Sabtu, 21 November 2009

Cerita Sahabat Muslim 24


Abu ‘Abdurrahman Hatim ibnu Unwan al Asamm si Tuli



            Nah, ini sufi yang boleh dibilang sufi yang dikenal paling ngejaga perasaan orang. Ia berasal dari Balkh. Ia adalah salah seorang murid Saqiq al-Balkhi. Ia berkunjung ke Baghdad dan wafat di Wasyjard dekat Tirmidz pada tahun 237H/852M. saking ngejaga perasaan orang lain itulah, sampai-sampai ia dijuluki Hatim al Assam alias “Hatim si tuli”, kok gitu?
            Jadi ceritanya gini. Suatu hari, seorang wanita tua datang menemui Hatim, untuk bertanya soal-soal agama. Nah, pada saat itulah, sang ibu tersebut nggak pake permisi lagi, alias nggak sengaja, kentut sekencang-kencangnya
            Duuuuuttttttttttt…….
            Waduh kebayang dong, kayak apa muka si ibu itu? So pasti merah saking malunya! Tapi, nah, disinilah kemudian Hatim jadi terkenal karena kehalusan perasaannya. Bukannya buang muka, Hatim malah ngomong,
            “Bu, ngomongnya kencengin dikit dong! Pendengaran saya emang sedikit terganggu, nih!”
            Wah, kontan ibu itu jadi lega. Rasa malunya sirnah seketika. Dengan muka berseri-seri saking girangnya, si ibu itu mengeraskan suaranya, dan Hatim pun menjawab pertanyaannya.
            Nah, hebatnya kemudian, sepanjang wanita tua itu hidup, lebih kurang lima belas tahun, Hatim pura-pura tuli, supaya nggak orang lain yang memberi tahu wanita tua itu kalo dia sebenarnya nggak tuli! Dahsyat, ya? Sampe segitunya Hatim ngejaga perasaan si ibu itu.
            Baru deh, setelah ibu itu wafat, Hatim mulai menjawab pertanyaan yang diajukan padanya dengan normal. Sebelumnya, Hatim biasa mengatakan, “Bicaralah lebih keras.” Kepada siapapun yang bicara sama dia. Karena itulah ia dijuluki sebagai Hatim Si Tuli.


Kamis, 19 November 2009

Cerita Sahabat Muslim 23


Ingin bertemu iblis
            Suatu hari, entah ada angina pa, Junaid tiba-tiba kepikiran pengen ngeliat iblis. Dia lalu berdiri di depan pintu masjid. Eh, nggak lama, Junaid ngeliat seorang lelaki tua mendekat dari kejauhan. Saat dia memandangnya, rasa ngeri tiba-tiba memasuki dirinya.
            “Siapa kamu?” Tanya Junaid.
            “Yang engkau ingin temui.”
            “Sang terkutuk,” Junaid memekik. “ Apa yang membuat kamu tidak mau sujud kepada Adam?”
            Iblis menyeringai, “Bagaimana kalo kamu jadi saya, Junaid?apakah saya harus menyembah selain diri-Nya?”
            Sejenak, Junaid mengaku merasa bingung mendengar perkataan iblis ini. (sama! Saya juga. Gile bener nih, si iblis. Pinter banget ngelesnya.) tapi kemudian, sebuah suara berkata direlung hatinya,
            “Katakanlah (pada iblis), ‘Dasar kamu pembohong! Kalo kamu bener-bener hamba Allah yang sejati, kamu pasti menuruti perintah-Nya. Kamu nggak bakal pernah mengabaikan-Nya dan bermain-main dengan penyangkalan.”
            Spontan, Juniad meniru kata-kata itu, dan saat iblis mendengar kata-kata itu, ia pun berteriak keras, “ Demi Allah, Junaid. Engkau telah menghancurkan ku!” kemudian iblis itupun lenyap.


Menjaga pikiran

          Kisah ini juga soal gimana kerasnya seorang sufi dijaga ama Allah, bahkan dari pikiran yang buruk, karena pikiran yang buruk itu bisa merusak amal kebaikan yang udah susah payah kita lakukan. Dan ini terjadi juga pada Junaid.
            Suatu siang, majlis ilmu yang dipimpin oleh Junaid baru aja selesai. Eh, tahu-tahu, seorang lelaki bangkit dan mulai mengemis di antara para jama’ah. Padahal, kalo ngeliat potongannya, ini cowok mestinya mah sehat bener. Ngeliat hal itu, Junaid sempat membatin.         
            “wah, cowok itu kelihatannya bener-bener sehat wal’afiat. Mestinya sih, dia mampu bekerja buat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi, kanapa dia malah mengemis dan menghinakan dirinya sendiri?”
            Nah, nggak tahunya, malam itu, Junaid bermimpi hadir di sebuah jamuan makan. Lantas, sebuah nampan dengan hidangan tertutup disuguhkan di hadapannya.
            “makanlah Junaid,” terdengar sebuah suara mempersilakan.
            Saat Junaid membuka penutup wadah hidangan itu, waduh, dia terkejut! Yang dia lihat, lelaki yang mengemis tadi siang di majlisnya, terbaring tak bernyawa di wadah itu.
            “Apa-apaan nih? Saya nggak makan daging manusia, “ protesnya.
            “ Lalu, mengapa kamu kemarin berbuat hal itu di masjid?” Tanya suara itu lagi.
            Mendengar teguran itu, Junaid tersentak, sampe terbangun saking kagetnya. Ia langsung teringat sama lelaki yang mengemis dimajlis siang tadi. Buru-buru Junaid sadar, kalo ia bersalah telah menghujat pengemis itu dalam hatinya. Mimpi itu, dia yakin banget, adalah teguran karena pikiran buruknya itu.
            Dalam memorynya, Junaid mengisahkan
            “Saya terjaga dalam ketakutan. Cepat-cepat saya berwudhu dan shalat dua rakaat. Malam itu juga, buru-buru saya pergi mencari pengemis itu. Lalu, saya lihat dia ada di tepi sungai Tigris, sedang memunguti sisa-sisa sayuran yang di cuci orang-orang di sana dan dia pun memakannya…”
            “…..lelaki itu mengangkat kepalanya, melihat saya yang berjalan menghampirinya. Ia lantas menyapa, Junaid, apa kamu udah bertobat atas pikiran-pikiranmu itu tentang aku?”
            “Ya, saya udah tobat…” jawab saya lemah.
            “kalau begitu, pergilah. Kali ini, jagalah pikiran-pikiranmu!”

            Nah, kisah-kisah semacam inilah, antara lain, yang membekas kuat pada diri saya. Bagi para sufi dan wali Allah sejati, nggak adal peluang sedikitpun untuk merasa dirinya sombong terhadap orang lain, meskipun amal ibadahnya udah segunung.
            Buat kita barang kali, jangankan Cuma menggumam, kayaknya kalo ngobrol nggak ngomongin orang, rasanya seperti sayur kurang bunbu! Padahal, ngomongin kejelekan orang alias ghibah itu, emang digambarkan oleh Al Qur’an sebagai, “memakan daging saudaramu sendiri yang sudah mati…” (QS. Al Hujarat, 49:12)
            Ih, jijikan?nah, karena Allah Maha Sayang pada hamba-hamba-NYa yang ikhlas itu, DIA juga nggak rela hati hamba-NYA terkasih itu di kotori, even oleh prasangka buruk dan rasa sombong sebiji sawi pun! Kalo kita gimana?


Selasa, 17 November 2009

Cerita Sahabat Muslim 22


Tabib yang sebenarnya

            Suatu kali Junaid merasa sakit pada matanya. Jadi, iapun memanggil seorang tabib yang beragama Nasrani. Usai memeriksa mata Junaid,  sang tabib berpesan.
            “kalo nanti matamu terasa berdenyut-denyut, jangan biarkan matamu itu terkena air,” nasihatnya.
            Eh, begitu sang tabib pergi, Junaid malah berwudhu, shalat, kemudian pergi tidur. Ketika ia bangun matanya malah sembuh. Lalu, saat itu ia mendengar sebuah suara berkata, “Junaid sudah mengabaikan matanya demi meraih keridhaan kami. Jika demi tujuan yang sama, ia memohon ampunan bagi para penghuni neraka, niscaya permohonannya itu akan kami kabulkan.”
            Seperti baiasa, pagi itu Junaid pun keluar rumah. Di jalan, tak berapa lama kemudian, ia berpapasan dengan sang tabib yang memeriksa mata Junaid. Wah, sang tabib merasa surprise juga, karena dilihatnya mata Junaid telah sembuh.
            “Hai Junaid, apa yang kamu lakukan?” Tanya sang tabib.
            “ah, saya minta maaf udah melanggar nasihatmu. Saya berwudhu untuk shalat,” jawab Junaid.
            Konon mendengar itu, seketika itu pula sang tabib mengucapkan dua kalimat syahadat.
            “Ini adalah penyembuhan sang pencipta, bukan makhluk,” komentar tabib tersebut waktu dia ditanya kenapa dia spontan masuk islam. “Junaid, kalo begini, sebenarnya mata sayalah yang sakit, bukan matamu. Kamulah tabib yang sebenarnya, bukan aku.”

Ingin bertemu iblis
            Suatu hari, entah ada angina pa, Junaid tiba-tiba kepikiran pengen ngeliat iblis. Dia lalu berdiri di depan pintu masjid. Eh, nggak lama, Junaid ngeliat seorang lelaki tua mendekat dari kejauhan. Saat dia memandangnya, rasa ngeri tiba-tiba memasuki dirinya.
            “Siapa kamu?” Tanya Junaid.
            “Yang engkau ingin temui.”
            “Sang terkutuk,” Junaid memekik. “ Apa yang membuat kamu tidak mau sujud kepada Adam?”
            Iblis menyeringai, “Bagaimana kalo kamu jadi saya, Junaid?apakah saya harus menyembah selain diri-Nya?”
            Sejenak, Junaid mengaku merasa bingung mendengar perkataan iblis ini. (sama! Saya juga. Gile bener nih, si iblis. Pinter banget ngelesnya.) tapi kemudian, sebuah suara berkata direlung hatinya,
            “Katakanlah (pada iblis), ‘Dasar kamu pembohong! Kalo kamu bener-bener hamba Allah yang sejati, kamu pasti menuruti perintah-Nya. Kamu nggak bakal pernah mengabaikan-Nya dan bermain-main dengan penyangkalan.”
            Spontan, Juniad meniru kata-kata itu, dan saat iblis mendengar kata-kata itu, ia pun berteriak keras, “ Demi Allah, Junaid. Engkau telah menghancurkan ku!” kemudian iblis itupun lenyap.


Menjaga pikiran

          Kisah ini juga soal gimana kerasnya seorang sufi dijaga ama Allah, bahkan dari pikiran yang buruk, karena pikiran yang buruk itu bisa merusak amal kebaikan yang udah susah payah kita lakukan. Dan ini terjadi juga pada Junaid.
            Suatu siang, majlis ilmu yang dipimpin oleh Junaid baru aja selesai. Eh, tahu-tahu, seorang lelaki bangkit dan mulai mengemis di antara para jama’ah. Padahal, kalo ngeliat potongannya, ini cowok mestinya mah sehat bener. Ngeliat hal itu, Junaid sempat membatin.         
            “wah, cowok itu kelihatannya bener-bener sehat wal’afiat. Mestinya sih, dia mampu bekerja buat memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi, kanapa dia malah mengemis dan menghinakan dirinya sendiri?”
            Nah, nggak tahunya, malam itu, Junaid bermimpi hadir di sebuah jamuan makan. Lantas, sebuah nampan dengan hidangan tertutup disuguhkan di hadapannya.
            “makanlah Junaid,” terdengar sebuah suara mempersilakan.
            Saat Junaid membuka penutup wadah hidangan itu, waduh, dia terkejut! Yang dia lihat, lelaki yang mengemis tadi siang di majlisnya, terbaring tak bernyawa di wadah itu.
            “Apa-apaan nih? Saya nggak makan daging manusia, “ protesnya.
            “ Lalu, mengapa kamu kemarin berbuat hal itu di masjid?” Tanya suara itu lagi.
            Mendengar teguran itu, Junaid tersentak, sampe terbangun saking kagetnya. Ia langsung teringat sama lelaki yang mengemis dimajlis siang tadi. Buru-buru Junaid sadar, kalo ia bersalah telah menghujat pengemis itu dalam hatinya. Mimpi itu, dia yakin banget, adalah teguran karena pikiran buruknya itu.
            Dalam memorynya, Junaid mengisahkan
            “Saya terjaga dalam ketakutan. Cepat-cepat saya berwudhu dan shalat dua rakaat. Malam itu juga, buru-buru saya pergi mencari pengemis itu. Lalu, saya lihat dia ada di tepi sungai Tigris, sedang memunguti sisa-sisa sayuran yang di cuci orang-orang di sana dan dia pun memakannya…”
            “…..lelaki itu mengangkat kepalanya, melihat saya yang berjalan menghampirinya. Ia lantas menyapa, Junaid, apa kamu udah bertobat atas pikiran-pikiranmu itu tentang aku?”
            “Ya, saya udah tobat…” jawab saya lemah.
            “kalau begitu, pergilah. Kali ini, jagalah pikiran-pikiranmu!”

            Nah, kisah-kisah semacam inilah, antara lain, yang membekas kuat pada diri saya. Bagi para sufi dan wali Allah sejati, nggak adal peluang sedikitpun untuk merasa dirinya sombong terhadap orang lain, meskipun amal ibadahnya udah segunung.
            Buat kita barang kali, jangankan Cuma menggumam, kayaknya kalo ngobrol nggak ngomongin orang, rasanya seperti sayur kurang bunbu! Padahal, ngomongin kejelekan orang alias ghibah itu, emang digambarkan oleh Al Qur’an sebagai, “memakan daging saudaramu sendiri yang sudah mati…” (QS. Al Hujarat, 49:12)
            Ih, jijikan?nah, karena Allah Maha Sayang pada hamba-hamba-NYa yang ikhlas itu, DIA juga nggak rela hati hamba-NYA terkasih itu di kotori, even oleh prasangka buruk dan rasa sombong sebiji sawi pun! Kalo kita gimana?


Minggu, 15 November 2009

Cerita Sahabat Muslim 21


Keikhlasan Juanid al Baghdadi



            Nama lengkapnya adalah Abul Qasim al Junaid ibnu Muhammad al Khazzaz al Nihawandi, atau dia lebih popular dengan sebutan Junaid al Baghdadi.
            Bapaknya sih, seorang pedagang barang pecah belah, tapi saat yang sama, Junaid juga keponakan dari Sarri as Saqathi, yang juga kondang sebagai sufi besar. Belakangan, Junaid juga memimpin sebuah mazhab sufi yang besar dan berpengaruh. Ia wafat di Baghdad pada tahun 298 H/ 910 M. salah satu keistimewaan Junaid, dia dikenal mempunyai keikhlasan yang luar biasa banget. Kisah ini adalah contohnya.
            Ceritanya, suatu malam seorang pencuri memasuki kamar Junaid. Setelah longok sana longok sini, itu maling ngeliat nggak ada apa-apa di dalam kamar Junaid kecuali sehelai pakaian. Dasar maling, pakaian cuma segitu-gitunya disikat juga! Maka, saat Junaid terbangun besok paginya, dia juga langsung sadar alo pakaian kesayangannya itu udah raib dicuri orang.
            Tapi Junaid santai aja. Tak lama kemudian dia keluar untuk satu keperluan, dan lewat di sebuah pasar. Eh, Junaid lantas melihat, pakaiannya ada di tangan seorang pedagang, yang tengah menawarkannya pada seorang lelaki. Junaid mendekat untuk memastikan. Wah, ternyata bener! Nah, saat dia mendekat itulah, Junaid denger si calon pembeli ngomong gini:
            “Sebelum membelinya, saya pengen kamu menghadirkan seorang untuk bersaksi, kalo pakaian ini emang bener-bener milik kamu.”
            Nah lho! Si pedagang langsung garuk-garuk kepala. Terang aja dia bingung, wong itu baju juga dia dapat dari maling! Istilah sekarang sih, dia emang tukang tadah. Tapi, gimana mau ngaku, coba? Nah, mendengar itu, Junaid langsung mendekat dan berkata,
            “saya siap untuk bersaksi kalo pakaian ini emang bener-bener miliknya.”
            Wah, lelaki itu seneng banget. Apalagi yang bersaksi itu orang soleh macem Junaid! Akhirnya dia jadi membeli pakaian itu. Junaid tersenyum, dan dengan entengnya, diapun pergi.
            Nah, kisah ini Cuma sekedar gambaran kalo diantara ciri-ciri yang sangat kental dari para sufi adalah keikhlasannya dalam berbuat kebajikan. Mungkin contoh Junaid ini rada ekstrim kali ya, kok baju sendiri aja rela dilepas? Tapi hemat saya, esensi perbuatan Junaid adalah keikhlasannya berbuat baik pada orang lain, meski kelihatannya itu merugikan diri sendiri.
            Dan, kalo aja diantara kita udah punya sifat kayak gini, seneng berbuat baik dengan ikhlasan karena Allah, ya jangan heran kalo Allah SWT akhirnya jadi sayang sama yang bersangkutan, karena: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan….” Gitu berulang-ulang dibilang dalam Al-Qur’an.
            Dan, ini janji Al Qur’an juga nih: “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (maksudnya kebaikan), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat, maka sesungguhnya dia tersesat bagi dirinya sendiri…” (17:15)
            Bahkan, “Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh yang lebih baik dari padanya,” (27:89)
            Guys, yakin deh, meski nggak ada yang tahu kita lagi berbuat baik, Allah SWT pasti tahu, dan pasti Allah SWT bakal bales. Kalo nggak yakin, jalanin aja dan nantinya kejutan demi kejutan dalam hidup kamu!
            Hayo, siapa yang pengen dicintai sama Allah?


Jumat, 13 November 2009

Cerita Sahabat Muslim 20


Abu Yazid & Nasihat Seekor Anjing



                Kisah ini juga lagi-lagi menunjukkan kerendahhatian yang justru jadi cirri yang kental dari seorang sufi yang soleh.
            Oya, sebelum kamu bingung, kisah ini kayaknya lebih merupakan perlambangan, karena lucu juga kalo tiba-tiba anjing bisa ngomong. Kayak di film Hollywood aja.
            Maksud saya gini. Konon, suatu hari, Abu Yazid lagi jalan-jalan ketika seekor anjing berlari di sampingnya. Abu Yazid spontan mengangkat jubahnya, karena takut kena najis. Sebetulnya sih, mungkin tindakan itu wajar aja, kan? Melihat hal itu, eh, nggak disangka-sangka, si anjing tiba-tiba ngomong,
            “Kalo saya kering, saya sama sekali nggak merugikan kamu. Kalo saya basah, tujuh air dan tanah akan mendamaikan kita. Tapi kalo kamu mengangkat jubahmu seperti orang yang sok suci dan munafik, kamu nggak bakal pernah jadi bersih, nggak bakal pernah, walaupun kamu mandi di tujuh samudera.”
            Abu Yazid kaget, tapi beliau buru-buru sadar kalo ini bukan adegan film ‘dr. Doolittle’ nya Eddy Murphy. Eh , maksud saya, Abu Yazid sadar, ini anjing ngomong gini, pasti ada yang nyuruh. Jadi, dengan menahan malu, beliau bilang, “ Kamu nggak suci di luar, sedangkan saya nggak suci di dalam. Mari kita bekerja sama. Semoga usaha bersama kita berdua menjadikan kita berdua suci.”
            “Kamu nggak patut jadi rekanku dan berkelana bareng aku, “ jawab anjing itu, “karena aku ditolak oleh seluruh manusia, sedangkan kamu diterima dikalangan manusia. Setiap orang yang berpapasan denganku bakal melempar batu ke arahku; mereka itulah yang menjulukimu raja para sufi. Tapi, aku nggak pernah menyimpan sepotong tulangpun untuk esok hari. Sedangkan kamu, menimbun satu tong penuh gandum buat esok hari.”
            Bisa aja ya, anjing itu ngomong? Seolah-olah dia mau bilang, meski dia (anjing) di pandang hina di mata manusia, kalo soal yakin sama rejeki Allah, dia (anjing) lebih yakin ketimbang Abu Yazid, gitu kira-kira maksudnya.
            Sebetulnya, soal kepasrahan diri terhadap Allah ini merupakan tema favorit kaum sufi, sehingga diantara mereka kadang-kadang suka rada-rada ekstrim dalam bersikap. Maksudnya, kalo emang pasrah dan yakin bakal sama rejeki Allah, jangan sampai nimbun makanan, dong! Kayak nggak yakin aja kalo besok Allah bakal ngasih elo rejeki! Gitu maksudnya.
            Tapi hemat saya, nggak perlu seekstrim itu, karena biar bagaimanapun, Allah juga nyuruh kita mempersiapkan diri buat hari esok, kok! (QS. Al Hasyr (59) : 18)
            Tapi okelah, kembali ke kisah Abu Yazid dan anjing itu. Konon jawaban seekor anjing itu bikin Abu Yazid rada-rada syok juga.
            “Aduh saya nggak pantes untuk beperjalanan bersama seekor anjing”, ujar Abu Yazid, saking merasa malunya udah bersikap rada sombong, “lalu bagaimana mungkin saya berjalan sama Sang Abadi dan Kekal? Maha Suci Allah, yang mendidik makhluk terbaik dengan perantara makhluk terburuk”.
            Hati Abu Yazid begitu sedihnya, sampe dia merasa kehilangan harapan untuk menjadi hamba Allah yang patuh juga sampai-sampai dia bilang sama dirinya sendiri,
            “Saya akan pergi ke pasar dan membeli sebuah korset (biasa dikenakan sebagai cirri orang-orang non-muslim pada saat itu), saya akan ikat pinggang saya dengannya, agar reputasi saya pudar dimata manusia”. Maksudnya apa, Abu Yazid sampe begitu kerasnya pengen menghukum diri, gara-gara malu bersikap sombong kayak gitu!
            Maka Abu Yazid pun pergi mencari korset. Dan di sebuah took di pasar, dia lihat orang yang menjual korset. Abu Yazid pikir, “paling-paling harga korset ini Cuma satu dirham.
            “Berapa harga korset ini?”Tanyanya pada si penjual.
            “Sribu dinar, “ jawab si penjual.
            “Terang aja Abu Yazid kaget. MAHAL BENER! Sampai-sampai dia menundukkan kepala saking kagetnya, kok jadi gini? Nah, di saat itulah Abu Yazid mendengar bisikan,
            “Abu Yazid, kamu sadar nggak?mereka nggak akan menjual korset untuk mengikat punggung orang-orang seperti kamu seharga kurang dari seribu dinar!”
            Mendengar hal itu, hati Abu Yazid gembira, karena akhirnya dia sadar, kalo Allah peduli sama hamba-Nya. Jadi, intinya jangan cepat dan gampang putus asa, kalo ngerasa pernah berbuat salah.
            Inget lho, kasih sayang dan ampunan Allah, lebih dari yang kita bayangkan, kok!


Rabu, 11 November 2009

Cerita Sahabat Muslim 19


Abu Yazid Busthami & Pemuda Gambus



            Kisah ini tentang Abu Yazid Busthami, (yang sama sekali nggak ada hubungannya sama Iyet Bustami, penyanyi dangdut pelantun “Laksamana diraja”itu).karena ketaatannya dan ibadahnya yang luar biasa, sampai-sampai beliau dijuluki ‘Raja Sufi’.
                Nah, meski begitu, namanya ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Nah, beliau tuh terkenal sering pergi berziarah ke berbagai perkuburan. Tujuannya, apalagi kalo bukan inget mati, nyadar diri, etc.
                Suatu malam, waktu beliau dalam perjalanan kembali dari ziarah, seorang pemuda bangsawan mendekat sambil main gambus. Ini anak muda, anak orang kaya alias bangsawan, dan lagi mabok berat.
                Spontan, Abu Yazid ngomong, “Ya Allah, selamatkan kami.”
                Eh, namanya juga orang lagi mabok, mendengar kata-kata Abu Yazid itu, sang anak muda itu kontan meradang. Tanpa ba-bi-bu, dia pukul tuh gambusnya ke kepala Abu Yazid.
                Prakkkk!
                Saking kerasnya, pukulan itu melukai kepala Abu Yazid sampai berdarah. Dan saking kerasnya, gambus itu sendiri sampai patah. Tapi, boro-boro minta maaf. Yah, namanya juga orang mabok, anak muda itu langsung ngeloyor, dan nggak sadar, siapa yang dipukulnya.
                Marahkah Abu Yazid, sang raja sufi itu? Wah, mungkin kalo kita udah manggil orang sekampung buat membalas itu anak muda. Abu Yazid? Boro-boro. Beliau malah usap kepalanya, membersihkan darah yang mengucur, lalu kembali kepada para sahabatnya dan menunggu hingga pagi hari. Waktu pagi, beliau Tanya pada salah seorang sahabatnya.
                “Eh, berapa sih, harga sebuah gambus?”
                “Buat apa? Apa kamu mau jadi musikus?” Tanya sahabatnya keheranan
                “Ada aja,” ujar Abu Yazid sambil tersenyum.
                Tapi akhirnya, sahabatnya itu kasih tahu juga, harganya sekian. AbuYazid manggut-manggut, lalu ia membungkus uang sejumlah itu dengan sehelai pakaian, menambahkan sepotong manisan, dan mengirim kurir pada si pemuda yang mabok dan memukulnya tadi malam!
                Pada kurirnya, Abu Yazid berpesan,
                “Tolong bilang sama anak muda itu, kalo Abui Yazid memohon maaf. Katakana pesan saya seperti ini, ‘ semalam kamu memukul kepalaku dengan gambusmu sampai patah. Terimalah uang ini sebagai ganti rugi, dan belilah gambus baru. Sementara, manisan ini, buat menhibur hati kamu, karena kamu pasti sedih banget, gara-gara gambus kamu patah.”
                Si kuri berangkat, dan ketemulah sama anak muda tajir itu. Pesan Abu Yazidpun disampaikan, dan terang aja si pemuda itu terkaget-kaget dapet balesan kaya’ gitu.         
                Saking malunya, buru-buru anak muda itu dateng ke Abu Yazid, buat minta maaf. Abu Yazid menerima anak muda itu dengan ramah, dan Karena sikap Abu Yazid yang mengesankan, anak muda itu sampai bertobat, dan banyak anak muda lain yang ikut bertobat bareng-bareng sama dia.
                Kisah ini mengesankan banget buat saya. Pertama, meski udah jadi orang alim, nggak ada tuh, sikap Abu Yazid yang merendahkan pemuda itu. Perhatiin deh, do’anya saat ngelihat anak muda itu lagi mabok, “Ya Allah, selamatkanlah kami,” bukannya, “ Selamatkanlah dia,” ini bener-bener sikap yang rendah hati, yang emang seperti itulah perintah Al-Qur’an:
                “Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan dia lebih mengetahuimu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
                Kedua, kisah ini juga makin menyadarkan saya, kalo kita mau ngajak orang ke jalan kebaikan, tetep aja mesti dengan cara-cara yang manis dan menyenangkan. Nggak ada ceritanya, orang lagi asyik berdosa mau insaf justru di maki-maki, apalagi dicela-cela pribadinya yang sedang berkubang dosa itu.
                Sikap Abu Yazid sebetulnya juga mencontoh sikap Nabi Muhammad SAW, yang akhirnya banyak mengislamkan orang lain lewat perilakunya yang mengesankan, terhadap orang –orang yang semula memusuhinya. Begitchu…….


Selasa, 10 November 2009

Cerita Sahabat Muslim 18




            Kisah Kasih Gara-Gara Buah Apel

            Pada masa kejayaan kekhalifahan Islam Abbasiyah, ada seorang pemuda bernama Basyir. Ia tinggal di sebuah desa di kaki pegunungan, yang letaknya dua hari perjalanan unta dari kota Baghdad.
            Basyir ini dikenal sebagai pemuda yang tampan, saleh, rajin, dan ringan tangan. Ups, ini bukanya suka memukul, tapi maksudnya suka menolong, gitu. Kalo ngeliat ada orang tua yang kepayahan membawa barang bawaan dari pasar, Basyir buru-=buru nawarin bantuan. Zaman itu, bawa air biasanya buat minum biasanya pakai gerabah. Nah, kalo ada orang tua yang keberatan memanggulnya di kepala, Basyir juga nggak segan-segan ngebantuin.
            Kalo selesai shalat Ashar sampe waktu masuk maghrib, ia belajar di madrasah ulama-ulama terkemuka di desanya. Ia juga dikenal cerdas, sehingga nggak heran kalo diantara teman-temannya, Basyir jadi tempat bertanya perihal Ilmu-ilmu agama.
            Sama anak-anak kecil, ia juga tekenal sayang, tak jarang, ia sengaja membeli kue-kue, gula-gula atau kismis untuk dibagi-bagikan. Wah, pokoknya dia ini pemuda ideal banget, deh.
            Basyir sendiri hidup sama kedua orang tuanya yang sudah tua. Usai shalat shubuh, dia udah sibuk melakukan berbagai pekerjaan rumah: mulai dari nimba air dari sumur ke penampungan, sampai menggiling gandum buat keperluan makan sehari-hari. Setelah itu, ia bakal siap-siap menuju lading gandum milik keluarganya. Lading itu adanya di kaki bukit, yang di tengah-tengahnya mengalir sungai dangkal namun cukup deras. Pohon-pohon sitrun dan zaitun tumbuh berderet-deret rapi di sisi-sisi lading, menjadi tempat yang nyaman bagi burung-burung untuk membuat sarang. Menjelang tengah hari, biasanya sang ibu bakal mengutus seorang anak kecil untuk membawa makan siang untuk Basyir.
            Suatu hari, matahari baru saja tergelincir dari atas kepala, shalat dzuhur juga baru kelar ia tunaikan. Basyir duduk di bawah sebatang pohon yang rindang, di sisi sungai. Peluh bercucuran di sekujur tubuhnya. Kakinya menjuntai, masuk ke dalam air sehingga air mengalir sejuk di sela-selanya. Uh, segar. Apalagi, jam-jam segini, mustinyasi Ali, anak kecil yang biasanya nganterin makanan siangnya, udah nongol. Perutnya sendiri udah mulai kriuk-kriuk.
            Lama dia menunggu, mana nih, si Ali kecil? Zaman itu belum ada HP, jadi boro-boro dia bisa kirim SMS. Basyir Cuma bisa melotot ke kejahuan, berharap si Ali kecil nongol.
            Namun, sia-sia. Ya, dia nggak tahu kalo hari itu si Ali mendadak sakit, sehingga dia emang nggak bisa jalan ke luar rumah. Saat itulah, ia memandang permukaan sungai. Matanya tertumpu pada sebuah benda bulat kemerahan yang timbul tenggelam terbawa arus.
             “ Subhanallah, apaan tuh? Keliahatannya kayak buah apel!” pikirnya.
            Tanpa pikir panjang, Basyir melompat ke sungai yang airnya Cuma setinggi lutut. Allah Maha Pmurah. Benda itu ternyata emang benar sebuah apel merah sebesar kepalan tangan. Segar.
            “Waduh, rejeki, nih!” serunya girang pula. Karena lapar, bismillaah, ia cepat-cepat melahapnya. Nikmat…….
            Eh, baru juga beberapa gigitan, Basyir ingat sesuatu.
            “Astaghfurullah, siapa pemilik apel ini? Sayakan belum minta izin sama yang punya.” Basyir nyaris tersedak. Reflek, ia buang sisa apel yang masih ada di mulutnya. Tapi kan, sebahagian sudah melengang masuk dalam perutnya. Ini yang membuat Basyir pucat pasi. “ Ya Allah, ampuni saya! Saya udah makan makanan yang bukan hak saya.”
            Basyir sadar, ia harus minta keikhlasan dari pemilik apel itu. Kalo nggak, apel itu udah jadi barang haram baginya. Aduh! Basyir ingat pelajaran di madrasahnya. Sabda Nabi, jika barang haram yang termakan, maka akan menjadi daging yang di bakar oleh api neraka.
            Cemas dan khawatir, Basyir bangkit. Rasa laparnya sekonyong-konyong raib entah kemana. Tekadnya udah bulat.
            “saya mesti temuin orang yang punya apel ini, minta keikhlasan dari pemiliknya, “ gumamnya. Sisa apel yang belum dimakan di ambil lagi dan dia kantungi. Basyir lantas pergi menyusuri tepi sungai, berjalan mendaki kea rah hulu sungai. Ia ingat pada sebuah desa di perbukitan sana, yang emang banyak memiliki kebun apel.
            Menjelang matahari tergelincir dan masuk waktu Ashar, Basyir tiba disebuah kebun apel yang luas pada desa yang dituju. Ia celingukan, dan emang kayaknya apel-apel yang lebat di pohon-pohon itu, sama dengan yang baru ia kunyah sekian jam yang lalu. Apalagi, kebun itu terletak persisi di tepi sungai. Masuk akal kan, kalo ada sebutir yang jatuh, terus kebawa arus sungai ke tempat lading gandumnya?
            Dengan mantap, Basyir melangkah masuk ke dalam kebun, dan menjumpai seorang pria tua, dengan wajah yang teduh dan tubuhnya yang subur, berpakaian bagus dan jubah yang halus, sedang berkeliling diiringi beberapa tukang kebunnya. Janggut putih yang tumbuh rapi di wajahnya bikin hati Basyir jadi lega. Orang tua itu tampak sibuk member petunjuk pada tukang-tukang itu.
            Melihat itu semua, dalam hati Basyir berkata, “ Ah, orang tua ini pasti pemilik kebun apel yang saya cari-cari. Kayaknya sdia juga orang alim dan baik, nih.”
            Basyir segera menghampirinya, memberi salam dengan ta’zim sambil berkata, “ Wahai tuan pemilik kebun yang mulia, terimalah salamku. Saya mohon maaf atas kelancangan saya mengganggu kesibukan tuan.”
            Orang tua itu terkejut rada kaget juga melihat kedatangan Basyir. Tapi rasa kaget itu sekejap hilang, begitu didengarnya kalimat yang penuh sopan santun itu. Kini giliran Sang Bapak yang tersenyum,
            “Alaykum salam, selamat datang anak muda. Kelihatannya kamu bukan penduduk desa kami, ya? Apa keperluanmu?” ujarnya ramah.
            Dapat sambutan yang juga ramah, Basyir pun lega. Akhirnya dia langsung cerita tentang dirinya, asal kediamannya, sampai dengan buah apel yang ditemuinya, dan perjalanannya mencari pemilik buah apel itu.
            “Jadi, pak. Saya ma uterus terang. Apa benar ini apel milik bapak?” Tanya Basyir sambil nunjukin sisa buah apel yang nggak jadi dimakannya.
            Orang tua itu tersenyum, dan menjawab, “Wah, emang bener tuh, apel itu emang hasil dari kebun saya. Yah, ini kan apel jenis terbaik dari sini. Kalo apel Malang, tentu saja kamu harus mencarinya di Indonesia. Eh, kok jadi ngelantur. Maaf, maaf. ‘tuh, kamu lihat sendiri, kan?” sambil berkata, orang tua itu menunjuk pada buah-buah apel yang bergelantungan di pepohonan.
            “Nah,” kata Basyir lega, “ sekarang, saya mohon keikhlasan dari bapak, karena saya udah makan buah apel dari kebun bapak ini tanpa meminta izin sebelumnya. “ kata Basyir lega,
            Sang bapak itu diam-diam kagum menyaksikan tekad si Basyir. Kalo mau, bisa aja dia diam. Siapa sih, yang peduli dama apel satu biji diantara ribuan apelnya ini? Kok ada ya, anak muda kayak gini?
            Para tukang kebun yang melihat kejadian ini pun diam-diam saling berbisik. Siapa sih actor sinetron, eh, anak muda gagah dan tampan ini, yang tutur katanya begitu sopan mempesona, yang akhlak dan sikap hati-hatinya begitu mulia, dan rela menempuh jalan jauh Cuma untuk mendapatkan keikhlasan sebuah apel?
            “Ehm, nama kamu siapa, anak muda?”
            “Saya? Oh, saya Basyir, pak.”
            “Oke, Basyir. “ akhirnya bapak itu berkata setelah terdiam agak lama “ tapi saya Cuma mau mengikhlaskan buah apel itu, dengan satu syarat.”
            “Syarat apa ya, pak?” Tanya Basyir. Dalam hati, ia udah siap mental, kalo emang sampai diperintahkan melakukan apa saja. Ibaratnya, disuruh membersihkan kebun seluas ini seharian juga, dia terima. Yang penting, si bapak itu ikhlas sama apelnya yang udah dia makan.
            “Syaratnya gampang, Syir. Kamu mesti nikah sama putriku,” ujar bapak pemilik kebun itu kalem.
            Hah? Nggak salah denger, nih?
            Tapi, sebelum Basyir sempat melompat teriak Yes! Yes! Yes! Karena bakal dikawinkan, si bapak itu buru-buru melanjutkan,
            “Tapi kamu musti tahu, Basyir. Putriku itu adalah seorang gadis yang tuli, buta, bisu dan pincang. Bagaimana?”
            Basyir tertegun. Niatnya histeris kegirangan langsung terbang, berganti dengan batin yang diliputi rasa bimbang. Duh, syaratnya kok gini amat?apa-apaan nih? Tapi dasar pemuda shaleh, Basyir sadar nggak mungkin dia menjilat ludah sendiri. Akhirnya, dengan mantap iaberkata, “Baiklah, insya Allah saya bersedia menerima syarat itu.”
            Saat itu juga, panggung terbuka, dan music ala royal philharmonic orchestra berkumandang dengan megahnya. Eh, itu sih khayalan saya. Bukan. Maksud saya, saat itu juga, bapak pemilik kebun menjabat tangan kanan Basyir dan ijab Kabul singkatpun terjadi. Masih separo nggak percaya, Basyir dan mertua barunya itu kini berjalan keluar kebun, menuju sebuah rumah besar dengan pilar-pilar dan air mancur di tengah-tengah halamannya. Rumah yang megah itu terletak di pusat desa. Bapak tua itu masuk lebih dahulu untuk member tahu putrinya kalo kini, dia sudah bersuami.
            Saambil menunggu, Basyir termangu. Dalam hati ia berdo’a, “Ya Allah, tolong kuatkan hati saya dalam menerima keputusan-Mu. Saya mohon petunjuk-Mu, karena semua kulakukan demi mendapat keridhoan-Mu.”
            Nggak lama kemudian, sang ayah mertua keluar dari dalam rumah. Sambil menunjuk kea rah sebuah kamar, ia berkata, “Basyir, sekarang kamu temui istrimu.”
            Basyir mengangguk. Sumpah! Hatinya deg-degan abis, membayangkan istri macem apa yang bakal dijumpainya.
            “Tapi, kamu mesti tahu,Basyir. Putriku itu adalah seorang gadis yang tuli, buta, bisu, dan pincang. Bagaimana?” kata-kata pemilik kebun, eh, papa mertuanya itu, kembali terngiang di kepalanya.
            Akhirnya Basyir sampai juga di depan kamar yang dituju. Pelan-pelan, ia mengucap salam dan lambat-lambat mengetuk pintu. Yah, dia toh nggak bakal denger juga, gumam Basyir. Cuma, tahu-tahu terdengar sahutan lembut lagi merdu menjawab salam yang ia ucapkan…”
            “Wa’alaikumsalam, selamat datang suamiku…”
            Basyir terkejut, darahnya serasa kering seketika. Lho, katanyua tuli? Tapi, ah, pantang mundur, nih. Ia kuatkan hati, dan melangkah masuk meski dengan langkah ragu. Usai empat langkah yang terasa berat, dihadapannya kini terlihat seorang wanita dengan cadar menutupi mukanya, tengah duduk seperti sudah lama menantinya. Nah, waktu melihat Basyir, perlahan dan anggun, wanita itu membuka cadarnya.
            Basyir nyaris pingsan. Gabungan wajah 10 miss universe itu kini tampak di hadapannya. Bidadari! Aku melihat bidadari syurga! Basyir terperangah dan mencubit kulit lengannya sendiri sakit!
            “Ya Allah! Aku nggak mimpikan, tapi, masya Allah, ia nggak buta. Dia menjawab salamku, itu artinya dia nggak bisu dan tuli!” Basyir berteriak dalam hati. Apalagi, sang dara jelita tiada tara itu kini melangkah menghampirinya, meraih tangan Basyir dan menciumnya dengan takzim. Ia bergerak dan berjalan dengan sempurna. Tidak pincang seperti yang digambarkan oleh ayahnya.
            Tapi seketika itu juga Basyir tersadar. Ia yakin ada sesuatu yang nggak beres. Dengan meminta maaf, cepat-cepat ia keluar dan mencari-cari sang mertua. Dilihatnya, sang papa mertua sedang duduk di teras rumah, buru-buru Basyir menghampiri.
            “Eh, kamu nak Basyir. Ada apa?” tegurnya ramah, meski agak kaget melihat Basyir yang muncul tiba-tiba.
            “oh bapak. Maafkan saya, saya….demi Allah, saya ikhlas dengan syarat yang bapak minta dari saya. Tapi mungkin saya salah menerimanya. Putrid bapak, dia…..anu…..eh….”
            “Ya, anakku, ada apa dengan dia?”
            “Pak, dia nggak buta, dia nggak tuli, dia nggak bisu dan pincang seperti yang bapak gambarkan, jadi bapak mungkin salah memberikan putrid yang bapak maksudkan…”
            Sang papa mertua tersenyum lebar. Lagi-lagi dia merasa bahagia. Aku nggak salah pilih! Anak muda ini bener-bener punya integritas diri yang luar biasa, begitu kira-kira dia membatin kalo dia hidup di jama sekarang. Dia tepuk pundak Basyir, dan kemudia menyuruhnya duduk.
            “Basyir, anak saya emang buta, karena sepengetahuan saya, matanya senantiasa terjaga dari hal-hal yang diharamkan Allah ta’aala. Begitu juga telinganya, ia selalu gunakan untuk mendengarkan hal-hal terpuji, dan karenanya aku pikir dia tuli dari hal-hal tak berguna.”
            Sang papa mertua diam sebentar, melihat reaksi Basyir. Lalu,
            “Mulutnya, ah, lebih sering dia gunakan untuk berdzikir menyebut nama-Nya, mengucapkan kata-kata dengan sesama, dan jauh dari pembicaraan yang sia-sia dan nggak berguna. Ia juga pincang, kalo musti pergi ke tempat-tempat dugem dan maksiat, karena memang, sejauh sepengetahuanku, langkahnya selalu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan pada keta’atan. Nah, sekarang kamu mengertikan, Basyir?”
            Basyir kembali bengong. Oh, jadi init oh, maksudnya? Tapi cepat-cepat ia menukas, “lantas, kenapa bapak memilih saya?sayakan baru bapak kenal, sementara putrid bapak, mestinya dia dapet orang yang jauh lebih tajir dan sholeh daripada saya.”
            Kini senyum sang papa mertua semakin mengembang.
            “Saya yakin, tindakan kamu mencariku untuk meminta keikhlasan atas apel dari kebunku, adalah petunjuk Allah tentang siapa diri kamu sebenarnya. Padahal, apalah artinya sebuah apel diantara ribuan apel dari kebunku ini? Tapi, Basyir, demi Allah, kamu sudah membuktikan keta’atanmu dan rasa takutmu kepada Allah SWT, dengan cara yang begitu indah. Makanya, saya yakin saja, kamulah jodoh yang disiapkan Allah SWT untuk menjadi suami dari putriku.”
            Singkatnya, Basyir hidup berbahagia dengan istrinya yang canti dan shaleha itu. Pernikahan itu membuahkan seorang putra, yang oleh mereka diberi nama Nu’man.
            Kelak di kemudian hari, Nu’man bin Basyir dikenal sebagai seorang ulama besar yang melimpah ilmunya, termasyur kehalusan budinya dan keuliaan akhlaknya, keteguha sikapnya, arif dan bijaksana. Dan Nu’man bin Basyir, lebih dikenal dengan nama Imam Abu Hanifah, pelopor madzhab Hanafi.



Minggu, 08 November 2009

Cerita Sahabat Muslim 17


Berhaji Meski Gak Pergi


            Berhaji tanpa pergi?
            Kalo soal ini, kita mesti baca kisahnya Abdullah bin Mubarak, seorang ulama yang kondang banget keluasan ilmu dan akhlaknya. Ahli ibadah dan mencintai hidup yang bersahaja, sehingga dia dikenal juga sebagai seorang sufi. Beliau hidup pada masa khalifah al Mutawakkil di zaman kekhalifahan Abbasiyah.
            Ibnul Mubarak uga di kenal sebagai ahli hadits. Kita tahukan, kalau ilmu hadits adalah ilmu yang membahas perihal berita-berita tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW, sehingga nggak heran, kalo majelis ilmu yang dipimpinnya selalu diramaikan sama jama’ah yang rindu mendengar kisah-kisah Rasulullah SAW.
            Namanya juga sufi, beliau terbiasa berhati-hati dalam menjaga diri. Konon, saking hati-hatinya, Abdullah bin Mubarak pernah menempuh perjalanan jauh ke kota Damaskus selama berhari-hari, Cuma untuk mengembalikan pena yang dia pinjem dari seorang teman.
            Beliau juga kondang karena kebaikan akhlaknya, sehingga dicintai para ttetangga. Sampai-sampai, ada seorang yahudi tetangganya, sewaktu menjual rumahnya, ia berani kasih harga dua kali lipat dari harga pasaran, yakni 2000 dinar.
            “mahal amat!” gerutu seorang calon pembeli.
            Apa jawab yahudi itu?
            “harga pasaran rumahku ini emang 1000 dinar. Nah, yang 1000 dinar itu harga karena bertetangga sama Ibnul Mubarak.”
            Karena kemahalan, transaksi batal. Tapi, obrolan itu kedengeran sama Ibnul Mubarak. Dia datangi tetangganya itu sambil member uang 1000 dinar dan menyuruhnya agar jangan pindah.
            Yah, begitulah kemuliaan akhlak Abdullah bin Mubarak, sampai-sampai namanya jadi ikut-ikutan menaikkan harga property eh, kok jadi ngaco begini?
            Nah, suatu hari, tiba saatnya musim haji. Badullah bin Mubarak menyambut saat itu denga penuh suka cita dan segera bersiap-siap untuk berangkat dengan para muridnya. Begitu siap, rombongan Abdullah bin Mubarak pun berangkat. Perjalanan bisa memakan waktu sebulan, lho! Iya, kala itu belum ada pesawat terbang atau bus malem, kan? Apalagi busway dan becak way…..
            Rombongan Ibnul Mubarak tiba dan bergabung dengan ribuan jama’ah haji, yang datang dari berbagai penjuru dunia. Mereka berbondong-bondong memasuki kota suci Mekkah. Wah, jalan-jalan Mekkah penuh dengan debu dan orang ytang berlalu lalang. Ramai sekali.
            Beberapa hari kemudian, saat usai melakukan Thawaf atau berjalan mengelilingi ka’bah, karena kelelahan, Ibnul Mubarak mengantuk luar biasa. Saking payahnya, beliau akhirnya tertidur di bawah ka’bah. Waduh, kalo sekarang, beliau pasti sudah diseret sama askar (penjaga) kerajaan. Untung waktu itu belum ada, ya?
            Nah, dalam tidurnya, beliau bermimpi, melihat dua malaikat turun dari langit, dan mengamati para jama’ah yang jumlahnya ribuan orang itu. Mereka tentu bukan Cuma jalan-jalan iseng, Karena ternyata karena ternyata mereka juga sibuk mencatat sana-sini. Iyalah, namanya juga malaikat!
            Malaikat yang satunya bertanya
            “Berapa orang yang pergi haji tahun ini?”
            “Wah, seratus ribu orang lebih,” jawab malaikat kedua sambil memerhatikan catatannya
            “ Lalu, berapa orang yang diterima hajinya?”
            Malaikat kedua membolak-balikan catatannya.
            “Tidak seorang pun,” jawabnya tandas.
            Ibnul Mubarak terkejut mendengar percakapan itu.
            Hah? Bagaimana mungkin? Seratus ribu orang yang pergi haji dari berbagai tempat yang jauh, dengan rambut yang kusut masai terkena debu gurun, dan onta-onta yagn kurus kering, saking jauhnya berjalan. Masa’ iya, tak satupun yang diterima? Apakah malaikat ini salah mencatat atau salah meneliti? Nggak mungkin.
            Saat itulah malaikat kedua berkata,
            “Hei, tunggu, tunggu dulu. Ada, ada kok yang hajinya diterima. Tapi, Cuma satu orang, brother.”
            “siapakah dia?” Tanya malaikat pertama.
            “Namanya…..ah, ini dia. Namanya Ali bin al Muwaffaq.
Dia orang Damaskus. Cuma dia nih, yang ibadah hajinya diterima. Tapi, eh, ini aneh…”
            “Apanya yang aneh?”
            “Maha suci Allah dengan segala karunia-Nya. Hanya dia yang diterima, padahal ia tidak berangkat dan hadir di tanah suci ini.”
            How come? Saking kagetnya, Ibnul Mubarak terjaga dari tidurnya. Sambil menenangkan diri, beliau tercenung. Ia yakin, mimpi itu bukanlah mimpi sembarangan.
            Jadi, diantara ribuan orang ini, hanya satu orang yang diterima? Padahal ia nggak pergi dan hadir di tempat ini? Bagaimana mungkin? Ali bin al Muwaffaq. Siapa dia? Hebat bener nih, orang! Aneka pertanyaan spontan bergelayutan di benaknya.
            Abdullah bin Mubarak jelas penasaran sama mimpinya itu. Makanya, usai musim haji, Ibnul Mubarak memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Damaskus. Ia bertekad akan mencari tahu, siapa sih Ibnul Muwaffaq? Kok, bisa-bisanya dia nggak masuk daftar eliminasi sendirian? Pastilah ia seseorang yang amat istimewa, sehingga Allah SWT menghadirkan namanya dalam mimpinya.
            Kita mengerti kenapa Ibnul Mubarak berfikir kayak gitu, karena mimpi seorang mukmin, menurut sabda Nabi Muhammad SAW, adalah 1/46 dari wahyu kenabian.
            Kota Damaskus masih ada sampai sekarang, lho! Yaitu, ibukota Negara Syria. Jaraknya, ribuan kilometer dari kota Mekkah. Jadi, wajar jika sebulan penuh kemudian, Ibnul Mubarak baru tiba di kota Damaskus. Setelah bertanya kesana kemari, akhirnya Ibnul Mubarak tiba di rumah Ali bin al Muwafffaq, yang ternyata adalah seorang tukang sepatu.
            Tok, tok, tok!
            Pintu terbuka dan seraut wajah ramah dengan air muka berseri-seri, menyambut kedatangannya. Rupanya, Ali bin al Muwaffaq sendirilah yang membuka pintu. Abdullah bin Mubarak lantas memperkenalkan diri, dan ternyata Ali bin al Muwaffaq telah mendengar nama Abdullah bin Mubarak. Wah, jelas dia bahagia banget karena seorang ulama kondang telah datang. Ibnul Muwaffaq memeluknya, dan dengan hangat segera mempersilahkan masuk.
            Usai saling bertegur sapa, akhirnya Ibnul Mubarak menceritakan maksud kedatanganya, tentang mimpinya dan bagaimana malaikat menyebut-nyebut nama Ali bin al Muwaffaq.
            “Padahal mad Ali ndak pergi hajikan, tahun ini?” tegas Ibnul Mubarak.
            “Nggak sama sekali,” jawab Ali bin al Muwaffaq dengan kagetnya. Kalo bukan Abdullah bin Mubarak yang ngomong, mana dia percaya.
            “Nah, mas Ali,” lanjut Ibnul Mubarak dengan penasaran, “kalo gitu, tolong beri tahu saya, apa kira-kira amal perbuatanmu, sehingga kamu bisa begitu beruntung, padahal kamu sendiri nggak pergi haji?”Ali bin al Muwaffaq diam sejenak. Perasaannya campur aduk. Bingung, kaget campur haru, pria separuh baya ini mati-matian menenangkan diri. Akhirnya, lamat-lamat ia berkata,
            “Pak Mubarak, siapa sih yang nggak pengen pergi haji” terus terang aja, bertahun-tahun lamanya saya menabung agar bisa pergi ibadah haji. Semua itu saya kumpulkan dari hasil keringat bikin dan reparasi sepatu, agar ia betul-betul halal. Tahu ini, sebetulnya saya sudah menghitung-hitung, dan saya girang, karena tabungan saya telah mencapai 300 dinar. Pikir saya, h, udah cukup nih, buat bekal menunaikan haji.
            Eh, tepat di hari saya mau berangkat, tiba-tiba bau masakan yang gurih dan lezat, mampir ke rumah kami. Selidik punya selidik, bau itu kayak sop daging, datang dari tetangga sebelah. Asal tau aja. Wahai Ibnul Mubarak, tetangga kami itu janda dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil. Jadi, istri saya bilang; papah, kayaknya mamah ingin nyobain masakan tetangga kita itu. Minta dong, barang semangkok. Jadi, saya pergi dan minta barang semangkok sup.


Ya Allah, saya kaget banget!
Saya pikir, aduh, saya bisa dosa,
Nih! Padahal, saya pernah denger sabda Rasulullah SAW
Nggak Beriman seseorang, kalo kita
Kenyang, sementara tetangga kita
kelaparan

            Eh bukannya ngasih, sambil menangis ibu janda itu bilang, makanan itu nggak halal buat kamu. Saya heran,


             
           
             

           
Dan bertanya pada si ibu tadi kenapa bisa begitu. Akhirya, dia ngaku kalo yang dia masak itu bangkai keledai. Dia bercerita kalo mereka udah nggak makan selama beberapa hari. Jadi, daripada anak-anaknya terus kelaparan, pas ketemu bangkai keledai, dia ambil aja dagingnya dan itulah yang dia masak agar keluarganya bisa makan.”
            “Ya Allah, saya kaget banget!saya pikir, aduh, saya bisa dosa, nih! Padahal, saya pernah dengar sabda Rasul SAW, nggak beriman kita, kalo kita kenyang, sementara tetangga kita kelaparan. Jadinya, tanpa piker panjang, saya serahkan aja 300 dinar hasil tabungan bekal haji saya itu sama dia. Itulah sebabnya saya nggak bisa berangkat pergi menunaikan haji. Tapi, saya lega, pak Mubarak. Setidaknya, saya nggak termasuk muslim yang menyia-nyiakan tetangga.”
            Kini giliran Abdullah bin Mubarak yang terharu. Sekarang, beliau baru sadar, ini dia nih, rahasia di balik mimpinaya itu. Keikhlasan Ibnul Muwaffaq emang bener-bener luar biasa. Dia mampu mengalahkan keinginan dirinya Cuma untuk menolong tetangganya yang kelaparan. Jadi, Abdullah bin Mubarak sadar, wajar aja kalo Ibnul Muwaffaq mendapat kemuliaan yang lebih tinggi, lebih dari orang yang pergi haji.

 Sumber buku : remaja bau sorga