Jumat, 23 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 6


Bisyr Ibnu Al-Harits Si Kaki Telanjang

Nah, sekarang kita kenalan yuk sama seorang sufi yang mulanya adalah penikmat dunia banget, khususnya dunia gemerlap alias “Dugem”
Namanya Abu Bisyr Ibnu Al-Harits Al-Hafi, beliau lahir di dekat Merv pada tahun 150 H/767 M, dan dijuluki si kaki telanjang. Ia hidup sezaman dan bahkan bertemu dengan Imam Ahmad bin Hambal, seorang ulama ahli hukum islam terkenal. Ia wafat di Baghdad pada tahun 227 H/841 M. Ia dikagumi oleh Imam Ahmad Ibnu Hambal dan dihormati oleh khalifah al Ma’mun.
Ketika masih muda, akibat pergaulan, Bisyr gemar berfoya-foya. Pada masa itu, Baghdad sudah jadi kota cosmopolitan dengan berbagai bangsa. Jadi, banyak diantara mereka yang membentuk perkumpulan hura-hura di sana. Nah, Bisyr adalah pemuda yang cool dan tampan, tak heran jika ia menjadi bintang di berbagai perkumpulan “dugem” itu. Ia gemar minum anggur sampai mabuk, dan pulang dalam keadaan teller. Begitulah setiap harinya si Bisyr itu.
Pada suatu malam, dalam keadaan mabuk, Bisyr berjalan terhuyung-huyung menyusuru lorong-lorong kota Baghdad untuk kembali ke rumahnya. Malam telah larut dan sepi. Sementara lampu-lampu jalan berkelap-kelip dan bergoyang ditiup oleh angin, tubuh Bisyr bergoyang karena teller, alias mabuk, persisi gaya Jackie Chan di dalam filmnya saat ia keluarkan jurus mabuknya.
Tapi , ah, ada-ada aja deh, cara Allah menegur hamba-Nya. Di sebuah jalan, tiba-tiba Bisyr melihat secarik kertas tampak bergerak-gerak di tiup angin. Mata Bisyr menyipit dan ia membungkuk memperhatikan kertas itu, yang tampak bertuliskan sesuatu. Meski dalam keadaan teller, Bisyr masih sempat membacanya. Wah, ternyata di kertas tersebut bertuliskan lafadz Allah.
Waduh, meski dalam keadaan teller, Bisyr kaget buka main. Diciuminya kertas itu dengan gemetar, lalu ia menyimpan kertas itu dalam lipatan bajunya dengan hati-hati. Sampai di rumah, ia member harum-haruman pada kertas itu, diletakkannya kertas itu pada atas lemari dan kemudian ia pun rebah tertidur dengan pulasnya. Ah, dasar prema sholeh!
Malam itu juga, seorang sufi yang tinggal di kota Baghdad, bermimpi. Seorang malaikat datang kepadanya, dan menyuruhnya untuk pergi menemui Bisyr. Dalam mimpinya, malaikat itu berkata, “Katakan pada Bisyr bahwa Allah SWT mengirim salam kepadanya, karena telah menjaga dan memuliakan nama-Nya.”
Sang sufi kaget dan terbangun. “Nggak mungkin!” Gumamnya. “Bisyr kan, seorang pemabuk. Aku pasti digoda syaiton.”
Sang sufi lalu berwudhu dan kembali tidur. Namun lagi-lagi mimpi itu datang lagi. Kedua kali, ia masih belum mau percaya. Ia kembali berwudhu dan tidur lagi. Namun, karena dalam tidurnya ia kembali bermimpi hal yang sama, sang sufi sadar bahwa mimpi itu bukan sekedar bunga tidur.
Keesokan harinya, sufi itu pergi mencari Bisyr. Masya Allah, dia menjumpai Bisyr di tengah pasar, dan seperti biasanya, Bisyr sedang minum anggur bersama teman-temannya. Sang sufi hanya bisa mengelus dada, namun ia ingat akan pesan malaikat dalam mimpinya yang harus ia sampaikan pada pemuda yang bergajulan itu.
“Assalamu’alaikum, mas Bisyr! Maaf ni, kalo saya ganggu. Lagi sibuk ya?”
Bisyr sempat kaget juga ditegur orang tua itu. Kalo yang menegur keamanan pasar sih, biasa. Tapi orang tua ini, ya ampun. Bisyr sampai menyembunyikan botol anggurnya saking malunya. Yang menegurnya adalah seorang sufi ahli ibadah. Malu-malu, Bisyr menjawab,
“Oh, eh, ya…nggak juga sih. Ada apa, oom, eh,   tuan sufi?”
Sang sufipum menceritakan mimpi yang dialaminya semalam. “Nah, Bisyr, kamu tuh, dapet salam dari Allah SWT, karena kamu telah menjaga dan memuliakan nama-Nya.”
Usai ngomong begitu, sang sufi segera pergi, meninggalkan Bisyr yang termangu. Barulan Bisyr sadar dan ingat pada kertas bertuliskan lafadz Allah yang ia simpan malam itu. Lama dia berfikir. Perlahan-lahan, entah datang darimana, muncul perasaan gelisah luar biasa. Sampai akhirnya, tiba-tiba Bisyr teriak:
“Aduh, kalo gitu, tentu saya nggak pantes lagi terbenam dalam hal-hal semacam ini.”
Spontan Bisyr membuang botol anggur yang sedang ia pegang, dan lari pontang-panting meninggalkan teman-temannya yang terbengong-bengong menyaksikan kejadian itu.
Dikisahkan, Bisyr menangis sejadi-jadinya, karena tobat dan malu abis sama Allah. Sejak itulah dia berpaling dari dunia gemerlapnya, dan menekuni jalan para sufi.
Nah, sejak ia tekun di jalan Allah itulah, Bisyr berubah total. Sederhana abis! Konon, selama empat puluh tahun, Bisyr pengen banget makan daging panggang, tapi ia kagak punya uang untuk membelinya. Selama bertahun-tahun hatinya pengen makan buncis, tapi kagak kesampaian. Ia juga konon sampe nggak pernah minum air yang berasal dari sumber air yang digali pemerintah.


Kamis, 22 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 5


Putra ABU Amir Al-Makky



Abu Amir al Maki dikenal sebagai seorang sufi. Agak beda dengan sufi-sufi lainnya, yang biasanya jarang menyebut-nyebut istri, Abu Amir terkenal kesalehannya bareng istrinya.
Mereka tinggal di Mekkah. Kesalehan dan kebaikan hati mereka berdua sangat terkenal, sehingga mereka sangat dihormati oleh tetangga-tetangga mereka. Apalagi, Abu Amr juga dikenal sebagai ahli ilmu agama dan rajin mengajarkannya kepada semua orang. Yah…jadi para tetangga lebih hormat deh ma beliau.
Nah, Abu Amir ini memiliki seorang putra yang masih balita. Namanya juga anak anak orang sholeh, sejak kecil anak itu sudah diajarkan untuk selalu mengingat Allah SWT. Cuma, cara pengajarannya yang dilakukan oleh Abu Amir dan istrinya itu sedikit unik. Salah satunya adalah waktu makan tiba.
Setiap kali anak mereka minta makan, maka Abu Amir menyuruh sang anak untuk pergi ke jendela dan berdo’a minta apa yang kira-kira ia pengen makan.
Namanya juga anak-anak, maka do’anya kagak repot-repot amat. Jadi, anak itu biasanya bakal nyebutin roti kesukaannya. “Ya Allah, beri aku roti….”
Nah, saat anaknya berdo’a itulah, Abu Amir dan istrinya sibuk menyiapkan makanan yang diminta oleh sang anak tersebut. Ketika siap, baru kemudian mereka memanggil sang anak.
“Nah anakku, lihat…..Allah telah mengabulkan do’a kamu, sayang!”.
Begitulah, setiap hari beliau mendidik anaknya tersebut. Sampai suatu saat, Abu Amir dan istrinya harus keluar rumah untuk suatu keperluan. Setelah sang anak ditidurkan, mereka berdua kemudian pergi. Sayangnya perhitungan mereka sedikit meleset. Semula mereka fikir pergi nggak bakal lama. Tapi, wah, urusan diluar itu malah semakin panjang dan akibatnya mereka baru bisa kembali ke rumah saat dzuhur hamper tiba.
Pada saat itu Abu Amir dan istrinya ingat bahwa anak mereka belum makan. Dan yang lebih merisaukan lagi, makanan itu belum mereka siapkan. Sambil bergegas separuh panic, mereka buru-buru kembali ke rumah.
Tapi…….
Alangkah kagetnya mereka ketika tiba di rumah. Semula mereka membayangkan putra mereka sedang menangis karena lapar dan haus. Namun yang mereka temukan, si anak sedang duduk tenang-tenang di ruang tengah, sambil mulutnya mengunyah roti dan makanan lainnya, yang biasa mereka hidangkan.
Terheran-heran, dengan hati-hati mereka bertanya pada si anak
“Anakku sayang, siapa yang member semua makanan ini semua padamu?”
“Lho…..aku kan tinggal minta sama Dia yang memberiku roti setiap hari,” jawabnya tenang dan lugu.
Mendengar hal itu, sadarlah Abu Amir dan istrinya, bahwa anaknya sudah mengenal Allah SWT.
Jadi kalo kita ingin Allah dekat sama kita, gantungkan saja harapan hanya kepada-Nya. Insya Allah, akan banyak hal-hal luar biasa yang bakal menghampiri keseharian kita.
Kagak percaya?coba aja!

Sumber: Teguh Iman Perdana dalam bukunya Remaja bau sorga.


Rabu, 21 Oktober 2009

Bacalah Atas Nama Tuhanmu


KISAH BERKAT DI SEBALIK MEMBACA BISMILLAH 
Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mahu mengerjakan kewajipan agama dan tidak mahu berbuat kebaikan. Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan sentiasa memperolok-olokkan isterinya. Suaminya berkata sambil mengejak, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah." Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu." Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan wang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini." Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan beg duit ke dalam perigi di belakang rumahnya. Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku wang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan." Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu dia membuka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan beg duit dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali. Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mula mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulakan sesuatu kerja.

Nabi Muhammad SAW is the BEST



Seratus Tokoh: 01. NABI MUHAMMAD (570 SM - 632 SM)

Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi.
Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar.
Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia.
Umumnya, bangsa Arab saat itu tak memeluk agama tertentu kecuali penyembah berhala Di kota Mekkah ada sejumlah kecil pemeluk-pemeluk Agama Yahudi dan Nasrani, dan besar kemungkinan dari merekalah Muhammad untuk pertama kali mendengar perihal adanya satu Tuhan Yang Mahakuasa, yang mengatur seantero alam. Tatkala dia berusia empatpuluh tahun, Muhammad yakin bahwa Tuhan Yang Maha Esa ini menyampaikan sesuatu kepadanya dan memilihnya untuk jadi penyebar kepercayaan yang benar.
Selama tiga tahun Muhammad hanya menyebar agama terbatas pada kawan-kawan dekat dan kerabatnya. Baru tatkala memasuki tahun 613 dia mulai tampil di depan publik. Begitu dia sedikit demi sedikit punya pengikut, penguasa Mekkah memandangnya sebagai orang berbahaya, pembikin onar. Di tahun 622, cemas terhadap keselamatannya, Muhammad hijrah ke Madinah, kota di utara Mekkah berjarak 200 mil. Di kota itu dia ditawari posisi kekuasaan politik yang cukup meyakinkan.
Peristiwa hijrah ini merupakan titik balik penting bagi kehidupan Nabi. Di Mekkah dia susah memperoleh sejumlah kecil pengikut, dan di Medinah pengikutnya makin bertambah sehingga dalam tempo cepat dia dapat memperoleh pengaruh yang menjadikannya seorang pemegang kekuasaan yang sesungguhnya. Pada tahun-tahun berikutnya sementara pengikut Muhammad bertumbuhan bagai jamur, serentetan pertempuran pecah antara Mektah dan Madinah. Peperangan ini berakhir tahun 630 dengan kemenangan pada pihak Muhammad, kembali ke Mekkah selaku penakluk. Sisa dua setengah tahun dari hidupnya dia menyaksikan kemajuan luar-biasa dalam hal cepatnya suku-suku Arab memeluk Agama Islam. Dan tatkala Muhammad wafat tahun 632, dia sudah memastikan dirinya selaku penguasa efektif seantero Jazirah Arabia bagian selatan.
Suku Bedewi punya tradisi turun-temurun sebagai prajurit-prajurit yang tangguh dan berani. Tapi, jumlah mereka tidaklah banyak dan senantiasa tergoda perpecahan dan saling melabrak satu sama lain. Itu sebabnya mereka tidak bisa mengungguli tentara dari kerajaan-kerajaan yang mapan di daerah pertanian di belahan utara. Tapi, Muhammadlah orang pertama dalam sejarah, berkat dorongan kuat kepercayaan kepada keesaan Tuhan, pasukan Arab yang kecil itu sanggup melakukan serentetan penaklukan yang mencengangkan dalam sejarah manusia. Di sebelah timurlaut Arab berdiri Kekaisaran Persia Baru Sassanids yang luas. Di baratlaut Arabia berdiri Byzantine atau Kekaisaran Romawi Timur dengan Konstantinopel sebagai pusatnya.
Ditilik dari sudut jumlah dan ukuran, jelas Arab tidak bakal mampu menghadapinya. Namun, di medan pertempuran, pasukan Arab yang membara semangatnya dengan sapuan kilat dapat menaklukkan Mesopotamia, Siria, dan Palestina. Pada tahun 642 Mesir direbut dari genggaman Kekaisaran Byzantine, dan sementara itu balatentara Persia dihajar dalam pertempuran yang amat menentukan di Qadisiya tahun 637 dan di Nehavend tahun 642.
Tapi, penaklukan besar-besaran –di bawah pimpinan sahabat Nabi dan penggantinya Abu Bakr dan Umar ibn al-Khattab– itu tidak menunjukkan tanda-tanda stop sampai di situ. Pada tahun 711, pasukan Arab telah menyapu habis Afrika Utara hingga ke tepi Samudera Atlantik. Dari situ mereka membelok ke utara dan menyeberangi Selat Gibraltar dan melabrak kerajaan Visigothic di Spanyol.
Sepintas lalu orang mesti mengira pasukan Muslim akan membabat habis semua Nasrani Eropa. Tapi pada tahun 732, dalam pertempuran yang masyhur dan dahsyat di Tours, satu pasukan Muslimin yang telah maju ke pusat negeri Perancis pada akhirnya dipukul oleh orang-orang Frank. Biarpun begitu, hanya dalam tempo secuwil abad pertempuran, orang-orang Bedewi ini -dijiwai dengan ucapan-ucapan Nabi Muhammad- telah mendirikan sebuah empirium membentang dari perbatasan India hingga pasir putih tepi pantai Samudera Atlantik, sebuah empirium terbesar yang pernah dikenal sejarah manusia. Dan di mana pun penaklukan dilakukan oleh pasukan Muslim, selalu disusul dengan berbondong-bondongnya pemeluk masuk Agama Islam.
Ternyata, tidak semua penaklukan wilayah itu bersifat permanen. Orang-orang Persia, walaupun masih tetap penganut setia Agama Islam, merebut kembali kemerdekaannya dari tangan Arab. Dan di Spanyol, sesudah melalui peperangan tujuh abad lamanya akhirnya berhasil dikuasai kembali oleh orang-orang Nasrani. Sementara itu, Mesopotamia dan Mesir dua tempat kelahiran kebudayaan purba, tetap berada di tangan Arab seperti halnya seantero pantai utara Afrika. Agama Islam, tentu saja, menyebar terus dari satu abad ke abad lain, jauh melangkah dari daerah taklukan. Umumnya jutaan penganut Islam bertebaran di Afrika, Asia Tengah, lebih-lebih Pakistan dan India sebelah utara serta Indonesia. Di Indonesia, Agama Islam yang baru itu merupakan faktor pemersatu. Di anak benua India, nyaris kebalikannya: adanya agama baru itu menjadi sebab utama terjadinya perpecahan.
Apakah pengaruh Nabi Muhammad yang paling mendasar terhadap sejarah ummat manusia? Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Itu sebabnya mengapa penyebar-penyebar agama besar di dunia semua dapat tempat dalam buku ini. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam, dengan sendirinya timbul tanda tanya apa alasan menempatkan urutan Nabi Muhammad lebih tinggi dari Nabi Isa dalam daftar. Ada dua alasan pokok yang jadi pegangan saya. Pertama, Muhammad memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani. Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama.
Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia “pencatat” Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.
Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Isa) Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu.
Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan
Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 - 1974. Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak.
Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini. Dari segi inilah saya menilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi agama dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga saya menganggap Muhammad dalam arti pribadi adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.


Selasa, 20 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 4


 Putra Abu Amir Al-Makky



Abu Amir al Maki dikenal sebagai seorang sufi. Agak beda dengan sufi-sufi lainnya, yang biasanya jarang menyebut-nyebut istri, Abu Amir terkenal kesalehannya bareng istrinya.
Mereka tinggal di Mekkah. Kesalehan dan kebaikan hati mereka berdua sangat terkenal, sehingga mereka sangat dihormati oleh tetangga-tetangga mereka. Apalagi, Abu Amr juga dikenal sebagai ahli ilmu agama dan rajin mengajarkannya kepada semua orang. Yah…jadi para tetangga lebih hormat deh ma beliau.
Nah, Abu Amir ini memiliki seorang putra yang masih balita. Namanya juga anak anak orang sholeh, sejak kecil anak itu sudah diajarkan untuk selalu mengingat Allah SWT. Cuma, cara pengajarannya yang dilakukan oleh Abu Amir dan istrinya itu sedikit unik. Salah satunya adalah waktu makan tiba.
Setiap kali anak mereka minta makan, maka Abu Amir menyuruh sang anak untuk pergi ke jendela dan berdo’a minta apa yang kira-kira ia pengen makan.
Namanya juga anak-anak, maka do’anya kagak repot-repot amat. Jadi, anak itu biasanya bakal nyebutin roti kesukaannya. “Ya Allah, beri aku roti….”
Nah, saat anaknya berdo’a itulah, Abu Amir dan istrinya sibuk menyiapkan makanan yang diminta oleh sang anak tersebut. Ketika siap, baru kemudian mereka memanggil sang anak.
“Nah anakku, lihat…..Allah telah mengabulkan do’a kamu, sayang!”.
Begitulah, setiap hari beliau mendidik anaknya tersebut. Sampai suatu saat, Abu Amir dan istrinya harus keluar rumah untuk suatu keperluan. Setelah sang anak ditidurkan, mereka berdua kemudian pergi. Sayangnya perhitungan mereka sedikit meleset. Semula mereka fikir pergi nggak bakal lama. Tapi, wah, urusan diluar itu malah semakin panjang dan akibatnya mereka baru bisa kembali ke rumah saat dzuhur hamper tiba.
Pada saat itu Abu Amir dan istrinya ingat bahwa anak mereka belum makan. Dan yang lebih merisaukan lagi, makanan itu belum mereka siapkan. Sambil bergegas separuh panic, mereka buru-buru kembali ke rumah.
Tapi…….
Alangkah kagetnya mereka ketika tiba di rumah. Semula mereka membayangkan putra mereka sedang menangis karena lapar dan haus. Namun yang mereka temukan, si anak sedang duduk tenang-tenang di ruang tengah, sambil mulutnya mengunyah roti dan makanan lainnya, yang biasa mereka hidangkan.
Terheran-heran, dengan hati-hati mereka bertanya pada si anak
“Anakku sayang, siapa yang member semua makanan ini semua padamu?”
“Lho…..aku kan tinggal minta sama Dia yang memberiku roti setiap hari,” jawabnya tenang dan lugu.
Mendengar hal itu, sadarlah Abu Amir dan istrinya, bahwa anaknya sudah mengenal Allah SWT.
Jadi kalo kita ingin Allah dekat sama kita, gantungkan saja harapan hanya kepada-Nya. Insya Allah, akan banyak hal-hal luar biasa yang bakal menghampiri keseharian kita.
Kagak percaya?coba aja!

Sumber: Teguh Iman Perdana dalam bukunya Remaja bau sorga.


Senin, 19 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 3



Fudhail bin Iyadh dan Khalifah Harun Ar Rasyid

Ini masih cerita tentang Fudhail bin Iyadh.
            Zaman itu, kalo ada orang yang kedengeran kondang alimnya, raja atau sultan nggak segan-segan mengundang tokoh itu ke istana. Niatnya, mulai dari sekedar ngobrol sampe minta ngajar privat buat anak-anak sultan atau raja.
            Bahkan nggak jarang kalo sultan senang dengan seseorang yang kondang tersebut, bisa –bisa ditawari jadi pejabat segala, lho! Nah, yang jadi khalifah saat itukan Pak Haru Ar Rasyid yang legendaries itu. Mulanya, pak Harun udah denger soal ilmu dan ketenaran si Fudhail.
            Akhirnya, pak Harun undang tuh si Fudhail untuk dating ke istana. Dia kirimlah utusan ke rumah si Fudhail. Apa jawaban si Fudhail tentang undangan itu pada utusan Khalifah atau pak Harun tersebut? Fudhail bilang,
            “Nggak panters ah rasanya ilmu mendatangi yang ingin mencari ilmu. Biarlah yang mencari ilmu dating ke sumber ilmu.”
            Lah, kok, Fudhail sombong gitu yah? Ah, nggaklah. Sebetulnya, Fudhail hanya nggak ingin “dikacangi”, gitulah istilah anak muda sekarang. Jangan gara-gara jadi khalifah, Haru Ar Rasyid jadi belagu bisa nyuruh-nyuruh orang dating.
            Tapi bagusnya, khalifah Harun Ar Rasyid nggak marah, lho! Malah, beliau dating beneran ke rumah Fudhail malam itu juga, disertai staf merangkap pengawal setianya.
            Akhirnya setelah mengucap salam, Fudhail menyilakan khalifah Harun Ar Rasyid masuk sambil tersenyum minta maaf karena sudah menolak undangannya tadi siang. Giliran Khalifah Harun Ar Rasyid yang bilang nggak pa-pa!
Ah, lucu juga ya basa-basinya?  
            “Nah, Fudhail nasehati saya dong.”
            “Ehm, yah, tadi saat saya salaman ma ente, rasanya tangan ente empuk bener, wahai  ‘Amirul Mukminin. Moga aje tangan ente itu nggak jadi santapan api nerake gare-gare ente lalai mengurus rakyat…”
            Wah, dibilangin begitu ma Fudhail, sontak Khalifah Harun nangis terseduh-seduh. Sampai staf dan pengikut Khalifah Harun marah.
            “Hei! Fudhail, lihat noh apa yang kamu lakukan ma beliau! Jangan teruskan!” bentak si pengawal.
            “Diamlah, Haman! Kamu yang sebenarnya bisa mencelakakan beliau!” balas Fudhail nggak kalah galaknya.
            Uh, Khalifah Harun malah tambah panic! Soalnya, nama asli stafnya itu bukan Haman! Haman itu nama tangan kanannya raja Fir’aun!
            “Aduh kamu dibilang Haman! Itu artinya saya dibilang Fir’aun.”
            Akhirnya staf itu diem, sementara khalifah Harun masih menangis terisak-isak. Akhirnya udah beberapa lama, beliau ngomong lagi ma Fudhail,
            “Teruskan, hai Fudhail…”
            “’ ‘Amirul Mukminin, saya mau Tanya. Kalo suatu hari nanti anda kagak bisa minum walau Cuma seteguk air, lalu ada orang yang dating bilang biasa nyembuhin anda, tapi dia minta separuh dari kerajaan anda, apa yang anda akan lakukan?”
            Sejenak Khalifah bimbang, lalu dia jawab dengan lambat, “Ya, saya akan kasih separoh kerajaan saya itu!”
            “Nah, lalu air itu ternyata nggak bisa keluar dari tubuh anda. Dan orang yang sama bilang, dia akan keluarkan air itu dari tubuh anda, tapi dengan syarat dia minta setengah dari kerajaan anda. Apa yang akan anda lakukan?”
            “Ah, ya, saya kasih aja setengah kerajaan saya itu!”
            “Bener nih…?”
            “Bener!”
            “Nah kenapa anda mati-matian ngejagain kerajaan di dunia kamu yang nilainya Cuma segelas itu? Nah, di inget deh kata-kata itu, wahai ‘Amirul Mukmini.”
            Wah, Khalifah Harun nangis lagi, bahkan lebih keras nangisnya. Setelah itu air matanya agak kering, barulah ia pamit mau kembali ke istananya. Tadinya, Khalifah Harun mau kasih uang sekantong buat Fudhail, tapi Fudhail enolak dengan senyum.
            Mungkin kita semua berfikir, kenapa sih, si Fudhail ampe sekeras itu menasihati seorang pemimpn?
            Mungkin gini deh. Zaman itu, ahli-ahli sejarah mencatat kalo umat islam boleh dibilang hidupnya makmur sejahtera deh nggak seperti sekarang. Dahulu kekayaan melimpah, ilmu pengetahuan lagi tinggi-tingginya, pokoknya tajir abis deh! Nah, kalo nggak ati-ati, yang ada malah bisa tergelincir jadi lupa diri. Apalagi buat seorang khalifah kayak Haru Ar Rasyid. Jadi, mungkin memang perlu rada keras dikit menegurnya. Tapi maksudnya, sayang kok.

Minggu, 18 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 2


Syekh Abdul Qadir Jaylani & Jebakan Iblis
                  
            Ini masih kisah tentang Syekh Abdul Qadir Jaylani. Di kemudian hari, Syekh Abdul Qadir terkenal sebagai seorang ulama dan ahli ibadah yang luar biasa. Aktifitasnya dalam beribadah kepada Allah SWT, kemuliaan akhlak dan perilakunya, sungguh mengesankan banyak orang pada zamannya, bahkan sampai hari ini. Kata-katanya terkenal, memberi inspirasi dan bimbingan bagi ribuan orang. Sampai-sampai, ia disebut sebagai Sulthan Awliya, atau Sultan Para Wali.
            Diantara orang awam bahkan banyak yang berlebih-lebihan dalam memuliakan beliau, saking hormat dan kagumnya pada beliau. Meski begitu, sejarah mencatat bahwa Syekh Abdul Qadir bukannya menjadi besar kepala apalagi sombong. Sebaliknya, beliau malah tambah cenderung merendah dan terkenal amat bersikap hati-hati.
            Jadi, konon pernah terjadi kisah berikut ini, yang menggambarkan betapa getolnya setan dan iblis berusaha menggelincirkan seorang ulama ikhlas dan rendah hati semacam Syekh Abdul Qadir.
            Suatu hari, Syekh Abdul Qadir sedang berjalan dalam suatu keperluan melintasi padang pasir. Namanya juga di padang pasir, wajar aja kalo lapar dan haus mendera beliau. Maklum aja, jaman itu kan kendaraan Cuma unta, belom ada Patas AC atau bushway, becakway, apalagi caravan mewah kayak sekarang.
            Mendadak, turunlah awan berarak dari atas langit, diiringi cahaya berkilauan. Eh, dari balik awan itu lantas keluar sebuah bejana terbang turun melingkar-lingkar, persis kayak adegan War of The Worlds nya Tom Cruise. Sejenak Syekh Abdul Qadir terkejut, apalagi kemudian terdengar suara entah darimana.
            “Hai Abdul Qadir, makan dan minumlah semua isi bejana itu! Hari ini telah kuhalalkan bagimu semua makanan dan minuman yang selama ini telah kuharamkan. Dan telah kugugurkan semua kewajiban untukmu.”
            Siapa yang nggak seneng dibilang begitu, coba? Kalo kita, mungkin udah langsung main iya kan aja, ya? Apalagi, yang nongol suara gaib. Di padang pasir pula. Wah, udah pasti, malaikat nih, yang ngomong.
            Tapi, Syekh Abdul Qadir Jailani nggak kayak kita. Biarpun udah ngelihat hal-hal ajaib kayak special effect ala Steven Spielberg gitu, beliau sama sekali nggak ketipu! Mau tahu nggak, apa jawaban beliau mendengar kata-kata itu?
            “Hai iblis, enyahlah kau dari sini! Sesungguhnya aku tidak lebih mulia dari Muhammad SAW disisi Allah SWT! Kepada Rasulullah aja tidak mungkin berlaku hal semacam itu! Barang yang diharamkan oleh Allah, selamanya akan tetap haram, dan kewajiban hamba pada diri-Nya tak pernah dibatalkan atau digugurkan. Tak terkecuali pada diriku!”
            Udah dibentak begitu, mendadak semua lenyap. Nah, betulkan? Pekerjaan setan aja itu, dan Syekh Abdul Qadir sama sekalai nggak ketipu.
            Ya, untuk diketahui, ternyata setan dan iblis itu paling nggak rela kalo ngeliat ada hamba-hamba Allah yang baik dan shaleh. Iya dong, kalo ada orang sholeh ditambah rendah hati pula, setan dan iblis makin belingsatan. Karena biasanya, semakin tinggi kedudukan seseorang dalam hal ibadah, dia bakal makin kenceng dibujuk-bujuk iblis dan setan, bukan lagi disuruh-suruh ngerjain maksiat yang fasik.
            Jadi, yang lebih digoda lebih ke soal hati. Begitu kita udah ngerasa ibadah kita bagus, terselip rasa sombong, kagum terhadap diri sendiri, merasa ingin pamer ke sholehan diri, nah, disitulah kesempatan iblis dan setan menggelincirkan kita.
            Jadi, kamu-kamu yang aktif dalam pengajian, lok boleh saya pesenin, hati-hati ya. Jangan biarkan iblis menggelincirkan kita dengan merasa seolah-olah banyak ibadah, dan dari situ, kita jadi lupa diri!
            Waspadalah! Waspadalah! Begitu kita ngerasa banyak berbuat baik, dan gara-gara itu, kita pikir boleh-boleh aja nyerempet-nyerempet dosa………..hati-hati ya sahabatku……….


Cerita Sahabat Muslim


Abu Muslim Al-Khaulani yang Kagak mempan Dibakar Api

            Abu Muslim itu adalah nama panggilan dari Abdullah bin Tsaub, beliau ini asalnya dari Yaman, dan terhitunf tabi’in alias pengikut sahabat Nabi. Sebetulnya sih, waktu Nabi Muhammad SAW masih hidup, da’wah Islam kan udah sampe di negri Yaman. Nah, tanpa ketemu sama Nabi Muhammad SAWpun, dia menyatakan dirinya beriman dan masuk Islam.
            Setelah Nabi wafat, banyak yang ngaku-ngaku jadi Nabi, salah satunya bernama Aswad bin Qais al Ansi. Suatu hari, Abu Muslim ditangkap dan diintrogasi oleh Aswad.
            “Kamu mau bersaksi nggak, kalo aku ini adalah Rasul Allah?”
            “nggak denger,” jawab Abu Muslim kalem.
            “Apa kamu bersaksi kalo Muhammad itu utusan Allah?”
            “Ya, tentu,” jawab Abu Muslim mantep.
            Aswad lansung dongkol. Dia Tanya lagi, dan dijawab Abu Muslim dengan jawaban yang sama. Akhirnya, Aswad kalap, dan menyuruh anak buahnya membuat kobaran api. Abu Muslim dilempar ke sana.
            Ajaibnya, Abu Muslim tak terbakar sama sekali. Sampai bara habis, tak secuilpun tubuh Abu Muslim tersentuh oleh api. Aswad ketakutan. Sambil berjalan tenang, Abu Muslim melangkah keluar dari onggokan bara api. Giliran beliau sekarang yang berkata kepada Aswad,
            “Kamu pergilah dari sini! Kalo ngga, teman-teman saya akan membunuh kamu!”
            Tanpa banyak bicara, buru-buru Aswad ngacir sambil ketakutan.
            Nah, habis kejadian itu, Abu Muslim pergi ke Madinah. Waktu itu, Abu Bakar udah jadi khalifah. Abu Muslim masuk ke masjid dan shalat. Umar bin Khattab, sahabat senior Nabi, melihat kedatangannya. Dengan feelingnya yang tajam, Umar melihat ada sesuatu yang istimewa dari orang yang baru datang itu. Maka, buru-buru dia samperin Abu Muslim dan bertanya,
            “Darimana kamu datang?”
            “Dari Yaman,” jawab Abu Muslim.
            “Wah, mungkin mungkin kamu yang dibakar hidup-hidup sama si nabi palsu itu, ya?
            Ya, tentu saja kabar ajaib itu dengan cepatnya merebak ke seantero tanah arab. Kalo saya jadi Abu Muslim, ditanya begitu mungkin saya malah senyam-senyum sambil berdehem dulu sebelum menjawab, karena bangga dan seneng berkumpul jado satu. Tapi, hal itu nggak berlaku sama Abu Muslim. Dasar orangnya rendah hati, Abu Muslim malah mengelak dengan halus.
            “Oh, saya piker anda keliru, amirul mukminin,” jawab Abu Muslim, “setahu saya, dia itu adalah Abdullah bin Tsaub.”
            Tentu saja Abu Muslim nggak bohong, karena memang itulah nama aslinya. Cuma, feeling Umar juga nggak bisa dikibuli. Kini, ia mendesak, “Semoga Allah memuliakan kamu. Dia itu, ya kamu juga kan?”
            Di cecar kayak gitu, akhirnya Abu Muslim nggak bisa mungkir lagi. Sambil menunduk, ia menjawab,”Ya.”
            Mendengar jawaban itu, Umar langsung memeluk Abu Muslim sambil menangis. Dibawanya Abu Muslim menghadap Abu Bakar, sambil berkata,
            “Segala puji bagi Allah SWT yang belum mewafatkanku, sehingga aku diperlihatkan dari ummat Muhammad SAW yang diselamatkan dari api, sebagaimana yang terjadi pada Ibrahim AS.”
            Kisah ini saya ambil dari buku Percikan IIahi yang ditulis oleh Prof. Musthafa Muhammad Ath Thair, hasil rujukan dari buku Remaja Bau Sorga ditulis oleh Teguh Iman Perdana. Satu hal yang berkesan buat saya dari cerita di atas adalah sikap rendah hatinya Abu Muslim, ini yang biasanya susah kita lakukan, apalagi saat nama kita menjadi buah bibir dimana-mana, tapi Abu Muslim bisa buktikan kalo hal itu nggak ngaruh bagi dirinya. Persoalan dia nggak bisa dibakar oleh api, itu bukan perkara sepele atau enteng. Bahkan hal itu adalah mukjizat seorang Nabi sekaliber Ibrahim as. Tapi waktu ditanya Umar, beliau malah mengelak dengan halus.
            Jadi, lok  kita mau meneladani sikap Abu Muslim, sikap rendah hatinya itu yang oke banget untuk ditiru, apalagi buat kamu-kamu yang mempunyai potensi jadi buah bibir banyak orang. Ya, bisa jadi karena prestasi-prestasi kamu, karya-karya kamu dan hal yang lainnya. Tapi jangan lupa, disaat itulah kita bakal dihantam oleh yang namanya sikap sombong. Kalo udah mulai sombong kayak gitu, siap-siap deh kamu celaka. Kagak mau pada celakakan…..yuk kita teladani sikap rendah hatinya Abu Muslim.





Rabu, 14 Oktober 2009

Iblis adalah musuh yang nyata bagimu



Tipuan dan Jebakan Iblis
            Zaman Bani Israel dulu, konon iblis masih suka turun jalan-jalan ke dunia untuk menggoda orang beriman secara langsung. Nah, ceritanya, iblis ngincer satu anak muda yang terlihat sholeh banget. Anak muda ini rajin bener pergi menyembah Allah, meski rumahnya jauh dari tempat ibadah.
            Nah, saban lewat ke tempat itu, maka ia akan melewati sebatang pohon besar. Dan anak muda itu melihat, semakin hari semakin banyak orang yang justru meminta-minta pada pohon besar itu. Mulai dari pengen dapet jodoh sampe bisa lolos Israel Idol. Darah anak muda itu langsung mendidih! Kurang ajar, nih si iblis!
            Selidik punya selidik, ternyata iblis dan anak buahnya, menjadikan pohon besar itu sebagai “Posko Godaan Manusia Beriman” Alias POSKO GOMBER.
            Mula-mula iblis mempengaruhi fikiran satu dua orang yang lewat dan punya masalah, buat minta sesuatu pada pohon itu. Ternyata, emang ada aja tuh, yang kegoda buat minta macem-macem sama pohon itu. Maklum deh, itu pohon udah dipermak sedemikian rupa sama iblis and the gang, sehingga kesannya, gimanaaaaa…….gitu! nah, oleh iblis, dengan kekuatan yang ada pada dia, apa-apa yang diminta sama orang-orang itu, diatur sedemikian rupa sampai akhirnya “goal”.
            Wah, itu orang seneng abiez! Buru-buru aja dia cerita ke orang-orang kampong. Siuuuutt…..kayak angina putting beliung, kabar ini dengan cepat menyebar, dan lama-lama makin banyak orang-orang Bani Israel sendiri yang melakukan hal itu.
            Iblis girang banget! So far so good. Banyak orang yang mustinya ke tempat ibadah, jadi malas gara-gara tipu daya iblis itu. Nah, sampe akhirnya, si anak muda jagoan kita ini, lewat. Di sinilah, iblis ketemu batunya.
            Dengan modal keikhlasan ilmunya, si anak muda itu berhasil memaksa iblis nongol dari persembunyiannya di pohon itu. Mula-mula iblis menggertak. Berubah jadi ini, berubah jadi itu, anak muda itu tetap bergeming! Malah, ia labrak si iblis itu untuk duel. Iya, berantem sampe guling-gulingan di tanah. Singkat cerita, iblis KO,dan terkapar kesakitan dihajar hook kiri kanan beruntun si jagoan alim, anak muda harapan bangsa kita itu.
            Kok, bisa? Yah, namanya aja cerita. Dengerin aja terus, ya.
            “Rasakan, iblis keparat! Jangan coba-coba ganggu hamba-hamba Allah yang lain untuk menyembah kepada-Nya.”
            “Ampun, ampuuunn anak muda. Saya, saya……….hadduuuuhhhh, ngaku kalah, deh.”
            Si anak muda itu tersenyum puas. Ia lalu bersiap untuk berjalan lagi. Tapi, dasar iblis, saat itulah dia ngeliat satu peluang.
            “Eh, tunggu dulu anak muda. Tunggu dulu, tunggu……’
            Langkah anak muda itu terhenti.
            “Ada apa lagi, hai musuh Allah?”
            “Begini. Maaf, saya bener-bener kagum sama kemampuan anda mengalahkan saya. Jadi, sebagai tanda hormat saya, maka mulai malam nanti, dibalik alas tidur anda, bakal ada uang satu koin emas setiap malam.”
            Usai mengucapkan kata-kata itu, iblis pun menghilang. Anak muda ini sampe bengong. Apa iya kata-kata si iblis biang tipu itu benaran? Mula-mula, si anak muda itu berusaha cuek. Sambil jalan, dia berusaha nggak mikirin tuh janji si iblis. Dia pikir Cuma gombal.
            Tapi, anak muda itu diam-diam jadi penasaran juga. Esok paginya, waktu dia terbangun dari tidurnya, pelan-pelan dia berbalik dan membalik alas tidurnya. Koin emas nampak kinclong, menyilaukan matanya. Wah, si iblis bener, lho!
            Begitulah, esok paginya ia kembali melakukan hal yang sama, dan lagi-lagi ia menemukan uang 1 dinar. Lusa, kembali kemilau uang emas satu butir membuat hatinya berbinar-binar.
            Tapi, keesokkan harinya, lho, mana dia nih, uang logam yang dijanjikan? Uh, anak muda itu dongkol. Geram karena merasa tertipu, pagi itu juga ia kembali menyantroni iblis di pohon besar itu. Berteriak-teriak, dipanggilnya si iblis untuk berduel. Kembali keduanya berduel dengan serunya. Tapi kali ini giliran si anak muda itu yang terkapar.
            Sambil meringis menahan sakit, si anak muda itu bertanya,
            “Why, iblis, why? Pertama kali, saya bisa menang sama kamu. Sekarang, kenapa kamu yang bisa menang? Belajar di mana kamu, heh?”
            Iblis tertawa terbahak-bahak.
            “Hoa, ha, ha, ha! Siapa yang belajar? Kamu dikalahin sama nafsu kamu sendiri! Kali pertama kamu bisa menang, karena kamu ikhlas mengalahkan saya Karena Allah SWT. Saat itukan, karena kamu marah sama saya gara-gara manusia meminta tolong dan beribadat bukan karena Allah SWT, melainkan tapi sama saya. Tapi yang sekarang, kamu marah bukan lagi karena Allah, tapi karena uang logam emas yang saya janjikan, nggak bisa lagi kamu dapatkan! Saat itu, mengalahkan kamu bukan lagi persoalan! Hoa, ha, ha, ha, ha iblis tertawa kayak mbah surip.
            Nah, kisah ini bisa jadi Cuma anekdot. Tapi juga nunjukkin kekuatan rasa ikhlas. Saat kita ikhlas karena Allah, mengalahkan godaan setan lebih gampang, kok! Tapi begitu kita kurang ikhlas, yang ada kita malah “dimakan” sama itu setan!
            Jadi…hati-hati aja lah, ya?
            Maha benar Allah SWT, yang udah berfirman tentang kekuatan iblis dan konco-konconya:
            Iblis berkata : Ya, tuhan, oleh sebab engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang ikhlas di antara mereka…”




Jujur bikin elo pada mujur 
Kalo ada kejujuran yang sampai bisa bikin bandit-bandit pada preman sangar Bin kejam pada tobat, contohnya ya kejujurannya Syekh Abdul Qodir Jaylani saat anak-anak. Bila kita menyebut nama beliau, sebenarnya kita sedang menyebut nama seorang figur yang kondang sebagai seorang ahli sufi dan ahli hikmah dengan ribuan murid, dan beliau adalah seorang pendiri perkumpulan Thariqah Qadiriyah. Beliau hidup pada saat kejayaan di Baghdad, dan sejak kecil beliau memang sudah dikenal sebagai anak yang baik, rajin dan tekun beribadah. Yang membuat beliau seperti itu adalah tidak lain adalah karena peranan ibunya. Begitulah. Karena memang selalu haus akan ilmu, suatu hari sang ibu berniat melepas Abdul Qadir remaja untuk menuntut ilmu. Perjalanan ini bukan main-main, karena harus melintasi padang pasir dan medan yang berbahaya. Namun dengan keteguhan hatinya, Abdul Qadir kecil cuek aja. Bagi dia, Allah SWT-lah yang akan menjadi teman dalam perjalanannya. Jadi, urusan yang lain-lain sih, “emang gue pikirin’, Gitu kali piker si Abdul Qadir. Bekal sudah dimuatkan di punggung seekor unta, dan Abdul Qadirpun pamit untuk berangkat. Ia mencium tangan ibunya dengan takzim. Lantas, saya membayangkan terjadi dialog kayak gini antara si Abdul Qadir dan ibunya “Anakku sayang”, kata si ibu lembut, “ibu titip uang sebesar 40 dinar ya…., untuk bekal kamu dalam perjalanan”. “Asyik, makasih ya bu. Ibu baik banget banget”, sahut Abdul Qadir dengan gembira sembari memeluk ibunya. Jelas aja si Abdul Qadir girang banget, karena uang 40 dinar itu kagak dikit boss, gede banget lho. “Oya dir, ibu mau ingatkan kamu satu hal ya”, lanjut ibunya sambil mengusap kepala Abdul Qadir. “Apapun yang terjadi, ibu minta kamu tetap jujur, ya…” “Oh, itu? ‘Jujur’ bukannya itu lagu yang sedang hits, yang dibawakan oleh radja bu? “Hush! Itukan lagu abad 21. sekarang baru abad berapa? Ah, kok jadi ngelantur gini sih. Maksud ibu, jujurlah pada siapapun yang kamu temui ya, nak? Jangan bohong, ya! Abdul Qadir mengangguk mantap. Akhirnya ia pun berangkat, dilepas oleh seluruh penduduk desanya. Malampun tiba, Dan sampailah Abdul Qadir di sebuah kawasan hutan yang gelap dan seram. Sebetulnya, ini kawasan angker yang selalu membuat bulu kuduk kafilah-kafilah manapun bakal berdiri saat melewatinya. Bukan apa-apa, karena di sana berdiam segerombolan penjahat yang terkenal kejam dan sadis. Bru aja masuk, udah pasti langsung diincer. Bisa ditebak kalo kebanyakkan kafilah lebih memilih berhenti ketimbang musti terus melewatinya. Itu sebabnya, begitu melihat ada seorang musafir yang dengan santainya melenggang seorang diri, kepala bandit itu heran. “Gila banget! Siapa orang ini? Apa di kagak tahu siapa gue?” Akhirnya mereka melompat dan menghadang Abdul Qadir. “Berhenti!” Abdul Qadir berhenti dan menatap tenang pada gerombolan preman hutan yang sangar-sangar itu. Boro-boro menggigil ketakutan, yang ada malah ia menatap satu persatu para preman yang berbaris di depannya. Dilihatin kayak gitu, giliran para preman itu yang melongo. Mereka sama sekali kagak terfikir bahwa yang duduk di punggung unta ini adalah seorang anak kecil. “Hey, anak kecil. Ngapain kamu malam-malam di sini?. Apa kamu kagak tahu, lewat daerah siapa ini, hah!” “Ah, saya Cuma musafir biasa. Bapak-bapak ini siapa? Mau apa, pak?” “Kami mau uang, pokoknya apa aja yang kamu bawa serahkan semua pada kami! Atau nyawa kamu jadi tukerannya! Bawa apa kamu, ha?!” “Oh, saya Cuma bawa 40 dinar pemberian ibu saya nih, ambil aja!” Lagi-lagi si kepala rampok bingung nggak ketulungan. Kok, ada ya korban yang ngaku begini? Apalagi, saat ia bengong, Abdul Qadir sendiri yang menyodorkan kantung berisi uang 40 dinar pemberian ibunya. Tanpa sadar, si kepala rampok menghitung uang yang asa di kantung itu. Astaga, benar 40 dinar. Tambah bingunglah si kepala rampok. “Hai anak, kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu jujur begini?” tanyanya penuh keheranan. Sikap garangnya luluh seketika. “Ah, saya hanya mengikuti pesan ibu saya aja. Ibu bilang untuk selalu jujur, terhadap siapapun,” jawab Abdul Qadir tenaang. Mendengar hal itu, sang kepala rampok menangis tersedu-sedu. Kita nggak tahu, apakah ia tersentuh oleh kejujuran Abdul Qadir, atau ia merasa terharu karena merasa dihormati oleh kejujurannya itu, atau bisa aja karena kedua-duanya. Ya, bagi seseorang yang bersifat keras dan kasar seperti para preman itu, kepolosan dan kejujuran Abdul Qadir boleh jadi kayak air segar di tengah padang pasir. Yang jelas, dikisahkan kepala rampok bersama gerombolannya bertaubat malam itu juga gara-gara kejujuran Abdul Qadir Jailani. Jadi, sikap jujur pada saat yang tepat bisa membawa keberuntungan. So, ketimbang suka bohong, lebih baik kita jujur aja! Berbohong itu, selain dosa, bisa membuat kita capek dan melelahkan, juga menyiksa. Iya dong, namanya juga bohong, artinya kita akan selalu dipaksa untuk mengingat terus hal-hal yang kita bohongkan itu. Misalnya, kita malu ‘Cuma” punya orang tua yang kerjanya hanya sebagai kuli bangunan, lalu kemana-mana kita selalu ngaku bahwa orang tua kita itu bekerja di perkantoran. Uh, buat inget-inget itu aja udah makan energi banget lho! Meski kata orang, sekarang ini susah buat jujur, tapi itu pandangan yang terlalu pesimis. Kejujuran, nanti kita bakal tahu sendiri, akan menyentuh banyak orang, dan ujung-ujungnya kita yang akan beruntung. Allah juga tambah sayang, dan begitu Allah bertambah sayang sama kita, maka Dia akan menggerakkan hati manusia untuk juga sayang sama kita. Ya iyalah, Zaman kayak gini, nilai tambah seseorang untuk masuk dunia kerja justru karena kejujurannya. Memang ada sih, yang dengan modal culas dan licik bisa maju, tapi, mau berapa lama? Saat ini, bukti-buktinya makin menunjukkan kalo jadi orang jujur dan professional justru makin dicari. Ada sebuah informasi, ada seorang konsultan pajak yang membangun bisnisnya, gara-gara kepercayaan orang bule yang terkesan dengan kejujurannya. Saat konsultan pajak lain cenderung menipu dan ngibul, dia justru memberi uang kembalian. Terang aja si bule yang jadi kliennya kaget. Lama-lama, banyak urusan diserahkan sama dia, dan jadilah bisnisnya berkembang sampai sekarang. Jadi, pilih mana, JUJUR atau CURANG? Jujur aja deh. Hati lebih tenang, hidup bakal lebih asyik. DI JAMIN!

Manfaat dan azab meninggalkan shalat


Manfaat shalat dan adzab melalaikan shalat 
Barangsiapa menjaga shalatnya, niscaya Allah akan memuliakannya dengan lima perkara: (1). Dihilangkan kesempitan hidupnya; (2). Diselamatkan dari adzab kubur; (3). Diberikan catatan amal melalui tangan kanannya; (4). Melintasi shirat secepat kilat; (5). Masuk syurga tanpa hisab”. Dan barangsiapa melalaikan shalat, Allah akan menyiksanya dengan lima belas adzab. Lima adzab di dunia, tiga adzab ketika mati, tiga adzab di dalam kubur, dan tiga adzab pada saat kebangkitan. Lima adzab ketika di dunia yaitu, (1). Dicabut keberkahan ilmunya; (2). Terhapus cirri-ciri keshalihan di wajahnya; (3). Seluruh amal perbuatannya tidak diberi pahala oleh Allah; (4). Do’anya tidak diangkat ke langit; (5). Tidak mendapat bagian dari do’a-do’a orang yang shalih. Dan tiga siksa pada saat kematian: (1). Mati dalam kehinaan; (2). Mati dalam kelaparan; (3). Mati dalam kehausan, walau diminumkan air lautan di dunia ini, tidak akan menghilangkan rasa hausnya. Dan tiga siksa di dalam kubur: (1). Dihimpit oleh kuburnya sehingga tulang rusuk kiri dan kanannya saling bersilang; (2). Dinyalakan api di dalam kuburnya; (3). Allah akan memasukkan ular berbisa bernama Syuja’ul-Aqra’ ke dalam kuburnya, yang kedua matanya memancarkan api, dan kukunya dari besi yang panjang setiap kukunya sepanjang sehari perjalanan. Ular itu akan memekik kepadanya dengan suara seperti halilintar yang menyambar,” Aku adalah Syuja’ul-Aqra. Tuhanku telah menyuruhku agar memukulmu karena kamu telah melalaikan shalat shubuh hingga terbit matahari; karena kamu telah malalaikan shalat shalat dzuhur hingga ashar; karena kamu telah melalaikan shalat ashar hingga maghrib; karena kamu telah melalaikan shalat maghrib hingga isya; karena kamu telah melalaikan shalat isya hingga shubuh!”. Setiap pukulan akan membenamkannya ke tanah sedalam tujuh puluh hasta, si mayat akan terus disiksa seperti ini dalam kuburnya sampai hari kiamat. (Semoga Allah menjauhkan kita dari adzab kubur). Dan tiga siksaan pada hari kebangkitan, yaitu: (1). Dihisab dengan sangat berat; (2). Dimurkai oleh Allah; (3). Dilemparkan ke dalam neraka. Riwayat lain juga menyebutkan barangsiapa yang melalaikan shalat, ia akan datang pada hari kiamat dan tertulis di wajahnya tiga baris tulisan, yaitu: baris pertama: wahai orang yang menyia-nyiakan hak Allah. Baris kedua: wahai orang yang dimurkai Allah. Baris ketiga: sebagaimana kamu telah menyia-nyiakan hak Allah di dunia, maka pada hari ini kamu berputus asa dari rahmat Allah. (dalam kitab Az-Zawajir). Ini pelajaran but kita semua, khususnya buat aku yang bandel ini SEMOGA BERMANFAAT…

Senin, 12 Oktober 2009

Al-Qur'an sebagai tanda bukti kebenaran dari sisi Allah SWT


      Cara menafsirksn Al-Qur’an

Dalam menafsirkan Al-Qur’an, diperlukan keahlian d
alam lima belas bidang Ilmu. Berikut ini adalah

ringkasan kelima belas bidang ilmu tersebut,
semata-mata agar diketahui bahwa tidak mudah
setiap orang dapat memahami makna batin
Al-Qur’an. Namun juga, kita perlu untuk
mempelajari isi Al-Qur’an tersebut, karena Ibnu
Mas’ud berkata,”jika kita ingin memperoleh ilmu,
pikirkanlah dan renungkanlah makna-makna
Al-Qur’an, karena di dalamnya terkandung ilmu orang-orang dahulu dan sekarang”. Jangan seperti zaman kita sekarang. Hanya bermodalkan tahu bahasa arab, bahkan sekedar melihat terjemahannya saja, orang berani berpendapat tentang Al-Qur’an.
            Berikut Ilmu tentang Al-Qur’an:
  1. Ilmu Lughat (filologi), yaitu ilmu untuk mengetahui arti setiap kata Al-Qur’an. “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, ia tidak layak berkomentar tentang ayat-ayat Al-Qur’an tanpa mengetahui Ilmu Lughat ini”. Sedikit pengetahuan tentang ilmu lughat tidaklah cukup karena kadangkala satu kata mengandung berbagai arti. Jika hanya mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Dapat terjadi, yang dimaksud kata tersebut adalah arti yang berbeda;
  2. Ilmu Nahwu (tata bahasa), Sangat penting mengetahui ilmu nahwu, karena sedikit saja I’rab (bacaan akhir kata) berubah, akan mengubah arti kata tersebut. Sedangkan pengetahuan tentang I’rab hanya didapat dalam ilmu nahwu;
  3. Ilmu Sharaf (perubahan bentuk kata). Mengetahui ilmu sharaf sangat penting, karena perubahan sedikit bentuk suatu kata akan mengubah maknanya. Ibnu Faris berkata, “jika seseorang tidak mendapatkan ilmu sharaf, berarti ia telah kehilangan banyak sekali ilmu yang tidak ia ketahui”.
  4. Ilmu Isytiqaq (akar kata). Mengetahui ilmu ini sangatlah penting. Dengan ilmu tersebut dapat diketahui asal-usul kata. Ada beberapa kata yang berasal dari dua kata yang berbeda, sehingga berbeda makna. Seperti kata ‘masih’ berasal dari kata ‘masah’ yang artinya menyentuh atau menggerakan tangan yang basah ke atas, atau juga berasal dari kata ‘masahat’ yang berarti ukuran;
  5. Ilmu Ma’ani (susunan). Ilmu ini sangat penting diketahui. Dengan ilmu ini, susunan kalimat dapat diketahui dengan melihat maknanya;
  6. Ilmu Bayaan. Yakni ilmu yang mempelajari makna kata yang Zhahir dan yang tersembunyi, juga yang mempelajari kiasan serta pemisalan kata;
  7. Ilmu Badi’, yakni ilmu yang mempelajari keindahan bahasa. Ketiga bidang ilmu di atas juga disebut sebagai cabang ilmu balaghah, yang sangat penting dimiliki oleh para ahli tafsir. Al-Qur’an adalah mukjizat yang agung. Dengan ilmu-ilmu di atas, kemukjizatan Al-Qur’an dapat di ketahui;
  8. Ilmu Qira’at, Ilmu ini sangat penting dipelajari, karena perbedaan bacaan dapat mengubah makna ayat. Ilmu ini membantu menentukan makna paling tepat diantara makna-makna suatu kata;
  9. Ilmu Aqa’id. Ilmu ini sangat penting dipelajari, ilmu ini mempelajari dasar-dasar keimanan. Kadangkala ada satu ayat yang arti zhahirnya tidak mungkin diperuntukan bagi Allah SWT. Untuk memahaminya diperlukan takwil ayat itu;
  10. Ilmu Ushul Fiqih. Mempelajari ilmu ushul fiqih sangat penting. Dengan ilmu ini dapat diambil dalil serta penggalian hokum suatu ayat;
  11. Ilmu Asbabun-Nuzul. Ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an. Dengan mengetahui sebab-sebabnya, kadangkala maksud suatu ayat bergantung pada pengetahuan tentang asbabun-nuzul;
  12. Ilmu Nasikh Mansukh. Dengan ilmu ini dapat dipelajari suatu hokum yang sudah dihapus dan hukum yang masih berlaku;
  13. Ilmu Fiqih. Ilmu ini sangat penting dipelajari. Dengan menguasai hokum-hukum yang rinci akan mudah mengetahui hokum global;
  14. Ilmu Hadits. Ilmu untuk mengetahui hadits-hadits yang menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an;
  15. Ilmu Wahbi. Ilmu khusus yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang istimewa. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengamalkan apa yang ia ketahui, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak ia ketahui”.

Ilmu-ilmu yang telah diterangkan di atas adalah alat bagi para mufassir Al-Qur’an.
Seseorang yang tidak memiliki ilmu-ilmu tersebut, lalu menafsirkan Al-Qur’an, berarti ia telah menafsirkannya menurut pendapatnya sendiri, dan hal itu telah dilarang dalam beberapa hadits.
            Tertulis dalam Kimiaus-Sa’adah, bahwa ada tiga orang yang tidak akan mampu menafsirkan Al-Qur’an: (1). Orang yang tidak memahami bahasa arab; (2). Pelaku dosa besar atau ahli Bid’ah, yang dengan perbuatannya itu menjadikan hatinya gelap dan menutupi pemahamannya terhadap Al-Qur’an ; (3). Orang yang dalam akidahnya hanya mengakui makna zhahir nash.