi, daripada anak-anaknya terus
kelaparan, pas ketemu bangkai keledai, dia ambil aja dagingnya dan itulah yang
dia masak agar keluarganya bisa makan.”
“Ya Allah,
saya kaget banget!saya pikir, aduh, saya bisa dosa, nih! Padahal, saya pernah
dengar sabda Rasul SAW, nggak beriman kita, kalo kita kenyang, sementara
tetangga kita kelaparan. Jadinya, tanpa piker panjang, saya serahkan aja 300
dinar hasil tabungan bekal haji saya itu sama dia. Itulah sebabnya saya nggak
bisa berangkat pergi menunaikan haji. Tapi, saya lega, pak Mubarak. Setidaknya,
saya nggak termasuk muslim yang menyia-nyiakan tetangga.”
Kini
giliran Abdullah bin Mubarak yang terharu. Sekarang, beliau baru sadar, ini dia
nih, rahasia di balik mimpinaya itu. Keikhlasan Ibnul Muwaffaq emang
bener-bener luar biasa. Dia mampu mengalahkan keinginan dirinya Cuma untuk
menolong tetangganya yang kelaparan. Jadi, Abdullah bin Mubarak sadar, wajar
aja kalo Ibnul Muwaffaq mendapat kemuliaan yang lebih tinggi, lebih dari orang
yang pergi haji.
Suatu hari Rabi’ah
bertemu dengan orang yang kepalanya diperban.
“Kenapa
kamu?” Tanya Rabi’ah
“Duh, aku
ini sakit kepala!”
“Dua puluh
tahun kepalamu sehat gak pernah kamu perlihatkan. Baru sebentar aja kamu dapet
kesakitan, kamu udah unjukin kemana-mana!”
Mendengar
omongan Rabi’ah, orang yang sakit kepala itu Cuma bengong sembari mikir apa sih
maksud kalimat Rabi’ah tersebut.
Pada kisah
lainnya diceritakan, pada suatu hari, Hasan al Bashri datang mengunjungi
Rabi’ah di tepi sungai. Saat itu, Hasan datang dengan berjalan di atas air
“Rabi’ah, keluar deh, mari kita ngobrol sebentar.”
Melihat si
Hsan datang denga berjalan di atas air, Rabi’ah mengambil sajadahnya, lalu
melemparnya ke udara. Sajadah itu kemudian melayang di udara, dan REabi’ah
melompat dan duduk di atasnya. “kemarilah Hasan, mari kita ngobrol,” sahut
Rabi’ah.
Melihat hal
itu, Hasan tersipu malu, karena merasa ilmunya belum sampai kesana. Rabi’ah
lantas turun dan menghibur Hasan. Konon, ia mengatakan, “Hal semacam ini bisa
saja dilakukan oleh seekor burung, Hasan. Tapi kan, bukan untuk itu kita melakukan
keta’atan kepada Allah.”
Nah,
benerkan? Buat seorang sufi sejati, hal-hal ajaib kayak gitu Cuma sampingan
aja, bukan tujuan. Tapi, semata-mata karena cinta kepada-Nya. Keta’atan demi
keta’atan yang penuh disiplin itu, mereka lakukan hanya untuk Allah.
Nah, sejak
sat itu, ketekunan Rabi’ah beribadah dan ajarannya tentang cinta kepada Allah
membuat banyak orang berdatangan untuk menyimak ceramahnya dan mengambil
pelajaran darinya.
Maka, meski
ia seorang perempuan, namun banyak para ahli sufi yang notabennya umumnya cowok
itu, taksegan untuk meminta nasihat dan untuk bersilaturahmi kepadanya.
Oleh karena
itu, suatu hari, tiga orang ahli sufi bermaksud mengunjungi Rabi’ah. Mereka
bilang, “hari ini, mari kita berkunjungi ke Rabi’ah. Dia seorang yang amat baik
dan suka menghormati tamu. Sambil berbagi pengetahuan, mudah-mudahan ia tidak
keberatan untuk menjamu kita.”
Mereka pun
tiba di rumah Rabi’ah, dan mulai bercakap-cakap. Kalo pake bahasa kita
sekarang, mereka saling jajal pengetahuan juga. Salah seorang sufi itu bilang
gini,
“Sebetulnya
Allah lebih memuliakan kaum laki-laki daripada perempuan”
“Apa
buktinya?” Tanya Rabi’ah.
“Buktinya,
nggak ada nabi dari kalangan perempuan.”
“Mungkin
saja,” jawab Rabi’ah sambil mengangguk-angguk,”tapi setahu saya, yag
berani-beraninya bilang dan ngaku dirinya sebagai tuhan, bahkan dicela oleh
Al-Qur’an, adanya Cuma laki-laku, tuh!” lanjut Rabi’ah sambil mesem.
Yang ia
maksud, tentu saja Fir’aun musuh Nabi Musa dan raja Namrud musuh Nabi Ibrahim.
Tapi jawaban itu sungguh telak, sehingga ketiga sufi itu tersipu-sipu mendengarnya.
Tak lama
kemudian, pembantu Rabi’ah muncul menyuguhkan dua potong roti manis. Para tamu itu tersenyum lega. Yang ditunggu-tunggu
akhirnya datang juga. Tapi, eh, belum sempat mereka cicipi, tiba-tiba terdengar
suara seorang pengemis, yang menghiba-hiba
minta diberi makan. Melihat hal itu, tanpa piker panjang, Rabi’ah lansung
memberikan kedua potong roti itu kepada si pengemis.
Melihat
kejadian itu, ketiga tamunya mencela perbuatan Rabi’ah.
“Bagaimana
mungkin kamu member semua roti itu pada seorang pengemis, sementara kami yang
menjadi tamu, kamu biarkan begitu aja?”
Rabi’ah
diam saja. Dia hanya menunduk, seolah-olah berfikir keras.
Eh, nggak
lam kemudian, pintu rumah kembali diketuk. Seorang pelayan dari tetangga
Rabi’ah, berdiri di depan pintu, membawa sebuah nampan besar. Ia berkata telah
di suruh oleh majikannya mengantarkan roti-roti manis dalam nampan itu. Para tamu Rabi’ah kembali tersenyum lega.
Tapi,
bukannya menerima dengan segera, Rabi’ah malah membuka tutup nampan dan mulai
menghitung. Ternyata, ada delapan belas potong roti manis di dalamnya. Melihat
hal itu, Rabi’ah menggeleng dan berkata, “kamu pulang deh, dan bilang sama tuan
kamu, kalo dia salah memberikan nampan itu buat saya.”
Terheran-heran,
si pelayan segera kembali. Para tamu Rabi’ah
pun tak kalah tercengang. “Apa-apaan ini, Rabi’ah? Delapan belas roti manis
masih kamu anggap kurang?”
Rabi’ah
diam saja. Tak lama, pintu diketuk, dan si pelayan tadi telah kembali. Ia
meminta maaf dan mengaku kalo di tengah jalan, ia tergoda makan dua potong roti
manis pemberian majikannya untuk Rabi’ah. Sekarang, ia kembali dan telah
melengkapi roti-roti itu lagi menjadi dua puluh potong roti manis.
“Nah, kalo
yang ini, emang benar untuk saya,” sahut Rabi’ah berseri-seri. Lalu, barulah ia
menghidangkan ke duapuluh roti itu kepada para tamunya.
Karena para
tamu Rabi’ah masih terheran-heran. Rabi’ah pun menjelaskan.
“Waktu
kalian tadi datang, saya sebenarnya merasa malu, karena nggak ada yang bisa
saya hidangkan selain dari dua potong roti manis tadi. Tapi, pengemis itu
muncul, dan saya berikan dua potong roti manis itu kepada pengemis tadi, karena
saya ingat janji Allah, kalo siapa aja yang berbuat kebajikan akan diganti
setidaknya 10 kali lipat. Maka ketika pelayan itu membawa roti manis, aku
yakin, itulah ganti yang Allah SWT janjikan untuk pemberian saya pada pengemis
tadi. Namun, jumlahnya hanya 18, dan bukan 20 seperti janji Allah. Sayapun
sadar kalo pelayan itu minimal telah keliru. Dan dugaan saya benar.”