Rabu, 04 November 2009

Cerita Sahabat Muslim 14


Lentera Berayun-ayun di Kepala Rabi’ah
            Sekarang, kita ketemu sama Rabi’ah adawiyah. Beliau ini seorang sufi wanita yang amat terkenal dalam sejarah kejayaan islam. Ia dikenal dengan doktrinnya tentang cinta kepada Allah SWT.
            Beliau juga yang terkenal karena konon pernah ngomong gini,
            “Ya Allah, kalau aku menyembahMu Karena menghindar dari nerakaMu, campakkan saja aku ke neraka. Kalau aku menyembahMu karena berharap surge, tutup pintuMu rapat-rapat. Tapi, kalau aku menyembahMu karena mengharap rahmatMu, jangan pisahkan aku dari rahmatMu.”
            Jangan buru-buru bilang Rabi’ah sombong, seperti yang pernah dikomentari sama kalangan tertentu. Kalo saya bilang, do’a Rabi’ah sebenarnya cerdik juga. Mau deket sama rahmat Allah, ya jatuhnya di sorga juga kan?
            Nah, karena itu, banyak hal-hal ajaib yang konon diriwayatkan terjadi pada Rabi’ah adawiyah ini. Beliau ini dikenal punya kedudukan yang istimewa, karena dalam sejarah islam, jarang kita jumpai adanya seorang sufi wanita. Padahal, awalnya Rabi’ah adalah seorang budak yang didapat dari sebuah peperangan. Ia ditangkap dan akhirnya dijual kepada seorang saudagar pemilik took besar di kota Baghdad.
            Sebagai budak, Rabi’ah rajin banget ngerjain berbagai pekerjaan yang diberikan kepadanya. Cuma, sayang sekali, tuannya sering kasih pekerjaan yang banyak. Akibatnya, ia sering baru bisa beranjak tidur kalo malam udah larut. Meski begitu, Rabi’ah jarang mengeluh. Memang, Rabi’ah berbeda dengan kebanyakkan budak seusianya.
            Sadar kalo dirinya sebatang kara, Rabi’ah sering menghabiskan malam-malamnya dengan shalat dan bermunajat kepada Allah SWT. Lama kelamaan, hatinya dipenuhi oleh rasa cinta yang begitu mendalam hanya kepada Allah SWT. Maka, dalam berdo’a, Rabi’ah lebih sering menangis bagaikan seseorang yang mabuk rindu kepada kakasihnya.
            So, pada suatu malam, majikan Rabi’ah terbangun dari tidurnya karena suatu keperluan. Ketika melewati kamar tidur Rabi’ah, ia terkejut karena mendengar suara Rabi’ah yang sedang merintih dan menangis. Wah, piker sang majikan, jangan-jangan terjadi sesuatu sama Rabi’ah! Maka, diam-diam, ia nguping ke dinding, dan mencoba cari tahu, apa sih yang ditangisi Rabi’ah malam-malam gini?soal makanan di rumah yang kurang enak?atau Karena gajinya yang suka telat dibayar?
            Eh, ternyata bukan rebut soal gaji. Rabi’ah terdengar terisak-isak sambil megucapkan kata-kata ini,
            “Wahai tuhanku, malam akan segera berlalu, dan rinduku belum habis dalam mencintai-Mu. Namun apalah dayaku? Majikanku yang kepadanya Engkau telah menitipkan diriku, akan memintaku untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan harianku. Ampuni aku karena terlalu sebentar bercengkerama dengan-Mu, karena akupun tak ingin mengecewakan majikanku.”
            Whaduh, alangkah kagetnya sang majikan mendengar namanya disebut-sebut dalam do’a Rabi’ah. Pelan-pelan, ia mengintip lewat jendela kecil yang ada di pintu, untuk melihat apa sebenarnya yang dilakukan Rabi’ah. Dan ia langsung Shock!karena, di atas kepala Rabi’ah, sebuah lampu pelita berayun-ayun meneranginya, tanpa seutas talipun yang menahannya. Kontan, sang majikan menggigil ketakutan, dan cepat-cepat ia kembali ke kamarnya.
            Besok paginya, sang majikan memanggil Rabi’ah dan bilang, “Aku udah dengar do’amu pada Allah SWT tadi malam. Rasanya aku nggak pantes menghalang-halangimu dalam beribadah kepada-Nya. Sekarang, pergilah kemana aja kamu suka, karena kamu udah aku bebaskan.”
            Duh, Rabi’ah girang banget. Dia langsung sujud syukur kepada Allah SWT. Maka ia pun pergi menuju daerah di tepi sungai Eufrat, tak jauh dari kota Baghdad. Di sana ia membangun pondok, dan menghabiskan waktunya beribadah kepada Allah dengan rasa cinta yang meluap-luap. Dari dialah kemudian dunia sufi mengenal doktrin cinta sebagai media mendekatkan diri kepada Allah Ta’aala.

Selasa, 03 November 2009

Cerita Sahabat Muslim 13


Nasihat Ibrahim bin Adham untuk ahli maksiat
            Mungkin kamu pernah didatengi sama temen yang terkenal doyan maksiat. Tapi, tahu-tahu dia ngomong gini sama kamu:
“Gue  tahu tiu salah, tapi gimana dong, car ague berhenti?”
            Nah, kalo kebetulan kamu pumya temen lantas dia curhatnya begini, jawaban Ibrahim kayanya top banget buat kamu jadiin inspirasi. Urusan nasehatin orang, Ibrahim bin Adham tuh ngerti banget soal psikologi manusia. Contohnya aja kisah berikut ini.
            Suatu hari, seorang dowok yang kondang doyan banget maksiat, datang nemuin Ibrahim bin Adham. Cowok itu namanya Jahdar bin Rabi’ah. Mula-mula, Ibrahim sempet heran juga. Mau ngapain Jahdar nyari dia? Eh, rupanya Jahdar minta nasehat sama Ibrahim caranya supaya dia berhenti dari perbuatan maksiat. Nah, seru kan?
            “Ya Aba Ishak (panggilan Ibrahim bin Adham), saya ini orang yang doyan banget ngelakuin perbuatan maksiat. Tolong beri tahu saya, cara yang ampuh biar saya mau berhenti ngelakuin itu semua.”
            Setelah merenung sejenak, Ibrahim berkata, “kalo kamu mampu melaksanakan lima syarat yang aku ajukan, aku nggak keberatan kamu berbuat dosa.”
            Terang aja Jahdar bengong. Nggak salah, nih? Mau nanya gimana caranya supaya saya tobat, eh, malah dikasih peluang buat terus-terusan maksiat. Karena masih penasaran, Jahdar balik bertanya,
            “Ehm,..apa aja syarat-syaratnya, Aba Ishak?”
            “Syarat pertama, kalo kamu melaksanakan perbuatan maksiat, jangan kamu makan rezeki Allah!” ucap Ibrahim.
            “Terang aja Jahdar garuk-garuk kepala. Gitu-gitu juga, Jahdar ngerti kalo yang ngasih rejeki itukan Allah. Kemudian Jahdar bertanya dengan penuh keheranan,
            “Lho, lantas saya makan darimana? Bukankah segala sesuatu yang berada di Bumi ini adalah rezeki Allah?”
            “Makanya,” jawab Ibrahim dengan tegas , “Kalo emang kamu udah tahu begitu, apa masih pantes kamu makan rejeki dari Allah, sementara kamu terus-terusan melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintah-Nya?”
            “Waduh, iya juga sih,” jawab Jahdar malu-malu, “kemudian, apa syarat yang kedua?”
            “Kalo kamu bermaksia kepada Allah, kamu janga tinggal di bumi-Nya, “kata Ibrahim lebih tegas lagi.
            Kontan Jahdar berteriak kaget. “APA? Syarat ini lebih gila lagi! Lalu saya harus tnggal dimana?bukankah bumi ini denga segala isinya adalah milik Allah?”
            “Bener! Bener banget Jahdar temanku! Karena itu pikirkanlah baik-baik, apa kamu masih pantes memakan rejeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, sementara kamu terus berbuat maksiat?”Tanya Ibrahim.
            “Aduh, kam bener, Aba Ishak,” ucap Jahdar lesu, “lalu apa syarat yang ke tiga? “lanjutnya denga lemas dan juga penasaran.
            “Okelah! Kalo kamu masih ingin bermaksiat kepada Allah, tapi juga masih ingin makan rejeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, ya udah, cari aja tempat bersembunyi dari-Nya.”
            Jahdar yang udah mulai ngerti kea rah mana omongan Ibrahim bin Adham, menggeleng lemah. “Ya Aba Ishak, nasihat macem apa semua ini? Mana mungkin Allah nggak melihat kita?”
            “Ya, emang iya! Kalo kamu yakin Allah selalu melihat kita, tapi kamu masih ingin terus memakan rejeki dari-Nya, tinggal di bumi-Nya, dan terus melakukan maksiat kepada-Nya, apa kamu pantes melakukan semua itu?” Tanya Ibrahim pada Jahdar yang mulai Nampak bingung dan gelisah.
            Semua ucapan Ibrahim itu, yang disampaikan dengan tetap lemah lembut, membuat Jahdar bin Rabi’ah nggak berkutik dan membenarkannya. “Baik, baik, ya Aba Ishak. Lalu katakana sekarang, apa syarat keempat?”
            “Kalo malaikat maut datang mau mencabut nyawa kamu, bilang sama dia, kalo kamu beum mau mati Karena belum bertaubat dan masih pengen melakukan amal shaleh.”
            “Whaduuh,” kelu Jahdar, “nggak mungkin, nggak mungkin semua itu aku lakukan.”
            “Jahdar kawanku! Kalo kamu nggak bisa mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau bisa menghindar dari murka Allah?”
            “Kayaknya kamu memang bikin saya nggak bisa berkutik, Aba Ishak. Jadi, apa syarat ke lima?”
            “Yan terakhir, kalo malaikat Zabaniyah mau mengiring kamu ke neraka di hari kiamat nanti, kamu jangan mau. Cobalah tolak dia mati-matian, dan jauhi dia!”
            Lama Jahdar terdiam. Wajahnya menunduk, seolah ada burung yang bertengger di kepalanya. Lalu, perlahan-lahan butir-butir bening mulai bergulir dari sudut matanya. Jahdar, cowok tulen yang doyan maksiat itu, menangis penuh penyesalan.
            “Cukup….cukup, ya Aba Ishak! Jangan kamu teruskan lagi. Saya nggak sanggup lagi mendengarnya. Saya janji, mulai sat ini saya bakal istighfar dan taubat nasuha kepada Allah.”
            Jahdar memang menepati janjinya. Sejak pertemuan itu, ia bener-bener berubah.
            Semua itu terjadi karena Ibrahim bukan ngamuk-ngamuk menyalahkan Jahdar, tapi justru denga kelembutan sikapnya, Jahdar jadi taubat habis. Bahasa kerennya, Ibrahim mencoba berempati, bukannya menghakimi.
            Eh, kita kayaknya juga perlu begitu kalo ada kawan-kawan yang mungkin hidupnya agak-agak nyasar. Menghadapi yang kayak gitu, sikap lemah lembut penuh empati, tetep perlu, lho! Karena, Allah melarang kita merasa diri kita tu suci. Bahkan, ada ulama bilang, dosa itu malah bisa bikin manfaat kalo bikin pelakunya jadi kapok dan nggak mau balik lagi.
            So, jangan pernah merasa diri kita lebih baik dari orang lain ya…………

Cerita Sahabat Muslim 12



            Ibrahim & Do’a nggak maqbul
            Masih suka bingung, kenapa sih, meski kita sudah do’a, tapi rasanya kok, Allah belum kabulkan juga, ya? Selain ada kemungkinan ditunda dan di alihkan. Ada bagusnya kita dengerin tipsnya Ibrahim bin Adham tentang beberapa alasan kenapa do’a kita belum juga dikabulkan Allah SWT.
            Ceritanya gini, Suatu hari, Ibrahim bin Adham singgah di suatu kampong. Nah, orang-orang kampong yang udah pernah denger reputasinya, berduyun-duyun mendatangi Ibrahim. Biasalah, namanya juga udah jadi seleb di dunia sufi, jadi orang-orang kampong pada pengen dapet ilmu dari Ibrahim.
            Cuma, nggak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Ibrahim nggak bisa menghindar. Nah, pertanyaan yang paling banyak diajukan sama orang kampong itu adalah (dan kayaknya kita juga deh!)
            “Wahai Ibrahim, rasanya kami ini udah capek berdo’a dan berdo’a, tapi kok, rasanya Allah belum kabulkan juga.Bukankah Allah udah janji kalo kita berdo’a, pasti bakal dikabulin? Kenapa, ya?
            Nah, Ibrahim terdiam sejenak. Lalu, keluarlah jawabannya yang termasyur.

            “Kamu tahu kalo Allah itu Tuhanmu, tetapi kamu nggak menta’atinya. Kamu baca Al-Qur’an, tapi kamu nggak mengamalkannya.
            Kamu kan tahu, setan itu musuh yang nyata bagimu, tapi kok, kamu malah mengikuti jalannya.
            Kamu tahu kan, kalo pada dir Rasulullah SAW terdapat teladan yang baik, tapi kamu malah meninggalkan sunnahnya.
            Kamu pengen syurga, tapi kamu nggak beramal untuk mendapatkannya.
            Kamu takut sama api neraka, tapi kamu nggak menghalangi dirimu dalam menumpuk dosa.
            Kamu meyakini kalo kematian pasti datang, tapi kamu nggak nyiapin diri kamu untuk menghadapinya.
            Kamu menyibukan diri untuk mencari kesalahan orang lain, tapi nggak pernah melihat kesalahan sendiri. Kamu makan dari apa yang udah Allah karuniakan padamu, tapi kamu nggak pernah bersyukur pada-Nya
            Kamu melihat pemakaman, tetapi kamu nggak mengambil pelajaran.”

            Yang jelas, nasihat itu udah cukup bikin orang kampong itu pada menangis tersedu-sedu. Umumnya, mereka langsung sadar dan malu. Kok berani-beraninya ya, nyalahin Allah?
            Nah, kayaknya sebagian kita (termasuk saya juga) kebanyakan gitu, ya? Bisanya menuntut Allah SWT. Nggak sedikit diantara kita yang mencak-mencak dan ngomongi gini, “Huh! Sayakan udah do’a. katanya Allah janji mau ngabulin. Nyatanya?”
            Coy, Allah emang bener janji. Tapi jangan lupa, itu ayat ada syaratnya. Apa tuh? Nah, makanya baca ayat yang komplit. Si ayat seterusnya dibilang, “…..dan hendaklah mereka memenuhi seruan-Ku…..”
            Jadi, gimana? Masih juga mau meradang karena do’a nggak dikabul-kabulin sama Allah?
            Ngaca dulu, deh!

Sumber: Remaja bau sorga

Sabtu, 31 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 11


Ibrahim bin Adham dan Buah Delima

            Di dalam pengembaraannya, Ibrahim melakukan berbagai cara yang halal agar hidupnya berlanjut. Ia pernah jadi kuli pemecah biji gandum agar dapat memperoleh tepung untuk dibuat roti. Begitu roti masak, rotinya nggak dimakan sendiri, tapi dibagikan pada fakir miskin.
            Ia juga sibuk jadi pencari kayu bakar dan dijualnyua ke pasar/ uamg yang ia dapatkan, bukan Cuma buat dirinya tapi, di bagi-bagikan pada fakir miskin. Alhasil, sifat-sifatnya yang penyantun dan jujur itu membuat nama Ibrahim bin Adham jadi buah bibir di kalangan masyarakat.
            Uniknya, Ibrahim sendiri lebih suka menghindar. Jadi, wartawan infotainment ‘Baghdad Channel’, misalnya, susah banget bikin wawancara sama dia. Becandanya begitu. Tapi yang jelas, meski diomongin, banyak orang yang nggak tahu, kayak apa sih, Ibrahim bin Adham itu?
            Pada suatu hari, Ibrahim berniat ganti profesi. Maka, ia pergi kesuatu tempat yang letaknya jauh dari kota, dan melamar menjadi penjaga kebun buah-buahan milik orang kaya. Berbulan-bulan lamanya Ibrahim bekerja disana, majikannya itu jarang dating ke kebun. Wajar aja, namanya juga orang kaya, bisnisnya pasti banyak. Tapi, suatu siang sang majikan berkunjung ke kebunnya. Ia lalu menyuruh Ibrahim mengambil beberapa buah delima yang masak dan manis.
            Ibrahim buru-buru memetik delima-delima yang bergelantungan, dan segera menyerahkannya pada sang tuan. Tanpa melihat lagi, sang tuan langsung menggigit buah itu, dan……….
            “Phuiiiihhhhhhh!lho kok, masam sekali? Hei, aku bilangkan ambil yang manis. Ayo, ambilkan lagi buah delima yang lain!”
            Tanpa bicara, Ibrahim segera memetik kembali buah delima yang di maksud, dan lagi-lagi sang tuan mendapatkan buah yang mentah dan masam.
            Dengan kesal sang tuan berkata dengan Ibrahim, “Hei, sudah berbulan-bulan kamu bekerja di kebun ini. Tapi memilihkan delima yang masak dan manis saja kamu nggak becus. Bagaimana sih kamu ini?”
            “Oh, begini tuan,” jawab Ibrahim dengan tenang, “tugas sayakan Cuma menjaga kebun agar tidak dirusak oleh hewan atau supaya tidak diganggu oleh pencuri. Terus terang aja, saya sama sekali tidak pernah makan buah-buahan itu. Jadi, daya nggak tahu gimana rasanya delima asam atau manis.”
            Sang majikan terbengong-bengong mendengar jawaban aneh itu. Selama ini, jangankan mencicipi, tukang-tukang kebun sebelumnya nggak jarang malah menjual buah-buahan itu tanpa sepengetahuannya. Dia lalu menatap tukang jaga kebun itu dalam-dalam. Sementara, yang di tatap berdiri tenang denga cueknya. Pasti bukan orang sembarangan nih, piker sang pemilik kebun.
            Aha! Tiba-tiba sang pemilik kebun teringat sesuatu. Sebaga tokoh masyarakat yang gaul, sudah lama ia mendengar gossip-gosip seputar sosok Ibrahim bin Adham! Jangan-jangan….
            “Dengan keteguha dan kejujuran yang kamu miliki, hatiku berkata kamu pasti Ibrahim bin Adham!ya, kan? Ya, kan?” serunya kegirangan
            Nah, sekarang giliran Ibrahim yang terkejut. Aduh, ketahuan, deh! Serba salah neh jadinya.
            Tak lama sesudah peristiwa itu, Ibrahim bin Adham segera meminta berhenti sebagai penjaga kebun. Bukan Karena minder, tapi ia merasa identitasnya udah ketahuan orang. Padahal, ia adalah orang yang jujur yang sangat teguh memegang amanah. Tapi, bener-bener karena Allah, bukan mencari pujian orang.
            “Karena kamu udah tahu siapa aku,”kata Ibrahim, “maka aku mau berhenti aja.” Habis berkata begitu, Ibrahim pun pergi dan berlalu.


Jumat, 30 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 10


Ibrahim bin Adham : Pangeran jadi Pengelana



            Kali ini kita berkenalan dengan seorang aulia atau orang suci bernama Ibrahim bin Adham.
            Sebelum terjun menjadi seoprang sufi, dulunya ia adalah seorang pangeran dari kerajaan Balkh, yang sekarang ada di Negara Afghanistan. Namanya juga pangeran. Hidupnya pasti bergelimang kemewahan. Udah gitu, lebih banyak santainya dan hura-huranya, ketimbang ngurusin negaranya.
            Enak ya? Ternyata, nggak juga! Karena terlalu lama bermewah-mewah, bati Ibrahim mulai gelisah. Ia ingin sekali mencari jalan untuk lebih dekat sama Allah. Tapi, bagaimana caranya? Wong apa-apa udah di sediain. Mau apa aja tinggal dilayanin. Uh……bosen!
            Waktu terus berlalu, dan sampailah Ibrahim pada jadual berburunya. Sebagai pangeran, ia biasanya berburu di padang rumput dan hutan-hutan, tentu aja dengan diiringi seabreg punggawa, pengawal dan pelayan.
            Pada suatu malam, ketika usai memperoleh hasil berburu yang besar, Ibrahim tertidur lelap di tendanya yang mewah. Mendadak, ia mendengar suara seperti seseorang berjalan mondar-mandir di atas tendanya. Spontan ia berteriak,”Siapa Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?”
            Eh, suara itu menjawab,”Aku sedang mencari untaku di sini!”
            “Apa? Gila kamu! Mana mungkin mencari unta di atas tendaku seperti ini?”
            “Lho, kamu juga, “ balas suara itu,”mana mungkin kau akan menemui Allah di atas kemewahan seperti ini?”
            Suara itupun tiba-tiba menghilang. Ibrahim bin Adham terpana. Kata-kata itu langsung nancep di hatinya, nyangkut dalem banget nimbus kebatinnya!nah, lho!
            Iya, juga, ya? Kalo diem aja di atas kemewahan, nggak tahu bagaimana penderitaan di luar sana, bagaimana ia akan lebih mengenal dan merasakan nikmat-nikmat Allah?
            Bener juga, ya? Kita bisa tahu nikmat kekayaan, karena tahu rasanya kemiskinan. Tahu nikmatnya sehat, Karen akita sudah tahu rasanya sakit! Begitu seterusnya.
            Duh, asli deh, Ibrahim langsung jadi bête! Spontan ia bangkit dan meninggalkan tenda mewahnya malam itu juga, dengan cara diam-diam. Sejak sat itu ia memutuskan untuk pergi mengembara di jalan Allah. Ia tinggalkan hidupnya yang mewah dan pergi mengembara mencari kebenaran sejati. Yang hebatnya, sebagai orang kaya raya, Ibrahim enjoy aja tuh menikmati jalan hidup sederhana.
            Tapi kalo buat kamu-kamu, cara begini bukan buat mentaah-mentah ditiru, ya?bisa-bisa, ayah dan ibu kamu kumat sakit jantungnya. Masak, kabur dari rumah bilangnya mau ngikutin jejak Ibrahim bin Adham. Asal!
            Yang penting, niat Ibrahim yang mesti kita tiru : bersungguh-sungguh mencari kebaikan di jalan Allah. Belajar denga tekun dan bikin orang tua kamu bahagia, itu juga jalan Allah, lho…. 



Kamis, 29 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 10


Kisah Seru Habib & Hasan Al Basyri

            Dalam bersikap dan meyakini pertolongan Allah, Habib boleh dibilang polos banget. Suatu hari, tentara Al Hallaj mencari-cari dan mengejar Hasan Al Bashri. Al Hallaj ini seorang panglima perang kerajaan, yang terkenal kejam sama lawan-lawan politik Sulthan. Waktu itu, bisa dibilang Hasan Al Bashri termasuk ulama yang vocal kalo udah ngomong soal ‘amar ma’ruf nahy munkar’. Pihak istana mulai terasa gerah dengan omongan-omongannya, sehingga beliau dianggap pihak yang perlu ‘diamankan’.
            Nah, saat dikejar-kejar itu, Hasan Al Bashri sampai ditempat Habib biasa menyepi untuk beribadah. Beliau piker, karena Habib asalah muridnya, maka dia pasti bakal melindunginya dari kejaran tentara Al Hallaj. Maka, tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung masuk dalam pondokan Habib dan bersembunyi di sana. Melihat itu, Habib diem aja.
            Bener aja. Nggak lama kemudian, rombongan tentara al Hllaj sampai juga di tempat itu.
            “Hei, apakah kamu lihat Hasan Al Bashri lewat sini?”
Tanya komandan pasukan garang.
            “Aku nggak tahu. Silakan aja kalian periksa sendiri,”
Jawab Habib enteng.
            Tentara-tentara itu segera menggeledah tempat Habib berteduh. Hasan al Bashri yang mendengar jawaban Habib, kontan tercekat. Duh, kelewatan nih, si Habib. Bisa langsung kena jarring deh, gue! Gitu kali ya, di pikiran Hasan waktu itu. Tapi anehnya, seperti yang Hasan akui di kemudian hari, “Berkali-kali tentara Hallaj menyentuh tubuhku, tapi tak seorangpun yang sepertinya melihatku.”
            Akhirnya, tentara al Hallaj pergi. Merasa situasi sudah aman terkendali, Hasan pelan-pelan keluar dan menemui Habib, yang masih duduk tenang-tenang dan tersenyum melihatnya. Hasan tetap aja nggak bisa menyembunyikan rasa dongkolnya.
            “Habib, kamu bener-bener murid yang nggak tahu diri. Bukannya kamu melindungi saya, eh, kamu malah menyuruh tentara-tentara itu masuk,”ujarnya separuh kesal.
            “Guru,”jawab Habib sambil mesem, “Kalo tadi saya berbohong, niscaya mereka dengan gampangnya menemui kamu. Tapi disaat mereka masuk tadi, aku berdo’a, ya Allah, lindungilah Hasan. Dan ternyata, do’aku dikabulkan.”
            Disaat yang lain, Habib mendapat hadiah mantel bulu yang bagus, dan Hasan tahu itu. Suatu hari, saat Hasan al Bashri lewat di sebuah pemandian yang ada di tepi sungai Tigris, dia kaget melihat mantel bulu bagus milik Habib itu, tergeletak begitu saja.
            “Dasar Habib orang Barbar,”gerutu Hasan dalam hati,
“Mantel bulu maha;l seperti ini seenaknya aja di tinggal mandi.”
            Khawati kalo mantel milik muridnya hilang disikat maling, Hasan memutuskan menunggu sambil menjaga mantel itu. Saat Habib keluar dari pemandian, wajahnya langsung sumringah melihat Hasan.
            “Wahai imam kaum muslimin, apa yang kau lakukan di sini?”
            “Habib, lain kali, berhati-hatilah dengan barang milikmu sendiri. Ini barang mahal,”sahut Hasan separu sebel, melihat wajah Habib yang seakan nggak berdosa sebab sudah bikin dia nungguin mantelnya selama itu.
            “Oh, kutitipkan mantel itu sama Allah, dan kemudian Allah mengirimkan kamu untuk menjaganya.”


Rabu, 28 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 9


Habib Si Orang Asing

            Dia disebut Habib al’Ajami alias Habib si orang asing, lantaran lidahnya susah banget ngomong bahasa arab dengan benar
            Maklumin aja, Habib aslinya orang Persia, yang ditangkap dan dijadikan budak. Lantas, dia ditebus oleh Hasan Al Bashri, ahli Hadits, fiqih, ulama kondang dan juga seorang sufi yang tinggal di kota Bashrah (sekarang kota ini masih ada, di Irak). Zaman itu emang biasa tuh, kalo ada keributan atau perang, yang ditawan biasanya dijadikan budak, dijual sama yang menang dalam perang. Sejak itu Habib belajar di bawah bimbingan Hasan Al Bashri.
            Semula, hidup Habibi ini basa-biasa aja. Biarpun udah belajar sama Hasan al Bashri, lidahnya nggak juga fasih. Tapi biar gimana, ibadahnya top banget! Boleh dibilang, sejak belajar sama Hasan, hidupnya jadi Full mikirin Allah melulu, sampe-sampe istrinya sempet kesel.
            “Kamu kemana aja, sih? Pendaringan (tempat menaruh beras) udah mau kosong begini, kamu tenang-tenang aja. Kerja apaan, kek!” omel istrinya. Omelan sayang sih. Sebab, kalo nggak ngomel ngeliat suami nganggur, bukan istri yang cinta tuh, namanya.
            “Eh……”Habib mikir keras. Sempet bingung juga. Mau bilang kerja, emang nyatanya dia lebih banyak asyik ibadah. “Sabarlah istriku, sayang”, kata Habib, “aku ini bekerja sama bos yang pemurah banget! Tiap tiga hari sekali, upahku pasti dibayar.”
            Sebetulnya Habibi asal ngomong doing, yang penting istrinya senang. Habib sendiri tetap asyik mashyuk beribadah. Cuma, begitu masuk hari ketiga yang udah diujung sore, Habib mikir juga.
            “Waduh, ntar kalo istriku Tanya soal beras, gue mesti jawab apa ya?” gitulah mungkin kira-kira Habib mikir lok dia ada di Zaman sekarang.
            Diriwayatkan, tanpa dia tahu, saat itu di rumahnya datang dua orang bawa makanan banyak banget. Ada madu, daging domba guling, tepung, wah, pokoknya kalo semua dibandingkan sama zaman sekarang, satu mini market di bawa ke rumah, deh! Istri Habib jelas terkejut, tapi dia inget janji suaminya, kalo tiap tiga hari upahnya bakal dibayar.
            Bener juga, apalagi pas pulang, si tamu ngomong gini,
            “Sampaikan pada suamimu agar dia melipatgandakan usahanya. Nanti majikan kami bakal ngebayar lebih banyak lagi.”
            Nah, enggak lama kemudian, Habib pulang dengan hati yang kebat-kebit. Udah kebayang deh, muka istrinya bakal kayak apa ditekuknya. Tapi, lho kok, aneh bin ajaib. Wajah manis yang lebih manis dari gula jawa, yang justru nyembul menyambut kepulangannya.
            “Suamiku sayang, kamu bener-bener kerja sama bos yang pemurah banget, ya? Liat aja apa yang kita dapet hari ini!”
            Waktu Habib masuk rumah, dia bengong melihat apa yang udah tumplek-bleg di rumah itu. Tapi buru-buru dia sadar, kalo inilah janji Dia Yang Maha Kaya! Sejak saat itu, Habib makin giat mendekatkan diri pada Allah Ta’ala.
            Tentu aja ini bukan berarti kita bisa seenaknya aja menyimpulkan, ‘ah, kalo gitu gue ibadah aja di masjid terus-terusan. Nggak usah kerja, nggak usah ngapa-ngapain, nanti juga bakal dijamin rezekinya sama Allah!” bukan gitu!JANGAN LUPA!, khalifah Umar bin Khattab r.a juga pernah menghardik seorang pemuda, yang beliau lihat terus-terusan nongkrong di masjid sambil nangis-nangis minta rejeki, sementara matahari sudah tinggi.
            “KELUAR KAMU! Rejeki adanya di pasar, bukan di masjid!” gitu kira-kira tegoran Umar sama pemuda itu.
            Hemat saya, kejadian ini lebih kasuistik pada seorang Habib, tapi nggak bisa digeneralisir sama setiap orang. Kalo kit abaca kisah sufi-sufi yang lain, kita bakal tahu kalo diantara mereka ada yang menjadi pedagang kaya raya juga. Jadi, kalopun terjadi pada Habib, saya lebih melihatnya sebagai bentuk karunia khusus dari Allah pada Habib al Ajami.
            Dan, hikmah dari kisah ini tetap ada. Yaitu, kalo kita emang berusaha sekuat tenaga deket sama Allah, ada lho yang namanya rezaki yang min haytsu laa yah tasib, alias ‘rejeki dari arah yang tidak di sangka-sangka’!
            Nah, kalo ini, ayat Al-Qur’an lho, adanya di surah ath-Thalaq ayat2! Ayat yang menjamin rejeki Allah bagi mereka yag bertaqwa ini, sering dibilang ‘ayat 1000 dinar’.
            Percaya deh, dalam keadaan-keadaan tertentu, disaat mana kita merasa udah mentok nggak ada jalan untuk mendapatkan rejeki, nah, disitu biasanya muncul rizki dari arah yang nggak disangka-sangka itu. Eh, nggak usah heran! Jalanin aja…..

Sumber: Remaja Bau Surga

Senin, 26 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 8


Kisah-kisah Seru Tentang Bisyr
Ya, sejak taubat dan deket sama Allah, Bisyr emang dapet banyak banget pencerahan. Misalnya aja, suatu malam, Bisyr datang ke rumah adik perempuannya. Tahu Bisyr mau dating, ia sudah sibuk menyapu dan mengepel rumahnya, lalu menunggu kedatangan Bisyr dengan penuh harap. Eh, tahu-tahu, Bisyr datang seperti orang yang sangat kebingungan.
“Adikku, aku mau naik kea tap, ya?” katanya.
Bisyr lalu naik tangga beberapa langkah. Tapi, belum juga sampe kea tap, dia berhenti dan terus diem aja di sana, sampai esok harinya. Adik Bisyr Cuma bisa heran melihat kelakuan kakaknya itu. Waktu fajar tiba, Bisyr baru turun, dan pergi ke masjid untuk shalat.
            “Kak, ngapain  kamu berdiri kayak gitu sepanjang malam?” Tanya adiknya ketika Bisyr pulang dari masjid.
            Bisyr menjawab,”Saya lagi mikir, ada begitu banyak orang yang namanya Bisyr di Baghdad; ada yang Yahudi, ada yang Kristen, dan ada yang Majusi. Nama saya juga Bisyr, tapi saya mendapat anugerah yang sangat besar, yakni keislaman saya. Nah, saya Tanya sama diri saya sendiri, apa yang membuat Bisyr-Bisyr yang lain nggak menerima anugerah islam, dan apa yang telah saya lakukan sampai-sampai saya mendapatkan anugerah yang begitu besar ini? Saya benar-benar bingung, dan itulah yang membuat saya mematung ditangga rumahmu.”
            Rasa empati Bisyr juga terkenal tinggi sama penderitaaan orang lain. Seorang sufi mengisahkan kalo suatu kali, dia memutuskan menemui Bisyr, ketika cuaca saat itu bene-bener dingin. Eh, dia malah melihat Bisyr nggak pake baju. Terang aja Bisyr menggigil kedinginan.
            Penasaran, sufi itu bertanya,”Abu Nashr, di cuaca dingin seperti ini orang-orang biasanya mengenakan pakaian ekstra, kamu kok, malah mel;epas bajumu?”
            Tahu kagak, apa yang dijawab Bisyr?
            “Ya, saya jadi ingat pada orang-orang miskin. Saya kagak punya uang untuk membantu mereka, jadi saya pengen berbagi rasa dengan mereka.”
            Ya, begitulah pandangan hidup Bisyr. Udah susah aja, dia masih mikirin orang lain. Konon, menjelang ajalnya, Bisyr berbaring di tempat tidur. Eh, seorang lelaki masuk dan mengeluh tentang kejamnya nasib. Tanpa ba-bi-bu lagi, Bisyr memberikan pakaiannya kepada lelaki itu dan ia sendiri mengenakan pakaian pinjaman. Dengan mengenakan baju itulah Bisyr meninggal dunia.
            Bisa jadi, karena hal-hal yang mulia itu, Bisyr juga mendapat anugerah istimewa dari Allah. Tapi sebetulnya, dia nggak suka kalo hal-hal itu disebutin ma orang lain sehingga orang lain tau. Ini lagi-lagi menunjukkan kerendahan hatinya. Ahmad ibnu Ibrahim bercerita, kalo suatu hari Bisyr berkata, “Beri tahu ma’ruf, kalo saya akan menemuinya setelah saya selesai berdo’a.”
            Maka, Ahmad pun menyampaikan pesannya pada Ma’ruf, dan mereka berdua menunggunya. Lama ditunggu, keduanya lalu mendirikan shalat Dzuhur, namun Bisyr belum juga datang. Mereka pun melanjutkan shalar Ashar. Bahkan Bisyr belum juga dating sampai saat mereka mendirikan shalat Maghrib dan Isya.
            “Maha suci Allah,” gumam Ahmad dalam hati, “apa mungkin orang seperti Bisyr mengingkari janji? Ini kagak lazim.”
Mereka berdua terus menunggu, di masjid yang memang terletak di tepi sungai Tigris. Eh, akhirnya dari kejauhan terlihat Bisyr dengan sajadah di tangannya. Nah, waktu ia mencapai sungai Tigris, ia santai aja berjalan di atas air dan mendatangi mereka.
Singkat, ia dan ma’ruf ngobrol sampai fajar. Selesai ngobrol, lalu ia kembali berjalan di atas air. melihat
Seheboh apa pun karomah yang mereka dapat lakukan, umumnya
mereka kagak seneng kalo hal itu diketahui
sama banyak orang. Jadi, kalo ada orang mengaku-ngaku wali, tapi
 kerjanya pamer keajaiban, kita boleh curiga tuh.


Itu, Ahmad serasa limbung saking takjubnya. Ia buru menghampiri Bisyr dan mencium tangan serta kakinya.
“Do’akan saya,” lalu Bisyr berkata,”Jangan kamu ceritakan apa yang kamu lihat kepada siapapun.”
Dan memang, Ahmad kagak pernah menceritakan kejadian tersebut kepada siapapun selama Bisyr masih hidup.
Sepanjang yang saya tahu, seperti itulah sikap para sufi yang soleh. Seheboh apapun karomah yang mereka dapat lakukan, umumnya mereka kagak pernah seneng kalo hal itu diketahui sama banyak orang. Jadi, kalo ada orang yang mengaku-ngaku wali tapi kerjanya pamer keajaiban, kita perlu curiga tuh.
Nah, semua hal-hal itu tentu kagak didapat Bisyr secara gratisan! Semua itu “Cuma” buah dari ketaatan dan sikap-sikap yang mulia juga. Makanya, Bisyr pernah cerita kalo suatu malam ia bermimipi ketemu sama Nabi Muhammad SAW. Dalam mimipi itu, Beliau SAW berkata,
“Bisyr, tahukah kamu mengapa Allah memilihmu dari antara orang-orang sezamanmu dan telah mengangkatmu ke posisi yang tinggi?”
“nggak tahu, wahai Rasulullah,” jawab Bisyr.
“Itu karena engkau mengikuti sunnahku, menghormati orang-prang sholeh,  member nasihat yang baik kepada saudaramu, serta mencintaiku dan ahlul baitku, karena itulah Allah telah menaikkanmu ke maqam para wali.”



Minggu, 25 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 7


Kenapa Bisyr Bertelanjang kaki

            Sejak kejadian itu, Bisyr bertobat abis. Hari-hari dugemnya lewat, berganti dengan hari-hari mukti alias mendekatkan diri kepada Allah SWT di masjid. Air matanya sering bercucuran karena malu mengingat dosa-dosa yang telah ia lakukan.
            Dikisahkan, saking sangat seriusnya bertobat, Bisyr nggak segan mendatangi Imam Ahmad bin Hanbal, seorang imam dan tokoh hukum islam yang terkenal pada masanya. Pada Imam Ahmad, Bisyr meminta bimbingan agar bisa ibadah lebih baik dan lebih baik lagi.
            Subhanallah. Ternyata Bisyr justru lebih giat ibadahnya. Lama-lama, ketekunan Bisyr mendekatkan diri kepada Allah, jadi mahsyur, jadi terkenal dimana-mana. Dari seorang dugemers, ia kini malah kondang sebagai seorang sufi yang begitu asyik mencintai Allah, lebih dari seseorang yang merindukan seorang kekasihnya.
            Bahkan, Imam Ahmad bin Hanbal yang membimbingnya bertaubat kepada Allah, pada akhirnya malah gentian sering berkunjung ke rumah Bisyr. Soalnya, Imam Ahmad merasa bahwa ketaatan ibadah Bisyr justru lebih bagus daripada dirinya. Emang dasar Imam Ahmad orangnya rendah hati juga, sih. Maka, jika bertemu, biasanya Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Wahai Bisyr, ceritakan kepadaku tentang tuhanku.”
            Dari seorang pemuda gaul yang tukang ngedrugs, preman yang tukang bikin onar, Bisyr kini dikenal sebagai pemuda alim, amat taat dan dekat kepada Allah SWT. Oya, sedemikian malunyanya Bisyr sama Allah, suatu hari Bisyr bertekad nggak akan mau lagi pakai alas kaki alias nyeker nggak pake sandal. Ketika ditanya kenapa beliau melakukan itu, Bisyr menjawab,
            “Aku udah begitu banyak berbuat dosa, oleh sebab itu aku malu banget sama Allah. Karenanya, aku merasa nggak pantes menginjak bumi-Nya yang suci ini sambil pakai sepatu atau sesuatu.”
            Jadi, sejak saat itu, karena ogah pake alas kaki, kini Bisyr dikenal dengan julukan baru: Bisyr “si kaki telanjang”. Eh, konon, sejak saat itu, tak satupun binatang tunggangan, seperti keledai dan unta, yang buang hajat sembarangan di jalan-jalan kota Baghdad. Seolah-olah, binatang-binatang itu nggak mau mencemari kaki Bisyr dengan kotoran mereka.
            Yah, begitulah. Sampai suatu hari, seorang sufi berjalan memasuki ota Baghdad dengan keledai tunggangannya. Tiba-tiba ia terkejut melihat keledainya membuang hajat di tengah jalan. Keledainya menunduk sedih dan berseru, “Wahai, Bisyr si kaki telanjang telah tiada.”
            Wah, ternyata benar!saat itu, Bisyr memang wafat dengan tenang. Sang sufi tahu hal itu, karena saat Bisyr masih hidup, keledai-keledai tak mau membuang hajat sembarangan. Jadi, begitu keledai sudah buang hajat sembarangan, itu artinya Bisyr memang sudah tiada.

Jumat, 23 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 6


Bisyr Ibnu Al-Harits Si Kaki Telanjang

Nah, sekarang kita kenalan yuk sama seorang sufi yang mulanya adalah penikmat dunia banget, khususnya dunia gemerlap alias “Dugem”
Namanya Abu Bisyr Ibnu Al-Harits Al-Hafi, beliau lahir di dekat Merv pada tahun 150 H/767 M, dan dijuluki si kaki telanjang. Ia hidup sezaman dan bahkan bertemu dengan Imam Ahmad bin Hambal, seorang ulama ahli hukum islam terkenal. Ia wafat di Baghdad pada tahun 227 H/841 M. Ia dikagumi oleh Imam Ahmad Ibnu Hambal dan dihormati oleh khalifah al Ma’mun.
Ketika masih muda, akibat pergaulan, Bisyr gemar berfoya-foya. Pada masa itu, Baghdad sudah jadi kota cosmopolitan dengan berbagai bangsa. Jadi, banyak diantara mereka yang membentuk perkumpulan hura-hura di sana. Nah, Bisyr adalah pemuda yang cool dan tampan, tak heran jika ia menjadi bintang di berbagai perkumpulan “dugem” itu. Ia gemar minum anggur sampai mabuk, dan pulang dalam keadaan teller. Begitulah setiap harinya si Bisyr itu.
Pada suatu malam, dalam keadaan mabuk, Bisyr berjalan terhuyung-huyung menyusuru lorong-lorong kota Baghdad untuk kembali ke rumahnya. Malam telah larut dan sepi. Sementara lampu-lampu jalan berkelap-kelip dan bergoyang ditiup oleh angin, tubuh Bisyr bergoyang karena teller, alias mabuk, persisi gaya Jackie Chan di dalam filmnya saat ia keluarkan jurus mabuknya.
Tapi , ah, ada-ada aja deh, cara Allah menegur hamba-Nya. Di sebuah jalan, tiba-tiba Bisyr melihat secarik kertas tampak bergerak-gerak di tiup angin. Mata Bisyr menyipit dan ia membungkuk memperhatikan kertas itu, yang tampak bertuliskan sesuatu. Meski dalam keadaan teller, Bisyr masih sempat membacanya. Wah, ternyata di kertas tersebut bertuliskan lafadz Allah.
Waduh, meski dalam keadaan teller, Bisyr kaget buka main. Diciuminya kertas itu dengan gemetar, lalu ia menyimpan kertas itu dalam lipatan bajunya dengan hati-hati. Sampai di rumah, ia member harum-haruman pada kertas itu, diletakkannya kertas itu pada atas lemari dan kemudian ia pun rebah tertidur dengan pulasnya. Ah, dasar prema sholeh!
Malam itu juga, seorang sufi yang tinggal di kota Baghdad, bermimpi. Seorang malaikat datang kepadanya, dan menyuruhnya untuk pergi menemui Bisyr. Dalam mimpinya, malaikat itu berkata, “Katakan pada Bisyr bahwa Allah SWT mengirim salam kepadanya, karena telah menjaga dan memuliakan nama-Nya.”
Sang sufi kaget dan terbangun. “Nggak mungkin!” Gumamnya. “Bisyr kan, seorang pemabuk. Aku pasti digoda syaiton.”
Sang sufi lalu berwudhu dan kembali tidur. Namun lagi-lagi mimpi itu datang lagi. Kedua kali, ia masih belum mau percaya. Ia kembali berwudhu dan tidur lagi. Namun, karena dalam tidurnya ia kembali bermimpi hal yang sama, sang sufi sadar bahwa mimpi itu bukan sekedar bunga tidur.
Keesokan harinya, sufi itu pergi mencari Bisyr. Masya Allah, dia menjumpai Bisyr di tengah pasar, dan seperti biasanya, Bisyr sedang minum anggur bersama teman-temannya. Sang sufi hanya bisa mengelus dada, namun ia ingat akan pesan malaikat dalam mimpinya yang harus ia sampaikan pada pemuda yang bergajulan itu.
“Assalamu’alaikum, mas Bisyr! Maaf ni, kalo saya ganggu. Lagi sibuk ya?”
Bisyr sempat kaget juga ditegur orang tua itu. Kalo yang menegur keamanan pasar sih, biasa. Tapi orang tua ini, ya ampun. Bisyr sampai menyembunyikan botol anggurnya saking malunya. Yang menegurnya adalah seorang sufi ahli ibadah. Malu-malu, Bisyr menjawab,
“Oh, eh, ya…nggak juga sih. Ada apa, oom, eh,   tuan sufi?”
Sang sufipum menceritakan mimpi yang dialaminya semalam. “Nah, Bisyr, kamu tuh, dapet salam dari Allah SWT, karena kamu telah menjaga dan memuliakan nama-Nya.”
Usai ngomong begitu, sang sufi segera pergi, meninggalkan Bisyr yang termangu. Barulan Bisyr sadar dan ingat pada kertas bertuliskan lafadz Allah yang ia simpan malam itu. Lama dia berfikir. Perlahan-lahan, entah datang darimana, muncul perasaan gelisah luar biasa. Sampai akhirnya, tiba-tiba Bisyr teriak:
“Aduh, kalo gitu, tentu saya nggak pantes lagi terbenam dalam hal-hal semacam ini.”
Spontan Bisyr membuang botol anggur yang sedang ia pegang, dan lari pontang-panting meninggalkan teman-temannya yang terbengong-bengong menyaksikan kejadian itu.
Dikisahkan, Bisyr menangis sejadi-jadinya, karena tobat dan malu abis sama Allah. Sejak itulah dia berpaling dari dunia gemerlapnya, dan menekuni jalan para sufi.
Nah, sejak ia tekun di jalan Allah itulah, Bisyr berubah total. Sederhana abis! Konon, selama empat puluh tahun, Bisyr pengen banget makan daging panggang, tapi ia kagak punya uang untuk membelinya. Selama bertahun-tahun hatinya pengen makan buncis, tapi kagak kesampaian. Ia juga konon sampe nggak pernah minum air yang berasal dari sumber air yang digali pemerintah.


Kamis, 22 Oktober 2009

Cerita Sahabat Muslim 5


Putra ABU Amir Al-Makky



Abu Amir al Maki dikenal sebagai seorang sufi. Agak beda dengan sufi-sufi lainnya, yang biasanya jarang menyebut-nyebut istri, Abu Amir terkenal kesalehannya bareng istrinya.
Mereka tinggal di Mekkah. Kesalehan dan kebaikan hati mereka berdua sangat terkenal, sehingga mereka sangat dihormati oleh tetangga-tetangga mereka. Apalagi, Abu Amr juga dikenal sebagai ahli ilmu agama dan rajin mengajarkannya kepada semua orang. Yah…jadi para tetangga lebih hormat deh ma beliau.
Nah, Abu Amir ini memiliki seorang putra yang masih balita. Namanya juga anak anak orang sholeh, sejak kecil anak itu sudah diajarkan untuk selalu mengingat Allah SWT. Cuma, cara pengajarannya yang dilakukan oleh Abu Amir dan istrinya itu sedikit unik. Salah satunya adalah waktu makan tiba.
Setiap kali anak mereka minta makan, maka Abu Amir menyuruh sang anak untuk pergi ke jendela dan berdo’a minta apa yang kira-kira ia pengen makan.
Namanya juga anak-anak, maka do’anya kagak repot-repot amat. Jadi, anak itu biasanya bakal nyebutin roti kesukaannya. “Ya Allah, beri aku roti….”
Nah, saat anaknya berdo’a itulah, Abu Amir dan istrinya sibuk menyiapkan makanan yang diminta oleh sang anak tersebut. Ketika siap, baru kemudian mereka memanggil sang anak.
“Nah anakku, lihat…..Allah telah mengabulkan do’a kamu, sayang!”.
Begitulah, setiap hari beliau mendidik anaknya tersebut. Sampai suatu saat, Abu Amir dan istrinya harus keluar rumah untuk suatu keperluan. Setelah sang anak ditidurkan, mereka berdua kemudian pergi. Sayangnya perhitungan mereka sedikit meleset. Semula mereka fikir pergi nggak bakal lama. Tapi, wah, urusan diluar itu malah semakin panjang dan akibatnya mereka baru bisa kembali ke rumah saat dzuhur hamper tiba.
Pada saat itu Abu Amir dan istrinya ingat bahwa anak mereka belum makan. Dan yang lebih merisaukan lagi, makanan itu belum mereka siapkan. Sambil bergegas separuh panic, mereka buru-buru kembali ke rumah.
Tapi…….
Alangkah kagetnya mereka ketika tiba di rumah. Semula mereka membayangkan putra mereka sedang menangis karena lapar dan haus. Namun yang mereka temukan, si anak sedang duduk tenang-tenang di ruang tengah, sambil mulutnya mengunyah roti dan makanan lainnya, yang biasa mereka hidangkan.
Terheran-heran, dengan hati-hati mereka bertanya pada si anak
“Anakku sayang, siapa yang member semua makanan ini semua padamu?”
“Lho…..aku kan tinggal minta sama Dia yang memberiku roti setiap hari,” jawabnya tenang dan lugu.
Mendengar hal itu, sadarlah Abu Amir dan istrinya, bahwa anaknya sudah mengenal Allah SWT.
Jadi kalo kita ingin Allah dekat sama kita, gantungkan saja harapan hanya kepada-Nya. Insya Allah, akan banyak hal-hal luar biasa yang bakal menghampiri keseharian kita.
Kagak percaya?coba aja!

Sumber: Teguh Iman Perdana dalam bukunya Remaja bau sorga.